Comscore Tracker

Mengenal Yerusalem, Kota Suci yang Diperebutkan Israel dan Palestina

Jejak konflik sudah ada sejak zaman perang salib.

Yerusalem, IDN Times - Keputusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel sangat penting untuk menentukan akhir konflik Israel-Palestina. Ini dikarenakan Yerusalem berada di pusaran konflik tersebut.

Bagi umat Kristen, Islam dan Yahudi, Yerusalem punya status yang sangat penting.

Mengenal Yerusalem, Kota Suci yang Diperebutkan Israel dan PalestinaANTARA FOTO/REUTERS/Mussa Qawasma

Yerusalem merupakan salah satu kota tertua di dunia. Setiap jengkal yang ada saat ini adalah hasil dari pembangunan, penjajahan, penghancuran dan pembangunan kembali oleh pihak yang berbeda-beda dari waktu ke waktu.

Kota ini memiliki arti penting bagi para umat dari tiga agama berbeda: Kristen, Islam dan Yahudi. Sebabnya adalah sejumlah situs suci dari ketiga agama dibangun saling berdekatan—bahkan tumpang tindih—di kota tersebut.

Misalnya, di lokasi berdirinya Tembok Ratapan yang digunakan untuk beribadah oleh pemeluk agama Yahudi juga terdapat Masjid Al-Aqsa yang dianggap sangat suci oleh umat Islam. Lalu, di area lain berdiri Gereja Makam Kudus yang selalu dipenuhi oleh peziarah Kristen dari seluruh dunia.

The Atlantic pernah mewawancarai seorang warga Muslim Palestina dan Yahudi Israel untuk mengetahui signifikansi Yerusalem dalam kehidupan mereka, tak hanya secara personal, tapi juga secara politik. 

Arieh King, seorang Yahudi yang menganut politik sayap kanan dan merupakan anggota Dewan Kota Yerusalem, berkata,"Kami percaya ini adalah ibu kota kami. Untuk Yahudi Ortodoks sepertiku, Yerusalem bukan hanya tempat tinggal. Ini adalah caramu tinggal. Ini adalah satu tempat yang dekat dengan lokasi di mana semua yang penting dalam sejarah terjadi."

Ziad Abu Zayyad, seorang pengacara dan mantan menteri Otoritas Palestina, mengatakan hal serupa. "Yerusalem adalah bagian dari iman kami. Ini adalah tempat pertama di mana Muslim mulai berdoa," ucapnya. Ia juga melihat bahwa Yerusalem sudah menjadi identitas nasional bangsa Palestina.

Baca juga: Trump Resmi Akui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel

Perebutan Yerusalem oleh Israel dan Palestina terjadi di era modern.

Mengenal Yerusalem, Kota Suci yang Diperebutkan Israel dan PalestinaANTARA FOTO/REUTERS/Ammar Awad

Salah satu kejadian sejarah paling diingat di mana perang terjadi untuk merebutkan Yerusalem adalah periode Perang Salib yang berlangsung selama hampir 200 tahun. Namun, konflik Israel-Palestina dimulai di era modern, lebih tepatnya pada abad 20.

Profesor Yehoshua Ben-Arieh, seorang pakar geografi sejarah di Universitas Hebrew, menjelaskan kepada The New York Times bahwa Inggris adalah pihak pertama yang menetapkan Yerusalem sebagai ibu kota.

Pada abad 20, Inggris sukses menguasai sebagian besar Timur Tengah selama tiga dekade. Penetapan itu semakin menguatkan pentingnya Yerusalem tak hanya dalam konteks agama, tapi juga politik dan ekonomi.

Menurut Michael Dumper, seorang profesor Politik Timur Tengah, para Zionis sebenarnya lebih tertarik pada ide tentang nasionalisme dan pelarian diri dari persekusi, misalnya selama Holocaust, dibandingkan visi keagamaan.

Banyak sekali orang Yahudi yang kemudian bermigrasi ke Yerusalem dengan didorong oleh visi Zionis. Visi tersebut berisi ambisi untuk mendirikan negara bangsa Yahudi. Sementara itu, sebelum Inggris datang, wilayah itu dikuasai oleh Kekaisaran Ottoman.

Usai keruntuhan Ottoman, warga Arab Muslim di Yerusalem harus beradaptasi dengan kolonialisme Inggris dan kemudian eksodus bangsa Yahudi. Mereka sendiri memiliki ambisi untuk mendirikan negara Palestina. Akibatnya, penolakan pun terjadi dan kekerasan tak bisa dihindari.

Israel, secara unilateral, menganeksasi Yerusalem dan mengklaimnya sebagai ibu kota yang sebenarnya.

Mengenal Yerusalem, Kota Suci yang Diperebutkan Israel dan PalestinaANTARA FOTO/REUTERS/Kevin Lamarque

PBB mulai turun tangan ketika konflik semakin tak terhindarkan. Usai Perang Dunia II, tepatnya pada 1947, PBB mengumumkan bahwa Yerusalem adalah "Kota Internasional". Namun, Israel mendeklarasikan kemerdekaan setahun kemudian yang diikuti oleh peperangan melawan pihak-pihak yang menolaknya.

Dua tahun kemudian perang berakhir dan Israel mengontrol bagian barat Yerusalem. Sedangkan Yordania menguasai bagian timur, termasuk Kota Lama yang sangat terkenal itu. Perang kembali terjadi pada 1967 yang dikenal sebagai Perang Enam Hari. Hasilnya, Israel merebut Yerusalem Timur dari Yordania.

Meski demikian, warga Palestina tetap meyakini bahwa Yerusalem bukan milik Israel, melainkan ibu kota untuk negara Palestina di masa depan. Komunitas internasional sendiri melihat aneksasi Yerusalem oleh Israel sebagai sesuatu yang ilegal.

Maka, tak heran bila para pemimpin dunia memprotes pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel oleh Trump. Keputusan itu akan menguntungkan Israel di meja perundingan karena Amerika Serikat adalah pihak kunci di dalamnya. Pemerintah Israel juga akan merasa mereka jauh lebih punya legitimasi di atas warga Palestina.

Baca juga: Memahami "Two-State Solution", Solusi Israel-Palestina yang Dilanggar Trump

Topic:

Just For You