Drone Rusia Hantam Ukraina Lagi, 21 Orang Terluka

- Rusia kembali menyerang Ukraina lewat drone dan rudal di Kharkiv serta Zaporizhzhia, melukai 21 orang dan merusak infrastruktur energi hingga ribuan warga kehilangan listrik.
- Serangan ini terjadi saat perang Rusia-Ukraina memasuki tahun ke-4, bertepatan dengan resolusi PBB yang menegaskan dukungan terhadap kedaulatan Ukraina dan menyerukan gencatan senjata.
- Ukraina telah berupaya mencapai kesepakatan damai melalui pertemuan diplomatik di Jenewa dan Abu Dhabi, namun belum ada hasil konkret untuk menghentikan konflik bersenjata tersebut.
Jakarta, IDN Times - Pasukan Rusia dilaporkan kembali melakukan serangan drone dan rudal balistik ke Ukraina. Menurut keterangan otoritas setempat pada Kamis (26/2/2026), serangan tersebut dilakukan di wilayah Kharkiv di Ukraina timur dan di Zaporizhzhia di Ukraina selatan pada Rabu (25/2/2026) malam.
Serangan ini melukai 14 orang di Kharkiv dan 7 orang di Zaporizhzhia. Menurut keterangan Gubernur Zaporizhzhia, Ivan Fedorov, serangan ini juga menghancurkan 19 apartemen dan membuat 500 rumah warga di wilayahnya kehilangan pasokan listrik. Sebab, serangan pada Rabu kemarin dilaporkan merusak infrastruktur energi setempat.
Tidak ada informasi detail dari Pemerintah Ukraina soal jumlah drone dan rudal yang menggempur Kharkiv dan Zaporizhzhia. Namun, Gubernur Kharkiv, Oleh Syniehubov, mengatakan wilayahnya diserang menggunakan 17 drone dan 2 rudal. Namun, Fedorov selaku Gubernur Zaporizhzhia tidak memberikan informasi detail soal hal tersebut.
1. Rusia sebelumnya sudah menyerang Kiev pada pekan lalu

Sebelum ini, Rusia juga sudah melakukan serangan ke rumah warga dan infrastruktur energi di Kiev pada Minggu (22/2/2026). Serangan tersebut dilaporkan menewaskan satu orang dan melukai belasan lainnya.
Menurut Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, serangan pada pekan lalu merupakan salah satu yang terparah. Sebab, pasukan Rusia saat itu menyerang Kiev secara brutal menggunakan 300 drone dan 50 rudal.
“Moskow terus berinvestasi dalam serangan lebih banyak daripada diplomasi. Sasaran utama serangan itu adalah sektor energi. Bangunan tempat tinggal biasa juga mengalami kerusakan dan ada kerusakan pada jalur kereta api," kata Zelenskyy di media sosial, seperti dilansir The Strait Times.
2. Perang Rusia dan Ukraina sudah memasuki tahun ke-4

Serangan-serangan yang dilakukan Rusia ke Ukraina ini terjadi di saat konflik kedua negara sudah memasuki tahun ke-4. Sebab, pada Selasa (24/2/2026) lalu, perang antara Rusia dan Ukraina sudah resmi berusia 4 tahun.
Dalam rangka memperingati 4 tahun perang Rusia-Ukraina, PBB mengesahkan resolusi baru yang mendukung kedaulatan Ukraina dalam proses pemungutan suara yang dihelat pada Selasa kemarin. Dalam voting tersebut, sebanyak 107 negara menyatakan setuju, 12 negara tidak setuju, dan 51 negara memilih abstain atau tidak memberikan suara. Amerika Serikat menjadi salah satu negara yang memilih abstain dalam pemungutan suara tersebut.
Selain berisi dukungan terhadap kedaulatan Ukraina, resolusi tersebut juga berisi desakan gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina. Sebab, hingga saat ini, kedua negara belum mencapai kesepakatan gencatan senjata untuk mengakhiri konflik.
3. Ukraina sudah melakukan upaya diplomasi untuk meraih kesepakatan gencatan senjata dengan Rusia

Ukraina sebetulnya sudah melakukan upaya diplomasi untuk berdamai dengan Rusia. Upaya diplomasi terakhir yang dilakukan Ukraina terjadi dalam pertemuan trilateral di Jenewa, Swiss, pada Selasa (17/2/2026) dan Rabu (18/2/2026) lalu.
Dalam pertemuan itu, Ukraina, Rusia, dan AS sebagai mediator berdiskusi soal gencatan senjata. Namun, usai pertemuan tersebut digelar, kesepakatan belum juga diraih. Ini membuat konflik antara Rusia dan Ukraina jadi makin alot.
Proses negosiasi juga sudah dilakukan Ukraina di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada akhir Januari dan awal Februari 2026 lalu. Namun, upaya tersebut juga gagal menghasilkan kesepakatan gencatan senjata dengan Rusia.
















