Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Siapa Sosok Ghalibaf yang Digadang AS jadi Pemimpin Iran?
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf diincar AS jadi sosok yang bisa tengahi konflik AS-Iran. (AFP/Atta Kenar)
  • Mohammad-Bagher Ghalibaf disebut berperan penting dalam komunikasi tidak langsung dengan AS, namun ia membantah tudingan tersebut dan menilai laporan itu sebagai manipulasi pasar minyak.
  • Latar belakang militernya di Korps Pengawal Revolusi Islam sejak 1980 membuat Ghalibaf memiliki pengaruh kuat serta kedekatan dengan tokoh militer seperti Qasem Soleimani.
  • Ghalibaf memegang peran strategis dalam kebijakan militer Iran, dipandang sebagai konservatif pragmatis oleh pendukungnya namun dikritik karena dugaan keterlibatan dalam korupsi sistemik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Nama Mohammad-Bagher Ghalibaf mencuat di tengah dinamika politik Iran setelah disebut-sebut berperan penting dalam komunikasi dengan Amerika Serikat (AS). Sosoknya dikenal sebagai figur kuat dengan latar belakang militer dan pengaruh besar di dalam struktur kekuasaan Iran.

Menurut laporan The Jerusalem Post, Ghalibaf bahkan disebut secara praktis memimpin Iran dari dalam negeri. Hal ini membuatnya menjadi tokoh kunci yang diperhitungkan dalam situasi geopolitik terkini.

1. Ghalibaf bantah terlibat dialog dengan AS

ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Dilansir The Jerusalem Post, AS diketahui melakukan komunikasi tidak langsung dengan Ghalibaf untuk menghentikan Operasi Epic Fury. Presiden AS Donald Trump menggambarkan dialog itu berjalan positif hingga mendorongnya menunda serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari.

“Kami berurusan dengan seorang pria yang menurut saya adalah yang paling dihormati dan pemimpin,” kata Trump, dikutip dari Hindustan Times.

Namun, Ghalibaf membantah keterlibatan tersebut. Ia menegaskan tidak ada negosiasi dengan AS dan menyebut laporan itu sebagai upaya manipulasi pasar keuangan dan minyak.

“Rakyat Iran menuntut hukuman yang lengkap dan penuh penyesalan terhadap para agresor,” kata Ghalibaf.

Dilansir Politico, beberapa pejabat di pemerintahan AS memandang Ghalibaf sebagai figur yang cukup realistis untuk diajak bekerja sama dalam fase lanjutan konflik. Ia dinilai memiliki peluang untuk memimpin Iran sekaligus membuka jalur komunikasi dengan Washington. Meski begitu, Gedung Putih belum menetapkan pilihan pada satu nama. Sejumlah tokoh masih dalam tahap penilaian untuk melihat siapa yang paling memungkinkan diajak mencapai kesepakatan di tengah situasi yang terus berkembang.

Sejak Mei 2020, Ghalibaf menjabat sebagai Ketua Parlemen Iran setelah sebelumnya menjadi wali kota Teheran dan kepala polisi nasional. Ia juga telah empat kali mencalonkan diri sebagai presiden, tetapi belum pernah memenangkan pemilihan.

2. Latar belakang militer yang membentuk pengaruh

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf (AFP)

Ghalibaf lahir pada 1961 di Iran timur laut dan bergabung dengan Korps Pengawal Revolusi Islam sejak 1980. Karier militernya melesat saat Perang Iran-Irak hingga meraih pangkat jenderal dalam waktu singkat.

Setelah itu, ia beralih menjadi pilot militer dan memimpin unit angkatan udara IRGC. Pengalaman ini menjadi fondasi utama yang membentuk kekuatan politiknya di Iran.

Dr. Raz Zimmt dari Institute for National Security Studies menilai Ghalibaf memiliki kedekatan internal yang tidak dimiliki banyak politisi lain. Ia juga memiliki hubungan erat dengan Qasem Soleimani yang memperkuat kredibilitasnya di kalangan militer.

3. Peran strategis di balik pemerintahan Iran

Bendera Iran (pexels.com/Engin Akyurt)

Zimmt menjelaskan pembagian peran di Teheran berjalan jelas antara presiden yang mengurus administrasi sipil dan Ghalibaf yang berperan dalam strategi serta militer negara. Hal ini menempatkannya sebagai figur penting di balik pengambilan keputusan.

Di sisi lain, pendukungnya melihat Ghalibaf sebagai konservatif pragmatis karena pengalaman panjang mengelola birokrasi besar. Namun, kritik menyebutnya sebagai figur populis yang terkait dengan korupsi sistemik.

Ghalibaf juga kerap melontarkan pernyataan keras, termasuk menyasar entitas keuangan yang mendukung anggaran militer AS sebagai target sah. Ketegangan kawasan sendiri meningkat setelah tewasnya Ali Khamenei dalam serangan gabungan AS-Israel, yang kemudian memicu respons militer Iran di kawasan Teluk dan berdampak pada jalur energi global.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team