Comscore Tracker

Profil Kemal Ataturk, Presiden Pertama dan Bapak Modernisme Turki

Kemal Ataturk akan menjadi nama salah satu jalan di Jakarta

Jakarta, IDN Times - Mustafa Kemal Ataturk. Itulah nama lengkapnya. Nama itu rencananya akan dijadikan sebagai nama sebuah jalan di Jakarta, terkait hubungan kerja sama Indonesia-Turki.

Polemik kemudian muncul karena banyak pihak yang menentang rencana tersebut. Mereka tidak sepakat jika nama Ataturk dijadikan sebagai nama jalan.

Lalu siapa sebenarnya Mustafa Kemal Ataturk?

Berikut profil lelaki yang selama puluhan tahun disebut sebagai Bapak Republik Turki Modern, namun juga memiliki sejumlah kontroversi, khususnya di kalangan umat muslim.

1. Mustafa Kemal Ataturk komandan perang yang tangguh

Profil Kemal Ataturk, Presiden Pertama dan Bapak Modernisme TurkiWajah Kemal Ataturk hampir selalu bersanding dengan bendera nasional Turki. (Pexels.com/elif weasley)

Secara geografis, posisi Turki terbilang unik. Dia berada sebagai jembatan antara Asia dengan Eropa. Lintasan geografis Turki menjadi salah satu wilayah yang kaya akan sejarah peradaban dan peperangan di masa lalu.

Sebagian besar penduduk Turki beragama Islam. Mereka hidup dalam suasana sekularisme sejak 1923, ketika Mustafa Kemal Ataturk menjadi Presiden pertama Turki.

Lahir pada 19 Mei 1881 di Selanik, yang saat ini bernama Thessaloniki wilayah Yunani, dia adalah adalah sosok yang dipuja. Ataturk dianggap sebagai seorang pembaharu yang memimpin lokomotif untuk menarik Turki ke kehidupan modern.

Namanya menjadi tersohor di kalangan penduduk Turki pada 1915, ketika dia dengan gagah berani memimpin pasukan yang menghancurkan upaya invasi pasukan Inggris, Prancis, Australia, dan Selandia Baru di Semenanjung Gallipoli.

Pasukan sekutu berharap dapat merebut selat Dardanela, untuk membuka jalan menaklukkan kota agung Istanbul. Tapi upaya itu digagalkan oleh pasukan yang dipimpin oleh Ataturk.

Dalam pertempuran ini, lebih dari 100 ribu prajurit tewas dari kedua belah pihak. Kemenangan diraih oleh Dinasti Ustmaniyah Turki, yang pasukannya dipimpin oleh Kemal Ataturk.

Salah satu kalimat terkenal dari Ataturk kepada pasukannya dalam pertempuran itu adalah "Saya tidak memberi kalian perintah untuk menyerang, saya memerintahkan kalian untuk mati!"

Itu adalah perintah ketika pasukannya berada di parit pertahanan, mempertahankan wilayah Turki dari gempuran pasukan Sekutu.

Baca Juga: Waketum MUI Tak Setuju Kemal Ataturk Turki Akan Jadi Nama Jalan di DKI

2. Kekalahan Ustmaniyah dan reformasi menuju Turki modern

Profil Kemal Ataturk, Presiden Pertama dan Bapak Modernisme TurkiPasukan Sekutu mendarat di Gallipoli (Wikipedia.org/ Archives New Zealand)

Pertempuran di Perang Dunia Pertama membuat aliansi Turki-Jerman lantak oleh gabungan pasukan Sekutu. Dinasti Ustmaniyah Turki kalah dan harus menandatangani pembagian wilayah pada 1920.

Kemal Ataturk yang kecewa dengan putusan pemerintah Ustmaniyah, memimpin Gerakan Nasional Turki (Turk Ulusal Hareketi) untuk melakukan perang kemerdekaan. Dia memimpin pasukan melawan Sekutu yang menduduki Istanbul dengan Ankara sebagai basis utama pasukannya.

