Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Bendera uganda
Bendera Uganda (unsplash.com/Roman Derrick Okello)

Intinya sih...

  • Lebih dari 100 anggota partai oposisi Uganda didakwa atas pelanggaran terkait pemilu

  • Bobi Wine tolak hasil pemilu Uganda dan tuding aparat lakukan intimidasi

  • Oposisi Uganda bantah keterlibatan dalam kekerasan usai pemilu

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Lebih dari 100 anggota partai oposisi utama di Uganda didakwa atas berbagai pelanggaran yang terkait dengan aksi kekerasan setelah pemilu nasional minggu lalu. Mereka menghadapi tuduhan mulai dari penghasutan hingga keterlibatan dalam kerusuhan yang pecah di berbagai wilayah setelah hasil pemilu diumumkan.

Presiden Yoweri Museveni dinyatakan menang telak dalam pemilu pada 15 Januari 2026 dengan perolehan 71,6 persen suara. Rival utamanya, Bobi Wine, memperoleh 24 persen suara. Hasil tersebut memicu ketegangan politik di Uganda, di mana oposisi menuding adanya ketidakberesan dalam proses pemungutan suara. Pemerintah berjanji akan menindak tegas setiap tindakan kekerasan pasca pemilu demi menjaga stabilitas nasional.

1. 118 anggota partai oposisi Uganda didakwa atas pelanggaran terkait pemilu

Sedikitnya 118 anggota National Unity Platform (NUP), partai oposisi utama di Uganda, didakwa atas berbagai pelanggaran yang berkaitan dengan pemilu nasional. Mereka dibawa ke sejumlah pengadilan di Kampala pada Senin (19/1/2026) dan menghadapi tuduhan termasuk pembukuan tidak sah, konspirasi, serta kepemilikan ilegal bahan pemilu.

Pengacara NUP, Kato Tumusiime, membenarkan penuntutan tersebut dalam keterangannya. Ia menilai para anggota partai menjadi sasaran penangkapan massal menyusul meningkatnya ketegangan politik setelah hasil pemilu diumumkan.

Unjuk rasa sempat pecah di ibu kota Kampala pada Sabtu (17/1/2026), setelah Presiden Yoweri Museveni dinyatakan menang dengan 71,6 persen suara. Namun, demonstrasi tersebut dengan cepat dibubarkan polisi menggunakan gas air mata dan melakukan sejumlah penangkapan terhadap peserta aksi.

2. Bobi Wine tolak hasil pemilu Uganda dan tuding aparat lakukan intimidasi

Mantan bintang musik yang kini menjadi politisi, Bobi Wine, bersama partainya, NUP, menolak hasil pemilu Uganda dengan tuduhan terjadi berbagai kecurangan. Wine menuding adanya praktik pengisian suara palsu, penghilangan paksa petugas tempat pemungutan suara, serta intimidasi oleh aparat keamanan selama proses pemilu berlangsung.

Lokasi Bobi Wine saat ini tidak diketahui setelah ia dilaporkan melarikan diri dari penggerebekan militer di rumahnya. Wine menuduh polisi merusak kediamannya dan menyebut bahwa keputusannya meninggalkan rumah bertujuan agar ia dapat berbicara kepada dunia. Namun, ia tidak mengungkapkan keberadaannya saat ini.

Sebelum pemilu digelar, Kantor Hak Asasi Manusia PBB telah menuduh aparat militer dan kepolisian Uganda menggunakan peluru tajam untuk membubarkan aksi protes damai. Organisasi tersebut juga menyoroti adanya dugaan penahanan sewenang-wenang dan penculikan terhadap para pendukung oposisi.

3. Oposisi Uganda bantah keterlibatan dalam kekerasan usai pemilu

Sekretaris Jenderal NUP, David Rubongoya, membantah tuduhan bahwa para pendukung partainya terlibat dalam kekerasan pasca-pemilu. Dalam wawancara, Rubongoya menegaskan bahwa mayoritas dari mereka yang ditangkap adalah petugas pemantau resmi pemilu dari NUP yang memiliki surat penugasan sah.

“Sebagian besar dari mereka adalah petugas TPS resmi NUP dan memiliki surat pengesahan, tetapi justru menjadi sasaran penangkapan dengan kekerasan,” ujarnya, dilansir CNBC Africa.

Rubongoya menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk penindasan politik terhadap oposisi di tengah situasi pasca pemilu yang tegang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team