Jakarta, IDN Times - Sektor kesehatan di Jalur Gaza telah mencapai tahap kehancuran total akibat serangan dan blokade Israel yang terus berlangsung. Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa jumlah pasien di rumah sakit telah melonjak hingga 300 persen, sehingga banyak yang terpaksa di rawat lantai karena keterbatasan tempat tidur.
“Kami mengira rumah sakit adalah tempat teraman setelah ada korban cedera, namun sekarang rumah sakit telah menjadi medan perang… tidak ada tempat tidur, tidak ada obat, tidak ada ruang,” kata Mahmoud Abu Salim, yang terbaring di atas selimut usang di lantai koridor Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza. Pemuda berusia 27 tahun itu ditembak kakinya oleh tentara Israel saat menunggu kedatangan truk bantuan di Gaza utara beberapa hari lalu.
Pemandangan di dalam rumah sakit juga mencerminkan bencana kemanusiaan yang parah. Unit gawat darurat dan rawat inap kini beroperasi hingga tiga kali lipat dari kapasitas normal, koridor dipenuhi korban luka, sementara halaman rumah sakit dialihfungsikan menjadi ruang gawat darurat sementara. Di tengah kelangkaan obat-obatan dan pasokan medis, para dokter dan perawat tetap berusaha memberikan perawatan terbaik bagi pasien.
"Saya merasa seperti hanya menjadi angka di antara deretan panjang korban luka, tetapi saya menghargai apa yang dilakukan para dokter, mereka bekerja melampaui batas kemampuan mereka. Seorang dokter bahkan berkata kepada saya: 'Jika kami memiliki 100 ranjang tambahan, semuanya akan terisi dalam waktu kurang dari satu jam'," tambah Abu Salim.
Situasi serupa juga terjadi di rumah sakit lainnya yang masih beroperasi di Gaza. Dari 38 rumah sakit yang ada sebelum perang, kini hanya 16 yang masih berfungsi sebagian. Sisanya telah ditutup akibat serangan langsung Israel.