Jakarta, IDN Times - Ayatollah Ali Khamenei merupakan sosok paling berpengaruh dalam struktur politik Republik Islam Iran selama lebih dari tiga dekade. Ia menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi sejak 1989 hingga dilaporkan meninggal dunia pada Februari 2026 di tengah meningkatnya ketegangan militer Iran dengan Israel dan Amerika Serikat. Kepergiannya menandai babak baru dalam politik Iran, mengingat posisinya yang berada di atas presiden dan seluruh lembaga negara.
Profil Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang Dibunuh AS-Israel

1. Latar belakang dan pendidikan
Ali Khamenei lahir pada 1939 di Mashhad dalam keluarga ulama Syiah keturunan Azerbaijan. Ayahnya, Javad Khamenei, dikenal sebagai tokoh agama yang hidup sederhana dan menanamkan disiplin keagamaan kuat kepada anak-anaknya. Sejak kecil, Khamenei menempuh pendidikan agama sebelum melanjutkan studi ke Najaf, Irak, dan kemudian ke Qom.
Di Qom, ia berguru kepada Ruhollah Khomeini, pemimpin Revolusi Iran 1979. Kedekatan tersebut membentuk arah pemikiran politik dan keagamaannya, sekaligus menempatkannya dalam lingkaran inti gerakan revolusioner yang menumbangkan monarki Iran.
2. Dari aktivis revolusi ke presiden Iran
Pada era pemerintahan Syah Mohammad Reza Pahlavi, Khamenei beberapa kali ditangkap karena aktivitas oposisi terhadap rezim monarki. Setelah Revolusi Iran berhasil, ia menduduki berbagai jabatan strategis, termasuk anggota Dewan Revolusi dan wakil menteri pertahanan.
Pada 1981, ia terpilih sebagai Presiden Iran dan menjabat selama dua periode hingga 1989. Saat itu, jabatan presiden belum memegang kendali penuh atas eksekutif karena masih ada posisi perdana menteri. Meski begitu, posisinya memperkuat pengaruhnya dalam sistem politik baru Iran.
3. Menjadi pemimpin tertinggi Iran
Ketika Ruhollah Khomeini wafat pada 1989, Iran menghadapi krisis suksesi. Melalui revisi konstitusi, Khamenei diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi, meskipun sebelumnya belum menyandang gelar ayatollah agung. Sejak saat itu, ia menjadi otoritas tertinggi negara, berwenang atas militer, lembaga peradilan, media negara, serta arah kebijakan luar negeri.
Di bawah kepemimpinannya, konsep velayat-e faqih, kepemimpinan ulama dalam pemerintahan, semakin diperkuat dalam praktik politik Iran.
4. Hubungan dengan Garda Revolusi Iran
Khamenei membangun hubungan erat dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), yang menjadi pilar utama stabilitas kekuasaannya. IRGC berkembang bukan hanya sebagai kekuatan militer, tetapi juga aktor ekonomi dan politik penting di Iran.
Sinergi antara pemimpin tertinggi dan IRGC memperkuat struktur kekuasaan yang berpusat pada loyalitas ideologis serta kontrol ketat terhadap dinamika politik domestik.
5. Kontroversi dan warisan politik
Masa kepemimpinan Khamenei diwarnai sanksi internasional, ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel, serta gelombang protes domestik, termasuk demonstrasi besar pasca kematian Mahsa Amini pada 2022. Pendukungnya menilai ia berhasil menjaga stabilitas negara di tengah tekanan eksternal. Sebaliknya, kritik dari oposisi menyoroti pembatasan kebebasan politik dan sosial selama pemerintahannya.
Laporan media internasional menyatakan bahwa Khamenei meninggal dunia pada Februari 2026 setelah serangan militer gabungan oleh Amerika Serikat dan Israel di Teheran, meskipun beberapa detail dan konfirmasi resmi masih berkembang. Peristiwa ini mengubah lanskap politik Iran secara drastis dan membuka fase baru dalam sejarah negara tersebut.
Khamenei dikenang sebagai figur dominan dalam politik Iran selama lebih dari tiga dekade. Kebijakan dan visinya turut membentuk hubungan Iran dengan dunia serta mempengaruhi dinamika geopolitik di kawasan. Perannya dalam memimpin rezim teokrasi membuat namanya sangat dikenal, dipandang secara berbeda oleh pendukung dan pengkritiknya