ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Dilansir The Jerusalem Post, AS diketahui melakukan komunikasi tidak langsung dengan Ghalibaf untuk menghentikan Operasi Epic Fury. Presiden AS Donald Trump menggambarkan dialog itu berjalan positif hingga mendorongnya menunda serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari.
“Kami berurusan dengan seorang pria yang menurut saya adalah yang paling dihormati dan pemimpin,” kata Trump, dikutip dari Hindustan Times.
Namun, Ghalibaf membantah keterlibatan tersebut. Ia menegaskan tidak ada negosiasi dengan AS dan menyebut laporan itu sebagai upaya manipulasi pasar keuangan dan minyak.
“Rakyat Iran menuntut hukuman yang lengkap dan penuh penyesalan terhadap para agresor,” kata Ghalibaf.
Dilansir Politico, beberapa pejabat di pemerintahan AS memandang Ghalibaf sebagai figur yang cukup realistis untuk diajak bekerja sama dalam fase lanjutan konflik. Ia dinilai memiliki peluang untuk memimpin Iran sekaligus membuka jalur komunikasi dengan Washington. Meski begitu, Gedung Putih belum menetapkan pilihan pada satu nama. Sejumlah tokoh masih dalam tahap penilaian untuk melihat siapa yang paling memungkinkan diajak mencapai kesepakatan di tengah situasi yang terus berkembang.
Sejak Mei 2020, Ghalibaf menjabat sebagai Ketua Parlemen Iran setelah sebelumnya menjadi wali kota Teheran dan kepala polisi nasional. Ia juga telah empat kali mencalonkan diri sebagai presiden, tetapi belum pernah memenangkan pemilihan.