Akhirnya, mereka memenangkan peperangan dan dia dijunjung sebagai pahlawan kemerdekaan. Selanjutnya, pada 1 November 1922, dinasti Ustmaniyah Turki dihapus dan Turki berubah jadi negara Republik.

Di bawah rezim Kemal Ataturk, Turki melakukan reformasi besar-besaran, menyeretnya menjadi negara yang lebih sekuler, demokratis, dan nasionalis ketika ia ditahbiskan menjadi presiden pertama.

Ahmed El Amraoui dan Faisal Edroos dari Al Jazeera menyebut, mata biru yang dimiliki oleh Ataturk mendominasi lanskap peradaban Turki modern selama puluhan tahun di masa mendatang.

Rakyat Turki memberikan penghormatan yang besar kepadanya. Mantan Komandan Jenderal Pasukan Gendarmerie Turki, Sener Eruygur, menyebutnya sebagai sosok "yang memberi orang Turki harapan di saat putus asa."

3. Poin penting reformasi Kemalisme adalah aksara dan bahasa nasional

Profil Kemal Ataturk, Presiden Pertama dan Bapak Modernisme TurkiMasjid Sultan Ahmed di Istanbul (Unsplash.com/Adli Wahid)

Ataturk meninggal pada 1938. Itu berarti dia memimpin Turki selama 15 tahun. Dalam jangka waktu tersebut, ia melakukan reformasi besar di setiap lini kehidupan peradaban Turki modern.

Reformasi besar di Turki sering disebut sebagai Kemalisme. Dalam langkah reformasi itu, dapat dicatat enam asas utama yakni republikanisme, nasionalisme, populisme, reformisme, statisme, dan sekularisme.

Titik utama perubahan tersebut adalah Turki telah menjadi negara muslim awal yang menjadi Republik dan jadi contoh bagi negara-negara muslim serta non-muslim lainnya.

Dilansir dari laman Columbia University, sepanjang 1926-1930, transformasi hukum dan aturan diubah dengan cepat. Hukum syariah dihapus, sistem yurisprudensi sekuler diperkenalkan, dan perempuan didorong ikut berpartisipasi dalam memberi hak suara secara penuh di politik.

Reformasi hukum itu membuat semua warga negara sama di mata hukum. Turki bergerak menjadi masyarakat yang adil dengan hak yang sama. Islam jadi agama yang didorong ke ranah privat.

Dalam laman Ataturk Society, pada 1924 sistem kekhilafahan dihapus, hak istimewa keluarga khalifah dilenyapkan. Selanjutnya sistem pendidikan tradisional keagamaan dihapus dan pendidikan sipil diperkenalkan sebagai pendidikan yang seragam.

Alfabet Turki yang berbasis Latin mulai diperkenalkan secara nasional dan sistem aksara Arab, yang mendominasi selama ratusan tahun di bawah kekuasaan Dinasti Ustmaniyah, dihapus.

Seperti kata peribahasa, bahasa adalah jiwa bangsa. Reformasi aksara ini, secara otomatis, mengubah budaya berbahasa. Anak-anak dan orang dewasa ditekan dalam beberapa bulan untuk dapat membaca dan menulis dalam aksara dan bahasa nasional Turki.

Sejumlah kata serapan dari bahasa Arab dan Persia juga mulai diganti dengan bahasa asli. Dalam waktu singkat, Ataturk telah merombak budaya dan pendidikan Turki. Dia menyingkirkan pengaruh aksara Arab dan pengaruh Persia dan menuju Turki nasionalis yang modern.

Baca Juga: Wagub Riza: Tokoh Turki Ataturk Bakal Jadi Nama Jalan di Jakarta

4. Musnahnya para seniman kaligrafi

Profil Kemal Ataturk, Presiden Pertama dan Bapak Modernisme TurkiIlustrasi seniman kaligrafi (Unsplash.com/Paradigm Visuals)

Reformasi akbar merupakan alasan Amerika Serikat (AS) menjadikan negara tersebut sebagai salah satu mitra pentingnya. 

