Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rudal Hantam Kedubes AS di Irak, Sistem Pertahanan Hancur
bendera Irak (pexels.com/Engin Akyurt)
  • Sebuah rudal menghantam Kedutaan Besar AS di Baghdad, merusak sebagian sistem pertahanan udara tanpa laporan korban jiwa dan belum ada komentar resmi dari pihak AS.
  • Serangan ini menjadi yang kedua terhadap Kedubes AS di Baghdad sejak konflik Timur Tengah memanas, dengan kelompok pro-Iran terus melancarkan serangan roket dan drone ke fasilitas AS.
  • Ketegangan meningkat setelah dua anggota Kataib Hizbullah tewas akibat serangan yang diduga dilakukan AS-Israel, memperdalam keterlibatan Irak dalam konflik proksi antara kedua negara tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Sebuah rudal menghantam Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di ibu kota Irak, Baghdad, pada Sabtu (14/3/2026). Asap tampak mengepul dari gedung usai serangan tersebut.

Dua pejabat keamanan mengatakan bahwa rudal tersebut menghantam landasan helikopter di dalam kedutaan. Proyektil itu disebut jatuh di dalam area kedutaan yang berada di Zona Hijau, kawasan di pusat Baghdad yang dijaga ketat dan menjadi lokasi berbagai lembaga pemerintah Irak serta kedutaan asing.

Dilansir dari Al Jazeera, seorang pejabat mengatakan bahwa serangan itu menghancurkan sebagian dari sistem pertahanan udara milik kedutaan, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

1. Belum ada laporan mengenai korban jiwa

rudal (David Birkas from Budapest, Hungary, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Sejauh ini, belum ada pernyataan resmi mengenai apakah ada korban jiwa maupun sejauh mana tingkat kerusakan yang terjadi akibat serangan itu. Para pejabat AS juga belum memberikan komentar.

“Tetapi kami memahami bahwa kelompok bersenjata yang bersekutu dengan Iran di Irak selalu berjanji untuk menyerang fasilitas AS, terutama kedutaan,” kata jurnalis Al Jazeera, Mahmoud Abdelwahed.

Ia menambahkan bahwa kelompok-kelompok tersebut telah menyatakan niatnya untuk membalas kematian mantan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang terbunuh dalam gelombang pertama serangan udara AS-Israel pada 28 Februari. Mereka bahkan menawarkan hadiah sebesar 100 ribu dolar AS (sekitar Rp1,6 miliar) bagi siapa pun yang memberikan informasi terkait keberadaan personel diplomatik AS di dalam negeri.

2. Serangan kedua terhadap kedubes AS di Baghdad

Zona Hijau di Baghdad (المكتب الاعلامي لرئيس الوزراء, CC BY 3.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/3.0>, via Wikimedia Commons)

Ini adalah kali kedua Kedutaan Besar AS di Baghdad diserang sejak pecahnya perang di Timur Tengah. Pada Jumat (13/3/2026), kedutaan tersebut memperbarui peringatan keamanan Level 4 untuk Irak, dengan memperingatkan bahwa Iran dan kelompok bersenjata yang bersekutu dengannya telah melakukan serangan terhadap warga negara, kepentingan dan infrastruktur AS, serta berisiko akan kembali menargetkan mereka.

Kompleks Kedutaan Besar AS di Baghdad, salah satu fasilitas diplomatik AS terbesar di dunia, telah berulang kali menjadi sasaran serangan roket dan drone sebelumnya.

Sejumlah kelompok bersenjata yang didukung Teheran, yang beraliansi dalam sebuah payung gerakan bernama Islamic Resistance in Iraq, mengaku melancarkan serangan drone dan roket setiap hari terhadap pangkalan AS di wilayah tersebut.

3. AS serang kelompok pro-Iran di Irak

bendera Irak (pexels.com/Engin Akyurt)

Pekan lalu, dua anggota kelompok Kataib Hizbullah yang didukung Iran tewas akibat serangan di dekat markas mereka di Irak. Seorang anggota kelompok tersebut menyalahkan AS dan Israel atas serangan tersebut

Irak, yang sejak lama menjadi arena konflik proksi antara AS dan Iran, dengan cepat terseret ke dalam perang besar di Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari. Pemerintah Irak mengatakan tidak ingin terlibat dalam perang. Namun, beberapa kelompok bersenjata yang didukung Iran menyatakan tidak akan bersikap netral dalam konflik itu, dilansir dari The New Arab.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team