Isu Iran Bikin Waswas, Rupiah Melemah ke Rp16.829 per Dolar AS

- Rupiah ditutup melemah ke Rp16.829 per dolar AS, turun 27 poin atau 0,16 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di tengah sentimen global yang tidak menentu.
- Ketegangan Iran-AS dan rencana pembicaraan nuklir di Jenewa memicu kekhawatiran pasar, sementara AS menarik personel diplomatik dari Beirut karena risiko konflik meningkat.
- Kebijakan tarif baru Donald Trump turut menekan pasar, dan analis memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif pada kisaran Rp16.830–Rp16.860 per dolar AS pada perdagangan berikutnya.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam penutupan perdagangan Selasa (24/2/2026). Rupiah ditutup di level Rp16.829 per dolar AS sore ini.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 27 poin atau 0,16 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.802 per dolar AS. Rupiah dibuka di level Rp16.845 per dolar AS dan bergerak dalam rentang Rp16.816-Rp16.846 per dolar AS.
1. Risiko ketegangan Iran-AS membayangi pasar
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyampaikan pelaku pasar masih mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Dia mengatakan Iran dan AS dijadwalkan menggelar putaran ketiga pembicaraan nuklir pada Kamis di Jenewa.
Dia menjelaskan AS menginginkan Iran menghentikan program nuklirnya. Namun, Iran disebut menolak tuntutan tersebut dan membantah tengah mengembangkan senjata atom.
Ibrahim juga menuturkan Departemen Luar Negeri AS telah menarik personel pemerintah yang tidak penting beserta keluarga mereka dari Kedutaan Besar AS di Beirut. Langkah itu, menurut pejabat senior Departemen Luar Negeri AS, dilakukan di tengah meningkatnya kekhawatiran risiko konflik militer dengan Iran.
Selain itu, dia menyampaikan Presiden AS Donald Trump melalui unggahan media sosial mengatakan situasi akan menjadi hari yang sangat buruk bagi Iran jika tidak tercapai kesepakatan.
"Selain itu, The New York Times melaporkan bahwa Washington sedang mempertimbangkan serangan terarah terhadap Iran, diikuti oleh serangan yang lebih besar yang bertujuan untuk menggulingkan Pemimpin Tertinggi secara paksa," ujarnya.
2. Ancaman tarif baru Trump ikut jadi sorotan
Di sisi lain, Ibrahim menyampaikan kebijakan perdagangan AS juga menjadi perhatian pelaku pasar. Trump memperingatkan negara-negara agar tidak menarik diri dari kesepakatan dagang yang baru saja dinegosiasikan dengan AS. Peringatan itu disampaikan setelah Mahkamah Agung (MA) Amerika Serikat membatalkan tarif darurat yang sebelumnya diberlakukan.
Menurutnya, Trump menyatakan akan mengenakan bea masuk yang jauh lebih tinggi menggunakan dasar undang-undang perdagangan yang berbeda. Bea masuk atau tarif sendiri merupakan pajak atas barang impor yang dapat memengaruhi harga dan arus perdagangan antarnegara.
"Trump mengatakan pada hari Sabtu bahwa ia akan menaikkan tarif sementara dari 10 persen menjadi 15 persen untuk impor AS dari semua negara, tingkat maksimum yang diizinkan berdasarkan hukum," ujar Ibrahim.
3. Proyeksi laju rupiah pada perdagangan Rabu
Untuk perdagangan Rabu (25/2/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif. Namun, dia menyebut mata uang Garuda berpotensi tetap berada dalam tekanan di kisaran Rp16.830-Rp16.860 per dolar AS.
Sementara itu, dalam 52 minggu terakhir, rupiah tercatat bergerak di kisaran Rp16.079-Rp17.224 per dolar AS. Sejak awal tahun atau year to date (ytd), rupiah masih mencatatkan pelemahan sekitar 0,89 persen.

















