Presiden Uganda Menang Pemilu Lagi, Berhasil Amankan Periode Ketujuh

- Pemimpin oposisi dikepung aparat usai protes hasil pemilu.
- Proses pemilu Uganda diwarnai tuduhan kecurangan.
- Pengamat internasional mencatat intimidasi politik dan tekanan terhadap masyarakat sipil.
- Pemerintah mematikan internet secara nasional, memicu kecurigaan publik.
Jakarta, IDN Times - Presiden Uganda, Yoweri Museveni, dinyatakan sebagai pemenang pemilihan umum untuk masa jabatan ketujuhnya pada Sabtu (17/1/2026). Pemimpin berusia 81 tahun tersebut berhasil memperpanjang kekuasaannya yang telah berlangsung selama empat dekade.
Berdasarkan hasil resmi, Museveni meraih kemenangan telak dengan perolehan 71,65 persen suara. Ia mengalahkan pesaing utamanya dari kubu oposisi, Bobi Wine, yang hanya mendapatkan 24,72 persen suara. Kemenangan Museveni memicu kontroversi karena proses pemungutan suara berlangsung di tengah pemadaman internet dan diwarnai tuduhan kecurangan.
Situasi keamanan di Uganda dilaporkan tegang setelah pengumuman hasil pemilu. Pihak oposisi menolak hasil penghitungan suara, sementara aparat keamanan melakukan penggerebekan terhadap tokoh-tokoh yang berseberangan dengan pemerintah. Bobi Wine sendiri dikabarkan harus bersembunyi setelah kediamannya dikepung oleh militer.
1. Pemimpin oposisi dikepung aparat usai protes hasil pemilu

Tokoh oposisi utama, Bobi Wine, menyuarakan penolakan terhadap pengumuman komisi pemilihan Uganda. Mantan penyanyi pop yang beralih menjadi politisi tersebut mengklaim adanya upaya pemalsuan hasil pemilu. Ia menuduh pemerintah melakukan pengisian surat suara ilegal secara sistematis untuk memenangkan petahana.
Ketegangan meningkat ketika aparat keamanan, yang terdiri dari polisi dan militer, menggerebek kediaman Wine segera setelah pemungutan suara berakhir. Wine mengklaim nyawanya terancam sehingga ia memutuskan untuk melarikan diri.
Akses menuju rumah Wine diblokir oleh pasukan keamanan dengan alasan mencegah berkumpulnya massa yang dapat memicu kerusuhan. Tekanan terhadap Wine sendiri bukanlah hal baru, mengingat ia telah ditangkap berulang kali, serta diganggu serangan gas air mata dan peluru selama masa kampanye.
“Saya ingin mengonfirmasi bahwa saya berhasil melarikan diri dari mereka. Saat ini, saya tidak berada di rumah, meskipun istri dan anggota keluarga lainnya masih berada dalam tahanan rumah,” ujar Bobi Wine dalam unggahannya di media sosial X, dilansir France 24.
2. Proses pemilu Uganda diwarnai tuduhan kecurangan

Pemilu Uganda mendapat sorotan dari para pengamat internasional, termasuk delegasi dari Uni Afrika. Meskipun hari pemungutan suara disebut relatif tenang, para pengamat mencatat adanya lingkungan politik yang penuh intimidasi. Laporan mengenai penangkapan, penculikan terhadap aktivis oposisi, dan tekanan terhadap masyarakat sipil mewarnai proses pemilu.
“Ini menanamkan rasa takut dan mengikis kepercayaan publik terhadap proses pemilu,” ungkap mantan Presiden Nigeria Goodluck Jonathan yang mewakili pengamat pemilu, dilansir Al Jazeera.
Pemerintah Uganda menuai kritik karena mematikan jaringan internet secara nasional menjelang hari pemilihan. Pemadaman internet dinilai sangat mengganggu transparansi proses penghitungan suara dan meningkatkan kecurigaan publik.
Selain masalah internet, kegagalan teknis terjadi di banyak tempat pemungutan suara (TPS). Mesin identifikasi pemilih dilaporkan tidak berfungsi, terutama di wilayah ibu kota Kampala yang dikenal sebagai basis pendukung oposisi. Akibatnya, petugas beralih menggunakan daftar pemilih manual, yang menuai protes dari aktivis prodemokrasi karena dianggap membuka celah bagi praktik manipulasi suara.
3. Museveni telah memerintah sejak 1986
Menurut BBC, kemenangan ketujuh Yoweri Museveni memperkuat cengkeraman kekuasaannya yang tak tergoyahkan sejak 1986. Pengamat menilai Museveni mampu mempertahankan posisinya karena kontrol total atas aparat negara, militer, dan media massa. Ia juga telah mengubah konstitusi sebanyak dua kali untuk menghapus batasan masa jabatan serta batasan usia presiden, yang memuluskan jalannya untuk berkuasa seumur hidup.
Meski dianggap otoriter oleh Barat dan oposisi, Museveni tetap memiliki basis pendukung setia di dalam negeri. Sebagian rakyat Uganda masih memandangnya sebagai sosok pemersatu yang berjasa membawa stabilitas dan pertumbuhan ekonomi setelah masa kelam di bawah rezim Idi Amin dan Milton Obote.
“Kemenangan ini datang karena kerja keras, dedikasi, dan komitmennya kepada rakyat Uganda,” kata Isaac Kamba, seorang pendukung Museveni, dilansir Al Jazeera.
Namun, isu suksesi dan politik dinasti menjadi kekhawatiran yang kian membesar. Kritikus menyoroti besarnya peran keluarga Museveni dalam pemerintahan, termasuk istrinya yang menjabat sebagai menteri. Putra Museveni, Jenderal Muhoozi Kainerugaba, yang kini menjabat sebagai panglima militer, disebut-sebut sedang dipersiapkan sebagai penerus, meskipun tingkah lakunya kerap memicu kontroversi.


















