Comscore Tracker

Situs Peta di Jepang Tunjukkan Letak Tetangga yang Berisik

Suara anak-anak bermain dianggap gangguan 

Tokyo, IDN Times – Di Jepang, ada sebuah situs yang menunjukkan titik jalanan yang bising. Anehnya, informasi kebisingan itu bukan karena misalnya kendaraan atau aktivitas semacam pabrik, tapi kebisingan gosip, aktivitas bocah dan orang-orang menjengkelkan yang menimbulkan keributan.

Kebisingan yang terlalu berlebihan dianggap mengganggu bagi mereka yang mencari kehidupan yang lebih tenang. Lokasi yang berisik dan bising berupa titik-titik warna-warni yang jika diklik ada informasi. Namun banyak orang yang mengganggap bahwa situs itu berlebihan dan membuatnya dikecam.

1. Informasi tempat untuk dihindari

Situs Peta di Jepang Tunjukkan Letak Tetangga yang BerisikPeta Jepang yang menunjukkan lokasi kebisingan. (Dok. Pribadi/Pri Saja)

Adanya situs yang menunjukkan informasi letak kebisingan itu telah membuat orang-orang mengetahui di mana lokasi yang harus dihindari jika ingin mencari ketenangan. Mulai disusun pada tahun 2016, situs tersebut telah menampilkan 5.973 tempat yang menunjukkan orang-orang berisik.

Setiap ikon yang ada di peta, jika diklik akan menunjukkan informasi gangguan. Melansir dari laman The Daily Mail, sifat gangguan ada yang berupa anak-anak yang “bermain bola dengan berisik”, hingga orang dewasa yang terlibat gosip maraton yang cerewet.

Salah satu kiriman masukan dalam informasi menyebutkan “Anak-anak sekolah dasar selalu bermain-main di jalan, menyebabkan masalah bagi orang-orang yang tinggal di sekitar.” Informasi itu adalah keluhan pengguna jalan karena harus mengindari anak-anak saat mengemudi. 

Keluhan juga tidak hanya menyasar anak-anak sekolah, tetapi juga orang yang lebih tua yang cerewet dengan gosip dan keluhan pada bayi menangis serta taman kanak-kanak yang riuh. Beberapa orang merasa situs itu membantu cara mereka memilih tempat tinggal.

2. Dikecam karena dianggap intoleran

Situs Peta di Jepang Tunjukkan Letak Tetangga yang BerisikPeta kebisingan dikecam karena dianggap intoleran. (Unsplash.com/Usman Yousaf)

Situs peta itu disebut juga Dorozuku. Istilah dorozuku digunakan untuk anak-anak dan orang dewasa yang bersuara keras di depan umum serta para penyusup. Pengembang sistem itu, yang berusia 40 tahun dan menolak menyebutkan namanya, mengaku hanya ingin membantu masalah dorozuku yang merupakan bagian gangguan dari tetangga.

Namun situs telah menjadi kontroversial. Ia telah mendapatkan kecaman dari banyak pihak dan dianggap sebagai intoleran. Melansir dari laman Asahi Shimbun, Norihisa Hashimoto yang jadi kepala Laboratorium Riset Masalah Kebisingan, mengatakan orang yang membaca peta “mungkin masuk akal (jika) merasa marah dan (menganggap) memicu intoleransi.”

Dia menyebutkan bahwa orang-orang yang memposting komentarnya di situs untuk tenang dan memikirkan kembali, apakah perilaku orang lain itu benar-benar menganggu serta dianggap sebagai gangguan. “Pada saat yang sama, wali anak harus bersikap moderat, seperti membatasi waktu bermain,” kata Hashimoto menambahkan.

Baca Juga: Angka Bunuh Diri Naik, Jepang akan Rekrut 'Menteri Kesepian'

2. Suara anak-anak tidak masuk sebagai polusi suara

Situs Peta di Jepang Tunjukkan Letak Tetangga yang BerisikTokyo anggap suara anak-anak yang bermain bukan polusi suara. Ilustrasi (unsplash.com/MI PHAM)

“Saya tahu peta itu kemungkinan akan dianggap sebagai salah satu yang membuat orang merasa ‘peta itu mengekspos mereka’, kata pengembang situs. Namun dia juga menegaskan bahwa informasi kebisingan adalah fakta dan banyak orang terus menerus merasa diganggu oleh kebisingan.

Melansir dari laman The Guardian, peta bising rupanya juga menandai fasilitas penitipan anak-anak. Sudah menjadi hal yang lumrah jika fasilitas penitipan anak-anak akan riuh dan bahkan suaranya akan bergema ke sekitar. Selama lima tahun berdiri, seorang yang terkait dengan fasilitas itu mengaku “saya tidak tahu kami berada di situ,” katanya. Dia juga menambahkan selama fasilitas berdiri tidak ada orang yang mengajukan keluhan.

Di pinggiran Tokyo ada aturan tentang batas polusi suara yang tidak boleh melebihi batas 45 desibel, sebuah batas yang sedikit lebih keras dari aturan yang biasanya diterapkan untuk perpustakaan. Pada tahun 2012, penduduk di bangsal Nerima Tokyo menuntut ganti rugi pada pusat penitipan anak karena menganggap penitipan itu tidak bisa mengendalikan anak-anak yang berisik.

Tokyo kemudian memperbaharui aturan pada tahun 2014. Pihak berwenang kemudian memasukkan bahwa suara anak-anak yang bermain tidak bisa dianggap sebagai bagian dari polusi suara. Peraturan itu dibentuk untuk membebaskan anak-anak yang lebih kecil dalam bermain.

Baca Juga: Angka Bunuh Diri Naik, Jepang akan Rekrut 'Menteri Kesepian'

Pri Saja Photo Verified Writer Pri Saja

Petani

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya