Presiden Kolombia, Gustavo Petro. (twitter.com/petrogustavo)
Sebelum telepon "perdamaian" itu terjadi, situasi di Kolombia sangat mencekam. Mengutip laporan dari The Guardian, ribuan warga Kolombia turun ke jalan di Bogota dan kota perbatasan Cucuta pada Rabu waktu setempat untuk memprotes ancaman invasi AS. Mereka meneriakkan slogan "Fuera los yanquis!!" (Keluar lah Yankee!) dan menyebut Trump sebagai "iblis".
Presiden Gustavo Petro, yang merupakan mantan gerilyawan sayap kiri, merespons ancaman awal Trump dengan sangat keras. Dalam sebuah postingan di X (Twitter), Petro memperingatkan bahwa rakyat Kolombia tidak akan tinggal diam jika kedaulatan mereka terganggu.
"Jika Anda menahan seorang presiden yang diinginkan dan dihormati oleh banyak rakyat saya, Anda akan melepaskan "jaguar" milik rakyat," tulis Petro, merujuk pada potensi perlawnaan massal.
Bahkan, Petro sempat bersumpah akan mengangkat senjata kembali jika negerinya diserang.
"Saya bersumpah tidak akan menyentuh senjata lagi sejak perjanjian damai 1989, tetapi demi tanah air, saya akan mengangkat senjata lagi, meskipun saya tidak menginginkannya," tegas Petro seperti dikutip dari Al Jazeera.
Menteri Luar Negeri Kolombia, Rosa Yolanda Villavicencio, juga sempat memberikan peringatan keras konferensi pers hari Selasa (6/1/2026) lalu waktu setempat.
"Jika agresi seperti itu terjadi, militer harus mempertahankan wilayah nasional dan kedaulatan negara," ujar Villavicencio.