Israel Hancurkan Lebih dari 1.500 Rumah di Gaza

- Israel dituduh berbohong soal adanya zona aman bagi pengungsi.
- Sekitar satu juta warga Palestina akan kembali terusir imbas rencana pendudukan Israel.
- Sekjen PBB sebut tindakan Israel di Kota Gaza akan sebabkan konsekuensi buruk.
Jakarta, IDN Times - Israel dilaporkan telah menghancurkan lebih dari 1.500 rumah di wilayah Al Zeitoun, Kota Gaza, sejak melancarkan operasi darat di wilayah tersebut awal bulan ini.
Dilansir dari Anadolu, Mahmoud Bassal, juru bicara badan pertahanan sipil Gaza, mengatakan bahwa tidak ada lagi bangunan yang tersisa di bagian selatan wilayah tersebut. Militer Israel disebut menggunakan alat berat dan robot bermuatan bom, dengan sekitar tujuh lokasi diratakan setiap harinya.
Mereka juga menggunakan drone quadcopter untuk menjatuhkan bom di atap rumah-rumah warga. Akibat penghancuran itu, sekitar 80 persen warga Al Zeitoun terpaksa mengungsi ke wilayah barat dan utara Kota Gaza.
1. Israel dituduh berbohong soal adanya zona aman bagi pengungsi
Basal mengatakan, kota Jabalia di Gaza utara juga mengalami kondisi serupa dengan Al-Zeitoun. Serangan artileri dan udara terjadi terus-menerus, meskipun hingga kini belum ada invasi darat
Ia mengungkapkan bahwa situasi kemanusiaan saat ini sedang berada dalam bencana besar, ditandai dengan runtuhnya sistem pertahanan sipil, kurangnya layanan kesehatan dan bantuan, serta ketiadaan tempat berlindung maupun lokasi aman bagi para pengungsi. Basal juga menyebut klaim Israel bahwa mereka telah menyiapkan zona aman bagi para pengungsi sebagai kebohongan belaka.
“Bagaimana bisa ada daerah yang aman setelah Rumah Sakit Nasser di Khan Younis dan kamp pengungsi di sebelah timur Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Deir al-Balah menjadi sasaran, sementara Rafah sepenuhnya berada di bawah kendali Israel?” tanyanya, mengacu pada kota-kota di selatan dan tengah Jalur Gaza.
2. Sekitar satu juta warga Palestina akan kembali terusir imbas rencana pendudukan Israel
Pada 8 Agustus, kabinet Keamanan Israel menyetujui rencana Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk menduduki Jalur Gaza. Rencana itu mencakup pengusiran sekitar satu juta warga Palestina ke arah selatan, mengepung kota, lalu mendudukinya setelah melancarkan serangan intensif.
Rencana pendudukan ini menuai kecaman di seluruh dunia. Israel sendiri telah menghentikan upaya gencatan senjata dan memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah sangat parah, di mana ratusan orang, termasuk anak-anak, meninggal akibat kelaparan imbas blokade Israel.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 62.900 warga Palestina telah terbunuh sejak perang Israel di Gaza meletus pada Oktober 2023. Jumlah korban sebenarnya diyakini jauh lebih tinggi karena masih banyak jenazah yang terjebak di bawah reruntuhan bangunan.
3. Sekjen PBB sebut tindakan Israel di Kota Gaza akan sebabkan konsekuensi buruk
Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, pada Kamis (18/8/2025) memperingatkan bahwa rencana Israel untuk menduduki Kota Gaza akan menimbulkan konsekuensi buruk.
“Perluasan operasi militer di Kota Gaza akan menimbulkan konsekuensi yang menghancurkan. Ratusan ribu warga sipil yang sudah kelelahan dan mengalami trauma akan terpaksa mengungsi lagi, sehingga membuat banyak keluarga berada dalam bahaya yang lebih besar. Hal ini harus dihentikan," katanya dalam pidato di markas besar PBB di New York, dikutip dari Al Jazeera.
Guterres juga mengecam Israel karena gagal memenuhi kewajiban kemanusiaannya di Gaza, di mana banyak orang sekarat akibat kelaparan. Ia pun mendesak negara itu untuk segera bekerja sama dengan PBB dan lembaga-lembaga lainnya dalam menyalurkan bantuan ke Gaza.
“Hari demi hari, upaya kami dihalangi, ditunda, dan ditolak. Ini tidak bisa diterima," ungkapnya.