Pesawat Tanker KC-135 AS Jatuh di Irak

- Pesawat tanker KC-135 milik Angkatan Udara AS jatuh di Irak saat Operation Epic Fury, dengan penyelamatan awak masih berlangsung dan klaim tanggung jawab datang dari kelompok Islamic Resistance in Iraq.
- Pentagon melaporkan tujuh prajurit AS tewas dan 140 terluka dalam operasi tersebut, sementara survei menunjukkan mayoritas publik Amerika menolak keterlibatan militer di konflik itu.
- Kritik terhadap perang memicu respons keras dari Donald Trump serta pernyataan tajam pejabat Iran yang menuntut penutupan pangkalan AS dan memperingatkan potensi lonjakan harga minyak global.
Jakarta, IDN Times – Komando Pusat Amerika Serikat (AS) atau CENTCOM mengonfirmasi bahwa pesawat tanker KC-135 milik Angkatan Udara AS jatuh di wilayah barat Irak pada Kamis (12/3/2026). Insiden itu terjadi di ruang udara yang berada di bawah kendali pihak sekutu ketika operasi militer Operation Epic Fury berlangsung.
CENTCOM menjelaskan bahwa insiden tersebut melibatkan dua pesawat. Pesawat tanker KC-135 mengalami kecelakaan hingga jatuh, sedangkan pesawat lainnya berhasil mendarat dengan aman. Militer AS menegaskan bahwa peristiwa ini bukan disebabkan oleh tembakan musuh maupun tembakan dari pihak sendiri.
1. Tim penyelamat mencari awak pesawat KC-135 yang jatuh

Tim penyelamat kini dikerahkan untuk menemukan serta mengevakuasi awak pesawat yang mengalami kecelakaan. Hingga kini jumlah personel di dalam KC-135 serta kondisi mereka (apakah selamat atau tidak) belum diumumkan secara resmi.
Dilansir dari CNBC, kelompok milisi yang didukung Iran, Islamic Resistance in Iraq, menyatakan bertanggung jawab atas penembakan pesawat tersebut. Klaim itu disampaikan melalui pernyataan resmi yang dipublikasikan di kanal Telegram milik kelompok tersebut.
KC-135 merupakan pesawat tanker yang berfungsi mengisi bahan bakar pesawat tempur lain saat masih terbang di udara. Berdasarkan catatan Angkatan Udara AS pada 1998, harga satu unit pesawat ini diperkirakan sekitar 39,6 juta dolar AS (setara Rp667,6 miliar).
Peristiwa ini menjadi kehilangan pesawat militer AS keempat sejak konflik dimulai. Tiga jet tempur F-15E Strike Eagle sebelumnya jatuh akibat tembakan ramah dari sistem pertahanan udara Kuwait. Enam awak pesawat berhasil melontarkan diri dan kemudian ditemukan dalam kondisi stabil.
2. Pentagon melaporkan korban prajurit AS dalam operasi militer

Juru bicara Pentagon Sean Parnell mengungkapkan bahwa korban dari pihak AS dalam operasi tersebut mencapai tujuh prajurit tewas dan 140 orang terluka. Delapan di antaranya mengalami luka berat.
Dilansir Al Jazeera, sejak awal mayoritas publik di Amerika telah menunjukkan penolakan terhadap konflik tersebut. Survei Quinnipiac University mencatat bahwa 53 persen pemilih menentang serangan militer ke Iran, sementara 74 persen menolak gagasan pengiriman pasukan darat AS ke medan perang. Survei Ipsos juga memperlihatkan bahwa 43 persen responden tidak setuju dengan operasi militer itu, hanya 29 persen yang mendukung, sedangkan sisanya masih ragu-ragu.
3. Kritik perang memicu respons Trump dan pernyataan Iran

Konflik tersebut juga memunculkan perbedaan pandangan di kalangan pendukung Presiden AS Donald Trump. Komentator konservatif Tucker Carlson menyebut perang itu sangat menjijikkan dan jahat dalam wawancara dengan ABC News.
“Dia ditunjukkan jajak pendapat bahwa perang ini seperti kemenangan 90-10 baginya,” katanya, dikutip dari Al Jazeera.
Trump merespons kritik itu dengan menyatakan bahwa slogan MAGA berarti America first dan Tucker tidak termasuk dalam gerakan tersebut.
Sementara itu, pejabat Iran memberikan tanggapan keras. Kepala keamanan Ali Larijani menulis di X bahwa Trump mengklaim ingin meraih kemenangan cepat, padahal memulai perang memang mudah tetapi tidak bisa dimenangkan hanya dengan beberapa unggahan.
Pemimpin Tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei mengatakan dalam pidato yang disiarkan televisi bahwa Selat Hormuz harus tetap ditutup untuk menekan pihak lawan. Ia juga menuntut seluruh pangkalan militer AS di Timur Tengah segera ditutup serta memperingatkan bahwa fasilitas tersebut bisa menjadi target serangan.
Juru bicara komando militer Iran Ebrahim Zolfaqari menyatakan bahwa harga minyak dapat melonjak hingga 200 dolar AS per barel (setara Rp3,37 juta) akibat tindakan AS yang dinilai mengacaukan keamanan kawasan.

















