bendera Libya (pixabay.com/jorono)
Meskipun tidak memegang jabatan formal di pemerintahan, Saif al-Islam secara luas dipandang sebagai orang nomor dua setelah ayahnya, yang memerintah Libya sejak 1969 sebelum akhirnya digulingkan dan dibunuh dalam pemberontakan pada 2011.
Saif al-Islam ditangkap oleh milisi di Zintan pada akhir 2011 ketika mencoba melarikan diri ke negara tetangga, Niger. Ia menghabiskan 6 tahun di penjara sebelum akhirnya dibebaskan pada 2017 sebagai bagian dari kesepakatan amnesti. Sejak itu, ia tetap tinggal di Zintan.
Para analis memperingatkan bahwa kematian Saif al-Islam berisiko memicu kebangkitan faksi-faksi pro-Gaddafi di Libya.
Saif al-Islam telah lama dipandang sebagai tokoh paling berpengaruh dan ditakuti di negara tersebut setelah ayahnya, yang memerintah Libya dari tahun 1969 hingga digulingkan dan dibunuh dalam pemberontakan pada tahun 2011.
Meski tidak memegang jabatan resmi di pemerintahan, Gaddafi secara luas dipandang sebagai orang kedua setelah ayahnya sejak 2000 hingga pemberontakan 2011 yang mengakhiri 42 tahun kekuasaan Muammar Gaddafi dan berujung pada kematiannya di tangan pasukan oposisi.
Saif al-Islam ditangkap oleh sebuah milisi di Zintan pada akhir 2011 saat ia berusaha melarikan diri ke negara tetangga, Niger, setelah jatuhnya Tripoli. Setelah menghabiskan enam tahun dalam penahanan, ia dibebaskan pada 2017 berdasarkan undang-undang amnesti dan tetap tinggal di Zintan.