Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rusia Gelar Latihan Senjata Nuklir, Libatkan 64 Ribu Tentara
rudal Rusia (Mil.ru, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)
  • Rusia menggelar latihan senjata nuklir besar-besaran selama tiga hari, melibatkan 64 ribu tentara, ratusan peluncur rudal, kapal perang, dan pesawat tempur di distrik militer Leningrad serta Tengah.
  • Latihan tersebut berlangsung bersamaan dengan serangan udara Rusia ke Ukraina yang menewaskan sedikitnya enam warga sipil, sementara Ukraina membalas dengan menyerang fasilitas minyak di Yaroslavl.
  • PBB melaporkan total korban tewas akibat perang mencapai 15.850 orang sejak invasi 2022, termasuk 791 anak-anak, dan Rusia memperingatkan meningkatnya risiko bentrokan langsung dengan NATO.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Rusia memulai latihan pasukan nuklir secara besar-besaran di tengah eskalasi konflik dengan Ukraina. Latihan ini melibatkan sekitar 64 ribu tentara Rusia dan ribuan alutsista tempur.

Fokus dari kegiatan ini adalah melatih kesiapan penggunaan senjata nuklir di bawah ancaman agresi luar. Negara tetangga sekaligus sekutu Rusia, Belarusia, juga ikut berpartisipasi dalam agenda tersebut.

1. Latihan nuklir Rusia berlangsung selama tiga hari

peluncur rudal Rusia (Mil.ru, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Latihan nuklir Rusia dijadwalkan berlangsung selama tiga hari dari hari Selasa-Kamis (19-21 Mei 2026). Kegiatan tersebut digelar secara serentak di kawasan distrik militer Leningrad dan Tengah.

Kementerian Pertahanan Rusia mengerahkan lebih dari 200 peluncur rudal serta 73 kapal perang permukaan. Selain itu, ada 13 kapal selam dan 140 pesawat yang turut dioperasikan dalam kegiatan ini.

Rekaman video resmi menampilkan pasukan Rusia sedang membawa hulu ledak nuklir menuju sistem peluncur rudal Iskander-M. Kendaraan tempur tersebut tampak berkamuflase di area hutan sambil menaikkan tabung peluncur ke posisi tembak.

"Latihan ini direncanakan untuk mempraktikkan isu-isu terkait pengiriman amunisi nuklir dan persiapan penggunaannya. Pelatihan tersebut tidak diarahkan ke negara ketiga dan tidak mengancam keamanan wilayah," ujar perwakilan Kementerian Pertahanan Belarusia, dilansir Euronews.

2. Rusia luncurkan 500 drone ke Ukraina dalam semalam

Presiden Rusia, Vladimir Putin (Duma.gov.ru, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Rusia menggelar latihan nuklirnya di tengah meningkatnya serangan udara ke Ukraina. Pasukan Rusia dilaporkan telah meluncurkan lebih dari 500 pesawat nirawak (drone) dan 20 rudal ke wilayah Ukraina dalam semalam pada Selasa.

Serangan udara terbaru dari Rusia dilaporkan telah menewaskan sedikitnya enam warga sipil di wilayah Sumy dan Chernihiv. Sementara itu, proses negosiasi perdamaian antara kedua negara masih buntu.

"Rusia mempertimbangkan rencana operasi militer tambahan dari arah selatan dan utara melalui kawasan Belarusia. Target operasi tersebut bisa mengarah ke Chernihiv-Kiev di Ukraina atau salah satu negara anggota NATO," tutur Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.

Di sisi lain, serangan balasan Ukraina menyasar sebuah fasilitas industri pengolahan minyak Rusia di wilayah Yaroslavl. Fasilitas tersebut dilaporkan sempat terbakar akibat serangan drone Ukraina.

3. PBB: Perang di Ukraina telah menewaskan 15.850 orang

bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) (Makaristos, Public domain, via Wikimedia Commons)

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) baru merilis laporan terbaru terkait angka korban tewas di Ukraina. Dokumen tersebut mencatat ada sekitar 15.850 orang meninggal dunia sejak Rusia meluncurkan invasi ke Ukraina pada Februari 2022.

Angka kematian tersebut mencakup 791 korban jiwa dari kalangan anak-anak. Perwakilan PBB meyakini bahwa jumlah korban tewas yang sebenarnya di lapangan kemungkinan jauh lebih tinggi.

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, memperingatkan bahwa risiko bentrokan langsung antara Rusia dan NATO kian meningkat. Dilansir The Straits Times, Ryabkov khawatir kondisi ini dapat membawa malapetaka besar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team