Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
bendera Iran (unsplash.com/sina drakhshani)
bendera Iran (unsplash.com/sina drakhshani)

Intinya sih...

  • Korban tewas di Iran mencapai lebih dari 6 ribu orang

  • Pemerintah berselisih soal pemulihan internet

  • Warga kesulitan melakukan bisnis

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Yousef Pezeshkian, penasihat pemerintah sekaligus putra presiden Iran Masoud Pezeshkian, menyerukan kepada pemerintah agar segera memulihkan layanan internet secara menyeluruh. Ia mengatakan bahwa pembatasan internet yang terus berlanjut akan semakin memperburuk sentimen antipemerintah.

“Beredarnya video yang menampilkan kekerasan dalam protes adalah sesuatu yang akan kita hadapi cepat atau lambat. Mematikan internet tidak akan menyelesaikan apa pun, kita hanya menunda masalahnya,” tulis Yousef Pezeshkian dalam unggahannya di Telegram.

Menurutnya, risiko mempertahankan pemutusan akses internet di Iran lebih besar dibandingkan kemungkinan kembalinya protes jika konektivitas dipulihkan. Ia menambahkan bahwa institusi keamanan harus senantiasa menjamin keamanan meski adanya internet, yang disebutnya sebagai kebutuhan dalam hidup.

1. Korban tewas di Iran dilaporkan mencapai lebih dari 6 ribu orang

Pemadaman internet diberlakukan pada 8 Januari, setelah unjuk rasa terkait kesulitan ekonomi berubah menjadi kerusuhan mematikan. Menurut laporan Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat (AS) pada Senin (26/1/2026), jumlah korban tewas akibat protes di Iran telah mencapai 6.126 orang, dengan 11.009 lainnya terluka. Sedikitnya 41.880 orang juga telah ditangkap, dikutup dari Anadolu.

Foto-foto korban tewas, termasuk anak-anak, kini mulai bermunculan di situs-situs internet di dalam Iran. Direktur Rumah Sakit Mata Farabi di Teheran, Ghasem Fakhraei, mengatakan bahwa staf di pusat spesialis oftalmologi tersebut telah menangani lebih dari 1.000 pasien yang membutuhkan operasi mata darurat sejak protes berlangsung. Bangsal rumah sakit juga disebut sudah penuh sesak.

Kelompok hak asasi manusia mengatakan langkah Teheran untuk memutus akses internet bertujuan menyembunyikan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan aparat keamanan Iran. Selain itu, pemadaman ini juga disebut membatasi kemampuan pengunjuk rasa untuk mengorganisir dan melakukan perlawanan, sekaligus membatasi arus informasi dan menyulitkan verifikasi independen atas berita yang beredar.

2. Pemerintah berselisih soal pemulihan internet

Protes di Iran pertama kali pecah di Teheran pada 28 Desember 2025, dipicu oleh depresiasi tajam mata uang rial Iran dan memburuknya kondisi ekonomi. Demonstrasi kemudian dengan cepat menyebar ke seluruh negeri.

Seperti pejabat pemerintah lainnya, Yousef Pezeshkian menyalahkan campur tangan asing atas kekerasan dalam protes tersebut. Namun, ia tetap mengakui kemungkinan adanya kesalahan yang dilakukan aparat keamanan dan penegak hukum, yang perlu ditindaklanjuti.

Dilansir dari The Guardian, wartawan Iran secara terbuka melaporkan adanya perselisihan dalam pemerintah mengenai apakah aman untuk melonggarkan pembatasan internet. Presiden dan Menteri Komunikasi, Sattar Hashemi, mendukung langkah itu, sementara kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, Ali Larijani, menentangnya.

3. Warga kesulitan melakukan bisnis

Sementara itu, pasar saham Teheran mengalami penurunan untuk hari keempat berturut-turut pada Minggu (25/1/2026), sementara mata uang Iran, rial, terus melemah terhadap dolar.

Meskipun toko-toko telah kembali dibuka, aktivitas perdagangan masih rendah. Organisasi perdagangan komputer Iran menyatakan bahwa pemadaman internet menyebabkan kerugian sebesar 20 juta dolar AS (sekitar Rp334 miliar) per hari, sementara sopir truk melaporkan melaporkan kesulitan menyeberang perbatasan karena tidak adanya dokumen elektronik.

Seorang pedagang yang frustrasi mengatakan bahwa mereka hanya diberi 20 menit akses internet yang diawasi setiap hari, cukup untuk membalas beberapa email, tetapi tidak cukup untuk menjalankan bisnis.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Topics

Editorial Team