Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Rusia Tuduh Inggris-Prancis Mau Kirim Senjata Nuklir untuk Ukraina
ilustrasi senjata nuklir (pixabay.com/DiceME)
  • Rusia menuduh Inggris dan Prancis berencana mengirim senjata nuklir atau “senjata kotor” ke Ukraina, yang dianggap melanggar hukum internasional dan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir.
  • Ukraina, Inggris, dan Prancis membantah keras tuduhan tersebut, menyebut klaim Rusia tidak berdasar serta tanpa bukti konkret yang mendukung pernyataan Dinas Intelijen Luar Negeri Rusia (SVR).
  • Meski dibantah, Rusia meminta lembaga penegak hukum dan organisasi internasional menyelidiki dugaan rencana pengiriman senjata nuklir itu di tengah perang Rusia-Ukraina yang memasuki tahun keempat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Rusia menuduh Inggris dan Prancis sedang bersiap mengirim senjata nuklir untuk Ukraina. Russia menilai rencana tersebut merupakan upaya London dan Paris untuk membantu Ukraina membasmi pasukan Rusia.

"Para elite Inggris dan Prancis secara aktif menjajaki cara untuk memasok Kyiv dengan senjata nuklir atau setidaknya apa yang disebut ‘senjata kotor’. Rencana gegabah seperti itu menunjukkan bahwa London dan Paris telah kehilangan kontak dengan realitas," bunyi pernyataan Dinas Intelijen Luar Negeri Rusia (SVR) yang dirilis pada Selasa (24/2/2026) dilansir Euronews.

1. Rusia menyebut Inggris dan Prancis telah melanggar hukum internasional

ilustrasi hukum internansional (pexels.com/Mikhail Nilov)

Dalam pernyataannya, SVR juga menyebut Inggris dan Prancis telah melanggar hukum internasional karena berupaya memasok senjata nuklir untuk Ukraina. Sebab, Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir telah melarang negara mana pun untuk menggunakan senjata nuklir dalam peperangan.

"Inggris dan Prancis menyadari bahwa rencana mereka menyiratkan pelanggaran berat terhadap hukum internasional, terutama Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir,” jelas SVR dalam pernyataannya dilansir Anadolu Agency.

“Dalam hal ini, upaya utama pihak Barat difokuskan untuk membuat munculnya senjata nuklir di Kyiv tampak sebagai hasil pengembangan oleh Ukraina sendiri," lanjut pernyataan tersebut.

2. Ukraina hingga Prancis merespons tuduhan Rusia

potret bendera Ukraina (pexels.com/Peter Muscutt)

Tuduhan ini lantas menuai respons dari Pemerintah Ukraina. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Ukraina, Heorhii Tykhyi, mengatakan, tuduhan liar yang dilontarkan Rusia kepada Inggris dan Prancis soal pengiriman senjata nuklir ke Ukraina hanya omong kosong. 

"Para pejabat Rusia, yang dikenal karena rekam jejak kebohongan mereka yang mengesankan, sekali lagi mencoba mengarang omong kosong 'senjata kotor' yang sudah usang," kata Tykhyi dalam pernyataannya.

Pemerintah Inggris dan Prancis sebagai pihak tertuduh juga memberi respons. Inggris dan Prancis membantah keras tuduhan yang dilontarkan SVR kepada mereka soal pengiriman senjata nuklir untuk Ukraina. Terlebih, tidak ada bukti konkret yang bisa ditunjukkan oleh SVR untuk memperkuat tuduhannya kepada Inggris dan Prancis.  

3. Rusia minta pihak berwenang menyelidiki rencana pengiriman senjata nuklir Inggris-Prancis ke Ukraina

potret bendera Rusia (pexels.com/Сергей Велов)

Meski tuduhan sudah dibantah, Rusia tidak mau tinggal diam. Parlemen dan Dewan Federal Rusia akan meminta para penegak hukum dan organisasi internasional untuk menyelidiki rencana pengiriman senjata nuklir ke Ukraina oleh Inggris dan Prancis. Langkah ini dilakukan untuk membuktikan apakah Inggris-Prancis benar-benar akan mengirim senjata nuklir ke Ukraina atau tidak.

"Segala sesuatu yang dirahasiakan pasti akan terungkap. Di kalangan militer, politik, dan diplomatik Inggris Raya dan Prancis, ada banyak orang yang bijaksana yang memahami bahaya yang ditimbulkan oleh tindakan gegabah para pemimpin mereka terhadap seluruh dunia," tutup SVR dalam pernyataannya.

Tuduhan ini dilontarkan SVR ke Prancis dan Inggris di saat perang Rusia dan Ukraina genap memasuki tahun ke-4. Meski sudah berjalan 4 tahun, belum ada tanda-tanda perang di antara kedua negara akan berakhir. Bahkan, pasukan Rusia juga masih terus menggempur Ukraina hingga saat ini.

Terbaru, Rusia kembali menyerang rumah-rumah warga dan infrastruktur energi yang ada di Ibu Kota Kyiv pada Minggu (22/2/2026). Serangan tersebut dilaporkan menewaskan satu orang dan melukai belasan lainnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team