Konflik Timur Tengah, Pertamina Pulangkan 19 Pekerja dari Irak-Dubai

- Pertamina memulangkan 19 pekerja dari Irak dan Dubai ke Indonesia setelah menghadapi kendala perjalanan akibat penutupan bandara di kawasan Timur Tengah.
- Pemulangan dilakukan lewat jalur darat lintas negara karena meningkatnya ketegangan keamanan pasca serangan AS dan Israel terhadap Iran, dengan koordinasi intensif bersama KBRI.
- PIREP, anak usaha Pertamina di Irak, mengelola 20 persen hak partisipasi di Blok West Qurna-1 hingga 2045 dengan skema kontrak jasa teknis untuk menjaga stabilitas operasional.
Jakarta, IDN Times - PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) baru saja memulangkan 11 perwira dari Basra, Irak, serta delapan staf dari Dubai, UAE ke tanah air. Perjalanan dari Basra menuju Jakarta itu memakan waktu hingga dua minggu akibat penutupan sejumlah bandara internasional di Kuwait City, Dubai, dan Doha.
Direktur Utama Pertamina Hulu Energi (PHE) Awang Lazuardi mengakui dinamika geopolitik saat ini mempengaruhi operasional di Irak.
"Geopolitik yang dinamis tentu berpengaruh bagi operasi kita di Irak. Alhamdulillah karena koordinasi yang sangat baik dari PIEP, PHE, Pertamina dan dukungan Kementerian Luar Negeri serta KBRI di sejumlah negara, teman-teman bisa pulang dengan selamat," katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (12/3/2026).
1. Prioritaskan keselamatan dan pantau situasi secara real-time

Nyawa para pekerja merupakan prioritas tertinggi perusahaan. Menurutnya, PIEP telah menerapkan prosedur HSSE dan Business Continuity Plan (BCP) secara ketat melalui koordinasi dengan Holding Pertamina, Subholding Upstream, dan otoritas terkait.
“Kami juga terus memonitor situasi secara real-time guna memastikan perlindungan optimal bagi seluruh personel," ujar Direktur Utama PIEP Syamsu Yudha.
Selain itu, perusahaan energi milik negara tersebut tengah melakukan asesmen terhadap rencana kontingensi rute evakuasi guna mengantisipasi jika terjadi penutupan wilayah udara di masa mendatang.
2. Tempuh jalur darat lintas negara akibat serangan di Iran

Langkah pengamanan dipicu oleh eskalasi keamanan setelah serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Pertamina Irak Eksplorasi & Produksi (PIREP) langsung mengaktifkan tim respons darurat serta memperkuat komunikasi dengan KBRI di Baghdad, Kuwait City, Riyadh, dan Abu Dhabi.
Para pekerja harus menempuh perjalanan darat dari Basra menuju perbatasan Safwan di Kuwait, lalu berlanjut ke Dammam, Arab Saudi. Dari Dammam, mereka terbang menuju Jeddah sebelum akhirnya mendarat di Jakarta secara bertahap pada 10 dan 11 Maret 2026.
3. Profil operasional PIREP di blok minyak raksasa Irak

PIREP merupakan pengelola aset Pertamina di Irak yang berdiri sejak 2013 dan beroperasi sekitar 50 kilometer dari Kota Basra. Perusahaan memegang 20 persen hak partisipasi di Blok West Qurna-1 (WQ-1), salah satu lapangan minyak terbesar di dunia, dengan kontrak jasa teknis (TSC) hingga tahun 2045.
Berbeda dengan skema bagi hasil (PSC) di Indonesia, skema TSC di Irak melibatkan pembayaran jasa teknis untuk meminimalisir risiko biaya di tengah kondisi geopolitik yang sering memengaruhi rantai pasok. Di blok tersebut, Pertamina bekerja sama dengan Petrochina sebagai kontraktor utama, serta mitra lain seperti Basra Oil Company, Itochu, dan OEC.

