Dari 30 negara anggota NATO, Turki adalah satu-satunya negara anggota yang memiliki penduduk mayoritas muslim. Modernisme Turki yang dibawa Ataturk menjadikannya negara berbasis demokrasi dan sekuler.

Sayangnya, tidak semua orang melihat reformasi Ataturk adalah upaya menuju kebaikan. Di kalangan muslim tradisional, Bapak Republik Turki dilihat sebagai sosok yang 'menghancurkan' tradisi luhur Islam.

Untuk mewujudkan ambisi menjadi Turki yang modern, Ataturk dinilai telah melakukan penindasan di banyak kalangan tradisional.

Penghapusan sistem khilafah dan perubahan aksara Arab ke aksara Turki yang berbasis Latin, membuat banyak kalangan umat Islam terluka. Baik itu di kalangan muslim tradisional Turki atau di luar negara tersebut.

Ini juga salah satu hal yang membuat beberapa orang Indonesia menolak nama Mustafa Kemal Ataturk dijadikan sebagai salah satu nama jalan di Jakarta.

Sebuah novel apik ditulis oleh Yasmine Gatha berjudul Seniman Kaligrafi Terakhir (2008).  Dalam novel tersebut, dikisahkan bagaimana reformasi sekulerisme, aksara, dan bahasa Turki telah telah membuat kalangan Islam tradisional Turki menderita dan tersiksa.

Para seniman kaligrafi, mengejawantahkan zikir melalui tinta dan pena. Kaligrafi adalah hidup dan napas mereka, sedangkan aksara dan bahasa Arab dilarang. Mereka adalah kalangan yang paling tersiksa, terluka, dan paling menderita dari kebijakan Ataturk.

Pada novel pendek itu, para pembaca dibawa ke kisah panjang proses perubahan reformasi masyarakat Turki, dari peradaban masyarakat kekhalifahan menuju sekulerisme yang dipimpin Ataturk.

5. Menggoyahkan pondasi Kemalisme

Profil Kemal Ataturk, Presiden Pertama dan Bapak Modernisme TurkiPresiden Turki, Recep Tayyip Erdogan (Twitter.com/Recep Tayyip Erdogan)

Mulai awal 2000-an, bisa dibilang politik Turki mengalami perubahan. Kalangan Islam tradisional Turki yang diakomodasi oleh Partai Keadilan dan Pembangunan, yang biasa disebut AKP, mulai mendapatkan kekuasaan.

AKP adalah partai yang dibentuk pada 2001 oleh Recep Tayyip Erdogan dan kini dirinya jadi Presiden Turki. Partai tersebut banyak meraih dukungan dari publik Turki, tapi juga telah menimbulkan kekhawatiran bagi kekuatan Barat.

AKP adalah partai religius konservatif dan menjadi kekuatan politik raksasa di setiap pemilu Turki. Ketika partai ini berkuasa, Kemalisme muncul ke permukaan untuk diperdebatkan.

David Lepeska, seorang jurnalis berbasis di Istanbul menulis untuk Al Jazeera pada tahun 2015 lalu. Dia melihat ada tanda-tanda upaya menghidupkan kembali kekhalifahan dari beberapa tokoh Turki.

Beberapa kelompok oposisi juga menuduh bahwa Erdogan dan AKP memiliki agenda tersembunyi untuk memutus warisan Ataturk.

Para analis politik Barat juga menilai kekuasaan Erdogan saat ini dikhawatirkan memunculkan ambisi "Neo-Ottomanisme" atau Ustmaniyah Baru.

Baris Yarkadas, anggota parlemen dari partai CHP, mengatakan pada 2018 lalu bahwa AKP ingin menyingkirkan Republik dan menghapus warisan Ataturk.

Meski begitu, AKP selalu menyangkal dan mengatakan bahwa Mustafa Kemal Ataturk adalah tetap bapak pemersatu Turki.

Baca Juga: Putin Hubungi Erdogan Bahas Soal Afghanistan, Ini Hasilnya

Pri Saja Photo Verified Writer Pri Saja

Petani

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Vanny El Rahman

Berita Terkini Lainnya