Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Sejarah Intervensi AS di Amerika Latin: Guatemala hingga Venezuela

Sejarah Intervensi AS di Amerika Latin: Guatemala hingga Venezuela
ilustrasi serangan AS ke Venezuela (clickpetroleoegas.com.br)
Intinya sih...
  • Intervensi AS di Amerika Latin dimulai sejak era Perang Dingin.
  • AS terlibat dalam penggulingan pemerintahan di Guatemala dan Kuba pada 1954 dan 1961.
  • AS juga mendukung rezim militer di Republik Dominika, Chile, Argentina, dan negara lain di Amerika Latin.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times — Serangan militer Amerika Serikat (AS) ke Venezuela pada Sabtu (3/1/2026) menambah daftar panjang keterlibatan Washington di Amerika Latin.

Operasi tersebut, yang menurut Presiden AS Donald Trump berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, langsung memicu reaksi keras dari pemerintah Caracas dan sorotan internasional.

Peristiwa di Venezuela juga menghidupkan kembali catatan historis intervensi militer AS di kawasan tersebut. Sejak era Perang Dingin, AS tercatat berulang kali melakukan operasi terbuka maupun tertutup di Amerika Latin dengan beragam dalih, mulai dari memerangi komunisme hingga narkotika.

Berikut deretan intervensi AS di Amerika Latin.

Table of Content

1. Guatemala 1954 dan Kuba 1961, awal intervensi era Perang Dingin

1. Guatemala 1954 dan Kuba 1961, awal intervensi era Perang Dingin

Sejarah Intervensi AS di Amerika Latin: Guatemala hingga Venezuela
potret salah satu kota di Guatemala (unsplash.com/Paolo Margari)

Jejak intervensi AS di Amerika Latin tercatat jelas pada 27 Juni 1954 di Guatemala. Presiden Jacobo Arbenz Guzman digulingkan oleh tentara bayaran yang dilatih dan dibiayai Washington setelah kebijakan reformasi agraria dinilai mengancam kepentingan perusahaan AS, United Fruit Corporation.

Pada 2003, AS secara resmi mengakui peran Central Intelligence Agency (CIA) dalam kudeta tersebut dengan dalih memerangi komunisme.

Tujuh tahun berselang, AS kembali terlibat dalam upaya penggulingan pemerintahan di Kuba.

Antara 15 hingga 19 April 1961, sekitar 1.400 militan anti-Fidel Castro yang dilatih dan didanai CIA mendarat di Teluk Babi. Operasi tersebut gagal menggulingkan rezim komunis Kuba dan menewaskan lebih dari 100 orang di masing-masing pihak.

2. Republik Dominika dan dukungan pada rezim militer

Sejarah Intervensi AS di Amerika Latin: Guatemala hingga Venezuela
potret bendera Republik Dominika (unsplash.com/Aldward Castillo)

Pada 1965, AS mengirim marinir dan pasukan lintas udara ke Santo Domingo, Republik Dominika. Langkah itu dilakukan dengan alasan adanya “ancaman komunis” dan bertujuan menumpas pemberontakan yang mendukung Juan Bosch, presiden sayap kiri yang telah digulingkan dua tahun sebelumnya.

Memasuki dekade 1970-an dan 1980-an, Washington justru dikenal mendukung sejumlah rezim militer di Amerika Latin. AS secara aktif membantu diktator Chile, Augusto Pinochet, dalam kudeta 11 September 1973 terhadap Presiden Salvador Allende. Pada 1976, Menteri Luar Negeri AS saat itu, Henry Kissinger, menyatakan dukungan kepada junta militer Argentina.

Dalam periode yang sama, enam negara—Argentina, Chile, Uruguay, Paraguay, Bolivia, dan Brasil—bergabung dalam Operasi Condor untuk menyingkirkan lawan politik sayap kiri. Operasi tersebut disebut-sebut mendapat dukungan diam-diam dari AS.

3. Perang di Amerika Tengah dan invasi Grenada

Sejarah Intervensi AS di Amerika Latin: Guatemala hingga Venezuela
potret The Carenage, salah satu pelabuhan di Grenada (unsplash.com/Hugh Whyte)

Pada akhir 1970-an, kemenangan Sandinista yang menggulingkan diktator Nikaragua Anastasio Somoza memicu kekhawatiran Presiden AS Ronald Reagan.

Reagan kemudian mengizinkan CIA memberikan bantuan sebesar 20 juta dolar AS atau setara Rp334,35 miliar (kurs Rp16.717) kepada kelompok Contra, pasukan kontrarevolusioner Nikaragua. Konflik ini berkembang menjadi perang saudara yang berlangsung hingga April 1990 dan menewaskan sekitar 50.000 orang.

Di El Salvador, Reagan juga mengirim penasihat militer untuk menumpas pemberontakan Front Pembebasan Nasional Farabundo Martí (FMLN). Perang saudara di negara tersebut berlangsung selama 12 tahun dan menelan 72.000 korban jiwa.

Sementara itu, pada 25 Oktober 1983, AS mengerahkan marinir dan ranger ke Pulau Grenada setelah Perdana Menteri Maurice Bishop dibunuh oleh junta sayap kiri.

Operasi bertajuk “Urgent Fury” itu dilakukan atas permintaan Organisasi Negara-Negara Karibia Timur (OECS) dan bertujuan melindungi warga AS. Perserikatan Bangsa-Bangsa mengecam operasi yang menewaskan lebih dari 100 orang tersebut.

4. Panama 1989 dan Venezuela 2026

Sejarah Intervensi AS di Amerika Latin: Guatemala hingga Venezuela
potret bendera Panama (unsplash.com/Luis Gonzalez)

Pada 1989, Presiden AS George H.W. Bush memerintahkan invasi ke Panama untuk menangkap Jenderal Manuel Noriega, mantan kolaborator intelijen AS yang didakwa atas perdagangan narkoba. Sekitar 27 ribu tentara AS diterjunkan dalam Operasi Just Cause. Noriega akhirnya menyerahkan diri dan dibawa ke AS untuk diadili. CBS News mewartakan bahwa penangkapan Maduro terjadi tepat 36 tahun setelah penahanan Noriega.

Trump menyatakan bahwa AS akan “menjalankan negara” Venezuela “sampai saat di mana kita dapat melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana.” Sementara itu, Maduro disebut dibawa ke AS untuk menghadapi dakwaan terkait dugaan terorisme narkoba.

“Dominasi Amerika di belahan barat tidak akan pernah dipertanyakan lagi,” ujar Trump dalam konferensi pers setelah operasi tersebut, dikutip The Guardian.

Pemerintah Venezuela menilai serangan itu sebagai agresi militer dan menuding AS berupaya menguasai sumber daya strategis negara tersebut. Serangan AS ke Venezuela menempatkan negara tersebut dalam rangkaian panjang intervensi militer AS di Amerika Latin.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
Delvia Y Oktaviani
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More

Mensos Pastikan Bantuan Banjir di Kalimantan Selatan Sama dengan Sumatra

06 Jan 2026, 00:37 WIBNews