ilustrasi meta (unsplash.com/MarinaShalabaieva)
Apple juga mengeluarkan pernyataan resmi untuk menolak segala bentuk aturan yang melemahkan sistem enkripsi.
"Mengingat banyaknya pihak yang mencoba mencuri data pengguna, Bill C-22 bisa merusak kemampuan kami untuk memberikan fitur privasi dan keamanan terbaik yang diharapkan oleh pengguna Apple," kata perwakilan Apple, dilansir The Indian Express.
Apple menjelaskan bahwa sistem keamanan enkripsi yang menyeluruh sangat penting saat ini. Teknologi ini memastikan hanya pengguna yang bisa membuka data mereka. Bahkan pihak Apple dan penegak hukum tidak bisa membukanya tanpa kunci rahasia dari pengguna. Layanan seperti iMessage dan WhatsApp menggunakan teknologi ini untuk melindungi pesan pengguna dari pencurian data dan kejahatan siber.
Apple dengan tegas menolak untuk menurunkan standar keamanan data mereka demi aturan baru tersebut.
"Aturan ini bisa memberi ruang bagi pemerintah Kanada untuk memaksa perusahaan merusak enkripsi dengan membuat jalan masuk rahasia pada produk mereka, dan Apple tidak akan pernah melakukan hal itu," kata perwakilan Apple, dilansir The Edge Malaysia.
Sikap ini sama dengan yang dilakukan Apple pada tahun 2016. Saat itu, Apple menolak permintaan FBI untuk membuka iPhone milik pelaku penembakan di San Bernardino, California. Hal ini menunjukkan bahwa Apple siap menghadapi proses hukum atau menarik layanan mereka dari suatu negara demi menjaga keamanan enkripsi. Bagi Apple, membuat akses khusus untuk pemerintah sama saja dengan membuka jalan bagi peretas dan penjahat siber dari seluruh dunia untuk mencuri data pengguna.