ilustrasi perang (pexels.com/Pixabay)
Pada 22 Juni 2025, tujuh unit B-2 Spirit diberangkatkan dari Pangkalan Udara Whiteman di Missouri untuk menyerang fasilitas pengayaan nuklir Iran yang berada jauh di bawah tanah di Fordow dan Natanz dalam Operasi Midnight Hammer. Perjalanan menuju area sasaran memakan waktu sekitar 18 jam, sementara keseluruhan misi pulang-pergi berlangsung lebih dari satu hari.
Agar mampu menempuh jarak sejauh itu, pengisian bahan bakar di udara (aerial refueling) menjadi faktor krusial sepanjang rute penerbangan. Pesawat tanker KC-135 dan KC-46A Pegasus ditempatkan di sejumlah titik strategis guna melakukan pengisian berulang, sehingga B-2 dapat terus terbang 9-12 ribu km tanpa henti. Sementara itu, kelompok B-2 lain bergerak ke arah barat melintasi Samudra Pasifik sebagai pengalih perhatian untuk mendukung kelancaran jalur utama.
Kemampuan seperti ini tak dimiliki semua pesawat tempur yang beroperasi dari wilayah AS. Jet tempur seperti F-35, F-22, dan F-15E memiliki combat radius atau jarak tempur efektif pulang-pergi tanpa pengisian tambahan sekitar 600-1.200 km, bergantung varian serta muatan. Sekalipun melakukan pengisian bahan bakar di udara berkali-kali, misi serangan presisi jarak sangat jauh tetap sulit dan kurang efisien karena membutuhkan banyak tanker KC-135 atau KC-46.