demonstrasi pelajar SMA di Paris, 6 Oktober 2026 (FreCha, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)
Demonstrasi ini diwarnai aksi mogok kerja selama 24 jam oleh guru sekolah dasar dan penghentian kerja selama tiga jam oleh guru sekolah menengah. Serikat pegawai negeri ADEDY juga menyerukan pemogokan kerja dan menyampaikan solidaritas terhadap aksi serupa di Prancis melalui pernyataan pers. Para pengunjuk rasa menuntut ribuan lowongan guru diisi, guru pengganti diangkat menjadi pegawai tetap, ukuran kelas diperkecil, serta gedung sekolah dibuat lebih aman.
Kalangan mahasiswa menuntut penurunan biaya sewa, peningkatan tunjangan tempat tinggal, penambahan kuota asrama, dan pencabutan undang-undang terkait pemberhentian mahasiswa (drop out). Para pengunjuk rasa membawa spanduk serta meneriakkan slogan "Bread, Education, Freedom" (Roti, Pendidikan, Kebebasan) dan "Give money to schools, not to wars" (Beri anggaran untuk sekolah, bukan untuk perang). Murid-murid sekolah juga menyuarakan kekhawatiran terkait ruang kelas yang terlalu padat, kekurangan guru, meningkatnya tekanan akademis, dan kurangnya waktu luang.
Dilansir Xinhua, para pelajar menyuarakan dukungan bagi demonstrasi di Prancis dengan meneriakkan slogan "From Greece to France, we fight for public and free education" (Dari Yunani ke Prancis, kami berjuang untuk pendidikan publik dan gratis). Mereka turut menyoroti tantangan-tantangan yang dihadapi generasi muda di kedua negara. Di kota Larissa, peserta aksi unjuk rasa juga menyuarakan slogan serupa dalam rangka menyatakan solidaritas terhadap aksi protes di Prancis.