Comscore Tracker

KTT PBB: Suhu Makin Panas, Nasib Bumi Ada di Tangan Kita

Negara miskin terkena dampak perubahan iklim paling parah

Warsawa, IDN Times - Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim yang digagas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mulai dilaksanakan pada Senin waktu setempat (3/12). Berlokasi di Polandia, ratusan delegasi yang mewakili negara dan institusi mereka berkumpul untuk mendiskusikan betapa sudah gentingnya masalah perubahan iklim serta merumuskan inisiatif yang diperlukan.

1. PBB menindaklanjuti Persetujuan Paris

KTT PBB: Suhu Makin Panas, Nasib Bumi Ada di Tangan Kitaunsplash.com/Thomas Hafeneth

Selama dua minggu ke depan, PBB berupaya untuk mengambil langkah penting berikutnya sebagai kelanjutan dari Persetujuan Paris pada tahun 2015. Salah satu yang dibahas adalah visi pemangkasan karbon yang belum juga mendapatkan jalan untuk pengimplementasian.

Pekan lalu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengingatkan negara-negara bahwa kerja sama sangat penting untuk menangani perubahan iklim. Ia khawatir ini tidak terjadi meski mereka mengaku berkomitmen melakukan aksi. "Kita semakin punya pendekatan nasionalis yang jadi populer dan memenangkan pemilu. Ini, menurutku, menggiring ke arah kurangnya niat politik," kata Guterres.

Baca Juga: Studi PBB: Rumah Justru Tempat Paling Berbahaya Bagi Perempuan

2. Ada catatan buruk selama empat tahun terakhir

KTT PBB: Suhu Makin Panas, Nasib Bumi Ada di Tangan Kitaunsplash.com/Willian Justen

Dikutip dari The Guardian, situasi yang digarisbawahi oleh KTT Perubahan Iklim kali ini ada adanya laporan terbaru yang menunjukkan bahwa empat tahun terakhir merupakan era suhu bumi terpanas dan emisi karbon global mulai meningkat kembali. Padahal, semestinya level emisi tersebut menurun pada 2030.

PBB juga mengingatkan lagi tentang saran para ilmuwan bahwa langkah-langkah yang mampu memperlambat perubahan iklim perlu ditingkatkan lima kali lipat jika tak ingin ada peningkatan suhu sebesar 1,5 derajat Celcius. "Kita benar-benar adalah generasi terakhir yang bisa mengubah arus perubahan iklim, tapi kita juga generasi pertama yang menanggung konsekuensinya," ujar Kristalina Georgieva, CEO Bank Dunia.

3. Komitmen finansial juga sangat dinantikan

KTT PBB: Suhu Makin Panas, Nasib Bumi Ada di Tangan Kitaunsplash.com/L.W.

Tak hanya soal gagasan tentang kebijakan seperti apa yang perlu diambil oleh masing-masing pemangku kepentingan, KTT Perubahan Iklim juga berupaya mengumpulkan dana untuk memodali segala inisiatif yang dibutuhkan. Sayangnya, seperti yang dilaporkan Forbes, sejauh ini negara-negara belum memenuhi komitmen mereka untuk ini.

Oleh karena itu, Bank Dunia mencoba memotivasi pemerintah dengan mengumumkan penggandaan jumlah investasi untuk perubahan iklim. Saat ini sendiri Bank Dunia memberikan US$100 miliar atau sekitar Rp1,5 triliun untuk pemangkasan emisi karbon serta melindungi manusia dari bencana alam seperti banjir dan kekeringan yang diperparah oleh perubahan iklim.

4. Negara-negara maju punya tanggung jawab besar yang harus dilakukan

KTT PBB: Suhu Makin Panas, Nasib Bumi Ada di Tangan Kitaunsplash.com/Jon Tyson

Negara-negara maju yang memproduksi karbon terbesar sebetulnya pernah berjanji untuk menyumbangkan Rp1,5 triliun per tahun pada 2020. Dana tersebut digunakan untuk membantu negara-negara miskin yang terdampak perubahan iklim serta mengembangkan energi bersih.

Ini yang dikhawatirkan sulit tercapai apalagi setelah Donald Trump menyatakan Amerika Serikat keluar dari Persetujuan Paris dan menolak menandatangani pernyataan bersama tentang perubahan iklim ketika KTT G20 kemarin di Buenos Aires, Argentina.

Baca Juga: India Jadi Negara Paling Berisiko Terkena Dampak Perubahan Iklim

5. Negara-negara miskin menjadi korban

KTT PBB: Suhu Makin Panas, Nasib Bumi Ada di Tangan Kitaunsplash.com/Wynand Uys

Amerika Serikat sendiri menempati urutan kedua setelah Tiongkok sebagai negara yang memproduksi gas karbon terbesar di dunia. Tragisnya juga, Polandia, negara tempat diadakannya KTT Perubahan Iklim kali ini, juga menempati 20 besar penyumbang gas karbon paling besar. Salah satunya adalah lewat batu bara yang disebut pemerintah Polandia sebagai tulang punggung ekonomi negaranya.

Di sisi lain, negara-negara miskin menjadi paling pertama mengalami konsekuensi perubahan iklim. Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa ini adalah "ancaman eksistensial terhadap negara-negara paling miskin dan rentan."

Andrew King, salah satu peneliti dampak perubahan iklim dalam jurnal yang diterbitkan American Geophysical Union, mengatakan negara-negara maju "paling sedikit terkena dampak perubahan iklim". Sedangkan negara-negara miskin seperti Kongo justru mengalami sebaliknya.

Topic:

  • Ita Lismawati F Malau

Berita Terkini Lainnya