Situasi Kian Memanas, Warga Iran Bersiap Hadapi Perang dengan AS

- Ketegangan Iran dan AS meningkat setelah ancaman serangan terbatas dari Presiden Trump, membuat warga Iran bersiap menghadapi kemungkinan perang dengan menyimpan kebutuhan pokok.
- AS memberi tenggat 15 hari bagi Iran untuk mencapai kesepakatan nuklir, sementara perundingan lanjutan dijadwalkan berlangsung di Swiss dengan mediasi Oman.
- Beberapa negara, termasuk India dan Australia, mengimbau warganya meninggalkan Iran akibat risiko konflik yang meningkat, sementara China memperingatkan AS agar tidak memicu ketegangan baru.
Jakarta, IDN Times - Risiko konflik dengan Amerika Serikat (AS) terus menghantui warga Iran. Sebagian dari mereka yakin hal tersebut akan terjadi dalam waktu dekat, mengingat ketegangan antara kedua negara yang terus meningkat.
Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump mengatakan tengah mempertimbangkan serangan terbatas terhadap Iran jika kesepakatan terkait program nuklir Teheran tidak kunjung tercapai. Menanggapi hal itu, Kementerian Luar Negeri Iran pada Senin (23/2/2026) menegaskan bahwa serangan sekecil apa pun akan dianggap sebagai tindakan agresi.
“Saya tidak tidur nyenyak pada malam hari meskipun sudah minum obat,” kata Hamid, seorang warga Teheran, dikutip dari SCMP.
Dalam situasi seperti ini, ia hanya mengkhawatirkan nasib anak-anak dan cucu-cucunya.
“Saya sudah menjalani hidup saya, tetapi mereka belum merasakan hal-hal baik dalam hidup; mereka tidak memiliki kesenangan, kenyamanan, waktu luang, maupun kedamaian. Saya ingin mereka setidaknya bisa merasakan hidup meski sebentar. Tetapi saya takut mereka mungkin tidak akan mendapat kesempatan itu,” ujarnya.
1. Warga telah persiapkan diri untuk hadapi serangan

Sementara itu, Hanieh, seorang perajin keramik asal Teheran, memprediksi perang akan terjadi dalam 10 hari. Ia bahkan telah menyimpan sejumlah kebutuhan pokok di rumahnya untuk menghadapi kemungkinan serangan AS menyusul peningkatan kehadiran militer mereka di kawasan tersebut.
“Saya semakin takut karena ibu dan saya mengalami banyak kesulitan selama perang 12 hari lalu. Kami harus pergi ke kota lain," jelas Hanieh.
Warga Teheran lainnya, Mina Ahmadvand, juga yakin perang akan terjadi dalam waktu dekat.
“Saya pikir pada tahap ini, perang antara Iran dan AS serta Israel tidak dapat dihindari dan saya telah mempersiapkan diri untuk kemungkinan tersebut. Saya membeli selusin makanan kaleng termasuk ikan tuna dan kacang-kacangan serta bungkus biskuit, air kemasan, dan beberapa baterai tambahan, dan lain-lain," ungkap teknisi IT tersebut.
Ibu kota Iran turut menjadi sasaran bom dalam perang 12 hari dengan Israel pada Juni 2025. Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer dan lokasi nuklir utama Iran, saat Teheran tengah bersiap untuk putaran perundingan berikutnya dengan AS, yang kemudian ikut bergabung dalam serangan tersebut.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan ratusan rudal balistik ke kota-kota di Israel. Ribuan orang di Iran dan puluhan orang di Israel tewas dalam konflik tersebut.
2. AS beri waktu 15 hari bagi Iran untuk mencapai kesepakatan

Dilansir dari France24, Iran menyatakan siap menyerahkan rancangan proposal terkait program nuklirnya kepada para mediator dalam beberapa hari mendatang. Sebelumnya, pada Kamis (19/2/2026), Trump mengatakan bahwa Teheran memiliki waktu paling lama 15 hari untuk mencapai kesepakatan.
Iran bersikeras bahwa program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan sipil. Namun, negara-negara Barat meyakini program tersebut diarahkan untuk pengembangan bom atom. Meski Teheran membatasi ruang lingkup negosiasi hanya pada isu nuklir, AS mendesak agar program rudal Iran dan dukungannya terhadap kelompok bersenjata di kawasan itu turut dimasukkan dalam agenda pembahasan.
Kedua negara telah menyelesaikan putaran kedua perundingan tidak langsung di Swiss dengan mediasi Oman pekan lalu. Perundingan selanjutnya, yang telah dikonfirmasi oleh Iran dan Oman, dijadwalkan berlangsung pada Kamis (26/2/2026).
3. Sejumlah negara imbau warganya untuk tinggalkan Iran

Risiko konflik ini juga mendorong sejumlah negara untuk mengambil langkah-langkah pencegahan. Pada Senin, India mengikuti langkah Swedia, Serbia, Polandia, dan Australia, yang menyerukan warganya agar segera meninggalkan Iran.
AS juga memerintahkan personel nondarurat untuk meninggalkan kedutaannya di Lebanon, yang menjadi basis Hizbullah, sekutu dekat Iran. Sementara itu, China memperingatkan Washington agar tidak memicu konflik baru.
“Kami menentang penindasan sepihak dan penggunaan kekuatan dalam hubungan internasional," kata Duta Besar China, Shen Jian, dalam konferensi perlucutan senjata di Jenewa.






![[QUIZ] Tes Seberapa Luas Wawasan Kamu Tentang Sejarah Kenabian, Bisa Jawab?](https://image.idntimes.com/post/20250330/kusi-kisah-nabi-cover-7d0b3b2b4abad8912775212d324e6661.jpg)










