Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pada tahun 1823, Presiden James Monroe memimpin rapat kabinet untuk menetapkan Doktrin Monroe, yang menegaskan bahwa Amerika merupakan wilayah politik dan ekonomi yang berbeda dari Eropa. (After Clyde O. DeLand, Public domain, via Wikimedia Commons)
Pada tahun 1823, Presiden James Monroe memimpin rapat kabinet untuk menetapkan Doktrin Monroe, yang menegaskan bahwa Amerika merupakan wilayah politik dan ekonomi yang berbeda dari Eropa. (After Clyde O. DeLand, Public domain, via Wikimedia Commons)

Intinya sih...

  • Doktrin Monroe adalah kebijakan luar negeri AS yang melarang campur tangan Eropa di Amerika Latin dan sebaliknya, serta memberikan dasar bagi AS untuk campur tangan di kawasan tersebut.

  • Evolusi doktrin ini terjadi dari pernyataan prinsip diplomatik menjadi justifikasi kebijakan AS di Amerika Latin, dengan diperluasnya interpretasi oleh Presiden Theodore Roosevelt.

  • Doktrin Monroe tetap relevan dalam kebijakan luar negeri AS hingga saat ini, mencerminkan sikap AS terhadap pengaruh asing di Amerika Latin dan peran dominannya di kawasan tersebut.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Doktrin Monroe sering disebut dalam diskusi geopolitik tentang kebijakan luar negeri Amerika Serikat di belahan Barat. Kebijakan yang pertama kali diperkenalkan pada 1823 ini, punya makna penting karena menandai cara pandang AS terhadap keterlibatan luar negeri, terutama di kawasan Amerika Latin.

Usai serangan AS ke Venezuela, doktrin Monroe kembali menjadi bahan pembicaraan. Ringkasan berikut menyusun fakta-fakta utama dari doktrin ini, evolusinya, dan bagaimana pemahamannya berkembang di masa kini.

1. Asal dan maksud Doktrin Monroe

Potret James Monroe (Samuel Finley Breese Morse, Public domain, via Wikimedia Commons)

Melansir Brittanica, Doktrin Monroe adalah kebijakan luar negeri AS yang diumumkan oleh Presiden James Monroe pada 2 Desember 1823. Intinya:

  • Amerika Serikat menyatakan bahwa negara-negara Eropa tidak boleh lagi menjajah atau ikut campur dalam urusan negara-negara di Amerika (Belahan Barat).

  • Sebagai imbalannya, AS berjanji tidak ikut campur dalam urusan dalam negeri atau konflik di Eropa.

  • Setiap intervensi Eropa di kawasan Amerika dipandang sebagai tindakan bermusuhan terhadap AS.

Konteks historisnya adalah munculnya negara-negara baru merdeka di Amerika Latin setelah runtuhnya dominasi kolonial Spanyol dan Portugal.

Selain itu, AS juga menegaskan bahwa mereka tidak akan ikut campur dalam urusan atau konflik internal bangsa-bangsa Eropa. Jika ada usaha kekuatan Eropa memperluas pengaruhnya di belahan Barat, AS akan menganggapnya sebagai ancaman terhadap keamanan nasional.

2. Evolusi konsep: Dari pernyataan ke justifikasi kebijakan

Theodore Roosevelt, mantan presiden AS (1915) (Pach Brothers (photography studio), Public domain, via Wikimedia Commons)

Meskipun doktrin ini pertama kali bersifat prinsip diplomatik, maknanya berkembang seiring kekuatan AS tumbuh. Pada awal abad ke-20, Presiden Theodore Roosevelt memperluas interpretasi doktrin ini dengan apa yang dikenal sebagai Roosevelt Corollary, yang menyatakan bahwa AS berhak campur tangan secara militer di negara Amerika Latin demi menjaga stabilitas dan melindungi kepentingannya.

Dalam praktiknya, ini memberi AS dasar untuk terlibat dalam urusan internal negara lain di kawasan Amerika, terutama ketika AS menilai stabilitas regional atau kepentingannya terancam, melansir History.

3. Makna Doktrin Monroe dalam kebijakan modern

Lukisan Doktrin Monroe (USCapitol, Public domain, via Wikimedia Commons)

Walau lahir hampir dua abad lalu, gagasan doktrin ini tetap muncul dalam wacana kebijakan luar negeri AS hingga sekarang. Banyak analis melihatnya sebagai simbol dari sikap AS terhadap pengaruh asing di belahan Barat dan peran dominan AS di kawasan tersebut. Dalam konteks kebijakan modern, istilah doktrin Monroe sering disebut ketika membahas strategi AS terhadap negara-negara Amerika Latin, termasuk ketegangan politik dan tekanan diplomatik yang dilakukan ketika kepentingan strategis AS dipertaruhkan.

Doktrin Monroe bermula sebagai pernyataan prinsip yang menentang kolonialisasi Eropa di belahan Barat, kemudian berkembang menjadi alat diplomatik dan justifikasi kebijakan luar negeri AS di kawasan Amerika Latin. Dari sejarah awalnya, melalui perluasan lewat Roosevelt Corollary, hingga keberlanjutannya dalam diskusi geopolitik saat ini, doktrin ini mencerminkan bagaimana satu kebijakan lama tetap relevan dalam memahami dinamika kekuasaan dan pengaruh global Amerika Serikat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team