Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Profil Ali Larijani, Sosok yang Disebut Bisa Ambil Alih Kendali Iran
Ali Larijani adalah seorang filsuf Iran, politikus konservatif, dan ketua Parlemen Iran saat ini. Larijani menjabat sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dari 15 Agustus 2005 hingga 20 Oktober 2007, diangkat ke posisi tersebut oleh Presiden Mahmoud Ahmadinejad, menggantikan Hassan Rouhani. (Mostafameraji, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)
  • Kabar wafatnya Ayatollah Ali Khamenei memicu proses suksesi kepemimpinan Iran, dengan Majelis Ahli bertugas memilih pemimpin tertinggi baru di tengah situasi politik dan keamanan yang tegang.

  • Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, muncul sebagai figur penting berkat rekam jejak panjangnya di bidang legislatif, keamanan, dan negosiasi nuklir.

  • Latar belakang religius dan akademik Larijani serta jaringannya di kalangan ulama dan militer menjadikannya salah satu kandidat kuat dalam dinamika transisi kekuasaan pasca wafatnya Khamenei.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kabar tewasnya Ayatollah Ali Khamenei di tengah konflik besar dengan Israel dan Amerika Serikat membuka babak baru dalam sejarah politik Iran. Kini, negara itu harus segera menentukan penerus Pemimpin Tertinggi yang memegang otoritas tertinggi dalam sistem pemerintahan teokratiknya. Menurut konstitusi Iran, proses suksesi ini melibatkan Majelis Ahli yang akan memilih pemimpin baru, sementara kekosongan jabatan saat ini dijalankan oleh dewan kepemimpinan sementara yang melibatkan tokoh-tokoh penting negara.

Di tengah proses tersebut, Ali Larijani, yang kini menjabat sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, muncul sebagai salah satu figur yang banyak disebut dalam diskusi tentang masa depan kepemimpinan negara tersebut. Hubungan Larijani dengan struktur keamanan, legislatif, dan negosiasi nuklir membuatnya menjadi sosok yang menarik untuk dicermati lebih jauh; terutama dalam konteks kemungkinan perubahan arah politik Iran menyusul peristiwa besar ini.

1. Latar belakang dan pendidikan

Konferensi Keamanan Munich ke-43 tahun 2007: Dr. Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, Republik Islam Iran. (Creator:Sebastian zwez, CC BY 3.0 DE, via Wikimedia Commons)

Ali Larijani lahir pada 3 Juni 1958 di Najaf, Irak, dari keluarga ulama berpengaruh. Ayahnya, Hashem Amoli, adalah seorang Ayatollah Agung, salah satu pangkat tertinggi dalam Islam Syiah Dua Belas Imam, seperti halnya kakek dari pihak ibunya, Mohsen Ashrafi.

Meski berasal dari lingkungan religius yang kuat, Larijani menempuh jalur akademik dan meraih gelar doktor filsafat dari Universitas Teheran. Latar belakang intelektual ini membentuk reputasinya sebagai politikus konservatif yang terbiasa dengan perdebatan ideologi sekaligus kebijakan publik.

2. Karier politik dan jabatan strategis

Ali Larijani adalah seorang filsuf Iran, politikus konservatif, dan ketua Parlemen Iran saat ini. Larijani menjabat sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dari 15 Agustus 2005 hingga 20 Oktober 2007, diangkat ke posisi tersebut oleh Presiden Mahmoud Ahmadinejad, menggantikan Hassan Rouhani. (Mostafameraji, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Karier politik Larijani terbilang panjang. Ali Larijani mengawali kiprah publiknya sebagai anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) saat Perang Iran–Irak, hingga naik ke posisi senior dan menjadi penghubung antara IRGC dan parlemen (Majlis).

Ia kemudian masuk kabinet Presiden Akbar Hashemi Rafsanjani sebagai Menteri Kebudayaan dan Bimbingan Islam, serta memimpin lembaga penyiaran negara IRIB yang berada di bawah otoritas Pemimpin Tertinggi. Pengalaman itu membuatnya membangun jaringan luas di kalangan ulama, militer, politisi, hingga lingkaran rahbar.

Di awal krisis nuklir Iran, Larijani menggantikan Hassan Rouhani sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional sekaligus kepala negosiator nuklir. Pada 2007, ia digantikan oleh Saeed Jalili di era Presiden Mahmoud Ahmadinejad. Larijani lalu terpilih sebagai Ketua Parlemen Iran pada 2008 dan menjabat hingga 2020. Dalam posisi itu, ia mendukung upaya diplomasi Rouhani dengan negara-negara Barat dan dinilai berperan penting dalam meloloskan kesepakatan nuklir Iran atau JCPOA.

3. Peran dalam transisi kepemimpinan Iran

Ketua Majelis Permusyawaratan Islam (Parlemen) Republik Islam Iran, Ali Larijani, saat berbincang dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. ( Kremlin.ru, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Ali Larijani dua kali mencoba maju sebagai calon presiden pada 2021 dan 2024, namun didiskualifikasi oleh Dewan Penjaga Konstitusi. Isu keluarga disebut menjadi salah satu faktor, meski banyak analis menilai dinamika politik internal, termasuk keinginan membatasi figur era Hassan Rouhani, ikut memengaruhi keputusan tersebut.

Saat konflik regional memanas, termasuk imbas perang Israel–Hamas terhadap Iran dan Hizbullah, Ayatollah Ali Khamenei kembali memberi Larijani peran penting. Pada 2025, Presiden Masoud Pezeshkian menunjuknya sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional. Sejak itu, ia menjadi figur sentral dalam kebijakan keamanan dan diplomasi Iran, termasuk saat menghadapi tekanan Amerika Serikat.

Bahkan, Khamenei sempat menunjuknya sebagai salah satu otoritas utama jika terjadi kekosongan kepemimpinan, bersama nama seperti Mohammad Bagher Ghalibaf. Dengan rekam jejak panjang di legislatif, keamanan, dan negosiasi nuklir, Larijani kini dipandang sebagai salah satu kandidat kuat dalam dinamika suksesi kepemimpinan Iran.

Pascakabar wafatnya Ayatollah Ali Khamenei, nama Larijani kembali disebut-sebut sebagai salah satu figur kunci dalam dinamika politik Iran. Saat ini ia menjabat sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, posisi strategis yang berada di pusat koordinasi kebijakan keamanan dan pertahanan negara.

Dengan pengalaman panjang di legislatif, eksekutif, serta isu keamanan nasional, Larijani dinilai memiliki modal politik yang signifikan dalam konteks kemungkinan suksesi kepemimpinan. Meski proses resmi berada di tangan Majelis Ahli sesuai konstitusi Iran, figur-figur senior seperti Larijani tetap menjadi sorotan dalam pembahasan arah kepemimpinan Iran ke depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team