Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Serangan Israel Tewaskan 51 Orang di Lebanon, Termasuk Petugas Medis
serangan Israel di Lebanon pada 2024 (Jimmyp84, CC0, via Wikimedia Commons)
  • Sedikitnya 51 orang, termasuk dua petugas medis, tewas akibat serangan Israel di Lebanon meski gencatan senjata masih berlaku sejak pertengahan April 2026.
  • Kementerian Kesehatan Lebanon menuduh Israel sengaja menargetkan fasilitas medis, sementara Amnesty International menyebut tindakan itu bisa tergolong kejahatan perang.
  • Hizbullah membalas dengan melancarkan 24 serangan terhadap posisi militer Israel dan kedua negara dijadwalkan menggelar perundingan lanjutan di Washington DC.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kementerian Kesehatan Lebanon, pada Minggu (10/5/2026), melaporkan bahwa sedikitnya 51 orang, termasuk dua petugas medis, tewas akibat serangan Israel dalam 24 jam terakhir. Serangan ini terjadi di tengah gencatan senjata, yang sudah memasuki minggu ketiga.

“Musuh Israel terus melanggar hukum internasional dan norma kemanusiaan, serta menambah daftar kejahatan terhadap paramedis dengan secara langsung menargetkan dua lokasi milik Otoritas Kesehatan di Qalawiya dan Tibnin, distrik Bint Jbeil, dalam dua serangan,” kata kementerian tersebut.

1. 103 petugas medis tewas di Lebanon sejak Maret 2026

dampak serangan Israel di Lebanon (User Mema435 on en.wikipedia, CC BY-SA 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/2.0>, via Wikimedia Commons)

Dalam pernyataan pada Minggu, militer Israel mengatakan bahwa pasukannya telah menyerang lebih dari 20 sasaran infrastruktur teroris di Lebanon selatan, termasuk fasilitas penyimpanan senjata dan markas kelompok Hizbullah

Israel terus melancarkan serangan ke Lebanon meski gencatan senjata antara kedua negara yang dimediasi oleh Amerika Serikat (AS) telah diberlakukan mulai 17 April lalu. Menurut Kementerian kesehatan Lebanon, 2.846 orang telah terbunuh di seluruh negeri sejak perang antara Israel dengan Hizbullah kembali meletus pada 2 Maret. Dari jumlah tersebut, 103 di antaranya adalah petugas medis.

“Kami berada dalam ancaman setiap detik, setiap hari. Kami terus bertanya-tanya apakah kami akan selamat atau justru mati. Kami tahu bahwa dengan bekerja di sini, kami seperti sudah menyerahkan hidup kami. Kami telah kehilangan begitu banyak orang dan rasanya kami juga sudah tiada," kata Ali Safiuddin, kepala Pertahanan Sipil Lebanon di Tirus, Lebanon selatan, kepada Al Jazeera.

2. Pola kekerasan yang dilakukan Israel di Lebanon sama seperti di Gaza

Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza (Jaber Jehad Badwan, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

Tahir Mohammed, seorang ahli bedah perang, dan pekerja kemanusiaan yang pernah bekerja di Gaza dan Lebanon, mengaku melihat adanya kesamaan dalam tindakan Israel di kedua wilayah tersebut.

“Kami sering melihat rekan-rekan kami di Gaza datang melalui pintu rumah sakit sepanjang waktu. Saya kehilangan rekan kerja, perawat, hingga mahasiswa kedokteran yang tewas akibat senjata Israel. Jadi melihat kebijakan yang sama berupa penargetan tenaga kesehatan di Lebanon, itu konsisten,” ujarnya.

Israel sebelumnya kerap menuduh Hizbullah menggunakan ambulans dan fasilitas medis untuk kepentingan militer tanpa memberikan bukti. Klaim tersebut dibantah keras oleh Menteri Kesehatan Lebanon.

Sementara itu, Amnesty International menyatakan bahwa serangan sengaja terhadap petugas medis yang menjalankan tugas kemanusiaan merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.

3. Hizbullah terus lakukan serangan balik terhadap Israel

Pasukan Hizbullah melakukan latihan di desa Aaramta di distrik Jezzine, Lebanon selatan, pada Mei 2023 (Tasnim News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Hizbullah juga terus melanjutkan serangannya terhadap pasukan Israel. Sekutu Iran itu mengatakan bahwa serangan tersebut dilakukan sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan Israel serta serangan terhadap warga sipil dan desa-desa di Lebanon selatan.

Dilansir dari Anadolu, Hizbullah, pada Senin (11/5/2026) mengatakan telah melancarkan 24 serangan yang menargetkan posisi tentara Israel, pasukan dan kendaraan militer di Lebanon selatan dalam 24 jam terakhir.

Sementara itu, pemerintah Lebanon dan Israel tengah bersiap melakukan perundingan putaran ketiga yang akan berlangsung di Washington DC, AS, pada 14-15 Mei. Diplomat senior Lebanon, Simon Karam, telah ditunjuk oleh Presiden Joseph Aoun sebagai pemimpin delegasi negara itu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team