Comscore Tracker

Duterte akan Kirim Kapal AL ke Laut China Selatan

Upaya menegaskan yuridiksi wilayah Filipina

Manila, IDN Times - Masalah Laut China Selatan antara Tiongkok dengan beberapa negara yang bersangkutan terus memanas, terutama dengan Filipina. Presiden Filipina Rodrigo Duterte pada hari Senin (19/4) mengatakan akan mengirim kapal Angkatan Laut (AL) ke zona ekonomi eksklusifnya untuk mengklaim sumber daya di wilayah tersebut.

Duterte mengakui bahwa tidak akan mungkin menang jika berperang langsung dengan Tiongkok. Akan tetapi, ia ingin menegaskan wilayah yurisdiksnya atas perairan yang disengkatan oleh banyak negara tersebut.

1. Ancaman Duterte kepada Tiongkok

Duterte akan Kirim Kapal AL ke Laut China SelatanRodrigo Duterte memberi hormat kepada barisan pasukan polisi Filipina (Instagram.com/rodyduterteofficial)

Ketegangan terbaru antara Tiongkok dengan Filipina adalah karena adanya ratusan kapal besar Tiongkok yang berada di Whitsun Reef pada bulan Maret lalu. Tiongkok mengklaim bahwa itu adalah kapal nelayan yang sedang mencari perlindungan karena cuaca buruk. Namun para pengamat menilai itu bukanlah kapal nelayan dan aktivitas kapal-kapal tersebut mencurigakan.

Jumlah kapal Tiongkok yang terpantau dari satelit saat itu lebih dari 200 kapal.

Presiden Duterte pada hari Senin berujar siap untuk mengirim kapal militernya ke Laut China Selatan yang disengketakan. Melansir dari kantor berita Reuters, Duterte dalam pidatonya mengatakan bahwa dirinya tidak begitu tertarik dengan memancing.

"Saya tidak berpikir ada cukup ikan untuk diperdebatkan. Tapi ketika mulai menambang, ketika mulai mendapatkan apa pun yang ada di perut Laut Cina, minyak kita, pada saat itu saya akan mengirim kapal abu-abu saya ke sana untuk mengajukan klaim," kata Duterte.

Duterte mengancam jika terjadi pengeboran minyak di wilayah yang disengketakan, maka ia akan memberi tahu Tiongkok apakah sudah ada kesepakatan yang dibangun. Dan jika itu berlanjut, maka Filipina juga akan melakukan pengeboran minyak yang sama di wilayah tersebut.

2. Penipuan terang-terangan Tiongkok terhadap Filipina

Baca Juga: Filipina-Amerika Serikat Gelar Latihan Militer Gabungan 'Balikatan'

Para pejabat Filipina telah menuntut agar kapal-kapal Tiongkok yang berada di zona ekonomi eksklusifnya untuk ditarik dan dipulangkan. Para petugas penjaga pantai Filipina masih melihat lebih dari 200 kapal Tiongkok berada di Whitsun Reef pada 16 April lalu.

Duterte dikritik oleh salah satu tokoh oposisi Filipina. Melansir dari laman Al Jazeera, Leila de Lima mengatakan jika Duterte dan militer gagal menghadapi Tiongkok serta melanjutkan "kebijakan merendahkan diri di hadapan Tiongkok," Duterte terbukti merusak integritas wilayah Filipina.

Sejak Duterte menjadi Presiden Filipina, ia telah membangun hubungan baik dengan Beijing dan secara agresif mengeluarkan retorika yang menyerang Washington. Duterte bahkan mengancam akan memutus aliansi militer Filipina-AS saat itu.

Di sisi lain, Beijing menawarkan beragam bantuan dan pinjaman kepada Filipina. Beijing membangun persahabatan mesra dengan Manila. Kini, semua sepertinya akan berubah.

Salah satu tokoh oposisi Filipina lainnya yang bernama Risa Hontiveros, ia mengatakan bahwa sudah waktunya Duterte mengakhiri hubungan baik dengan Tiongkok. Ia menganggap Tiongkok telah melakukan "penipuan yang terang-terangan."

"Tiongkok benar-benar berniat menolak cara diplomatik apa pun untuk menyelesaikan perselisihan kita," kata Hontiveros.

3. Tidak mungkin menang melawan Tiongkok jika perang terjadi

Tiongkok telah mengklaim hampir sebagian besar perairan Laut China Selatan. Bagian itu termasuk di antaranya Laut Filipina Barat yang masuk dalam zona ekonomi eksklusif. Menurut Duterte, kekerasan bisa muncul dengan Tiongkok ketika saling klaim wilayah sengketa terjadi.

Melansir dari laman CNN Philippines, Duterte dalam pidatonya pada Senin malam mengatakan "tidak mungkin kita bisa mendapatkan kembali laut (Barat) Filipina tanpa pertumpahan darah," katanya.

Ia juga menegaskan bahwa Filipina tidak mungkin menang melawan Tiongkok jika perang berdarah terjadi. Meski begitu, jika Tiongkok terbukti melakukan aktivitas pengeboran dan pengambilan material berharga di wilayah sengketa, Duterte menegaskan akan mengirim kapal militernya.

"Jika mereka mengebor minyak, nikel, dan batu mulia lainnya, itulah saatnya kita harus menindaklanjutinya," ucap Rodrigo Duterte.

Pada tahun 2013, Filipina mengajukan keberatan atas aktivitas Tiongkok di wilayahnya kepada Mahkamah Arbitrase Internasional di Den Haag, Belanda. Pada tahun 2016, Mahkamah memutuskan agar Tiongkok melakukan penghentian aktivitas pembangunan di terumbu karang yang disengketakan karena itu melanggar Konvensi PBB.

Meski begitu, Tiongkok secara tegas menolak keputusan Mahkamah Arbitrase Internasional. Apapun putusan mahkamah, Tiongkok mengatakan tidak akan “menerima, mengakui, atau melaksanakan."

Baca Juga: Filipina Kerahkan Jet Tempur di Laut China Selatan

Pri Saja Photo Verified Writer Pri Saja

Petani

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya