Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Netanyahu Frustrasi Mossad Gagal Tumbangkan Rezim Iran

Netanyahu Frustrasi Mossad Gagal Tumbangkan Rezim Iran
PM Israel Benjamin Netanyahu (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Benjamin Netanyahu dilaporkan frustrasi karena operasi Mossad gagal memicu pemberontakan di Iran, padahal rencana itu semula diyakini bisa mempercepat runtuhnya rezim Teheran.
  • Militer AS dan AMAN sejak awal skeptis terhadap skenario Mossad, menilai warga Iran tidak akan berani turun ke jalan di tengah serangan udara dan ancaman aparat keamanan.
  • Kepemimpinan David Barnea mengubah arah kebijakan Mossad dengan fokus menjatuhkan rezim Iran secara langsung, berbeda dari pendekatan bertahap Yossi Cohen yang mengandalkan sanksi ekonomi dan operasi rahasia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan merasa frustrasi terhadap kegagalan intelijen Mossad. Janji lembaga tersebut untuk memicu pemberontakan massal di Iran pada awal perang belum membuahkan hasil.

Laporan The New York Times pada Senin (23/3/2026) menyebutkan skenario itu sempat membuat Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump optimis untuk memulai perang. Awalnya, mereka yakin operasi intelijen mampu meruntuhkan pemerintah Iran dengan cepat.

"Kini, Trump bisa saja memutuskan untuk menghentikan operasi militer kapan saja jika operasi Mossad tak kunjung membuahkan hasil" keluh Netanyahu, dilansir The Times of Israel.

1. Militer AS skeptis terhadap rencana Mossad

ilustrasi bendera Amerika Serikat. (unsplash.com/Brandon Mowinkel)
ilustrasi bendera Amerika Serikat. (unsplash.com/Brandon Mowinkel)

Pemimpin Mossad David Barnea mempresentasikan rencana tersebut ke Washington pada pertengahan Januari. Badan intelijen militer Israel, AMAN, bersama pejabat AS sejak awal meragukan keberhasilan skenario ini.

Petinggi militer AS telah memperingatkan Trump bahwa warga Iran tidak akan menggelar protes saat bom berjatuhan. Masyarakat juga diprediksi akan takut turun ke jalan karena ancaman tembakan dari aparat keamanan.

"Mereka tidak menyukai rezim ini, tetapi mereka tidak ingin mati menentangnya. Sekitar 60 persen warga akan tetap tinggal di rumah," ujar mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS Nate Swanson, dilansir The New York Times.

Tiga pekan berlalu, evaluasi terbaru menunjukkan rezim teokrasi Iran masih utuh meski melemah. Kondisi di lapangan dinilai belum cukup untuk memicu gerakan perlawanan sipil skala besar.

2. Mossad pertimbangkan keterlibatan milisi Kurdi

ilustrasi protes di Iran
ilustrasi protes di Iran (unsplash.com/Nk Ni)

Salah satu skenario operasi Mossad melibatkan invasi milisi Kurdi Iran dari wilayah utara Irak. Namun, Trump telah melarang kelompok bersenjata Kurdi untuk ikut campur.

Selain Trump, Turki juga menekan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio untuk menolak skenario yang melibatkan milisi Kurdi. Pasalnya, pemerintah Turki telah lama berkonflik dengan separatis Kurdi di perbatasan.

Sementara itu, Presiden Uni Patriotik Kurdistan Bafel Talabani menilai keterlibatan kelompok Kurdi justru akan menjadi bumerang.

"Menurut saya mereka khawatir kedatangan Kurdi dari tempat lain akan menyebabkan perpecahan atau perselisihan di Iran, hal ini justru dapat menyatukan rakyat Iran melawan gerakan separatis," kata Talabani, dilansir Fox News.

Pesawat tempur Israel sendiri diketahui telah membombardir area barat laut Iran pada hari-hari pertama. Serangan udara itu awalnya ditujukan untuk membuka jalan bagi pergerakan pasukan Kurdi.

3. Perubahan arah kebijakan Mossad terhadap Iran

unjuk rasa pendukung Ayatollah Ali Khamenei di Gorgan, Iran pada 2018
unjuk rasa pendukung Ayatollah Ali Khamenei di Gorgan, Iran pada 2018 ( Tasnim News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Arah kebijakan Mossad berubah drastis di bawah kepemimpinan Barnea. Mantan Kepala Mossad Yossi Cohen sebelumnya menganggap upaya memicu pemberontakan di Iran sebagai tindakan sia-sia.

Cohen lebih memilih pelemahan bertahap melalui sanksi ekonomi dan pembunuhan ilmuwan nuklir. Sebaliknya, Barnea memfokuskan sumber daya lembaganya untuk mengupayakan skenario kejatuhan rezim.

Laporan Channel 12 mengungkap prediksi asli Barnea kepada kabinet Israel ternyata lebih berhati-hati. Mossad memperkirakan keruntuhan pemerintah Iran bisa memakan waktu hingga setahun setelah perang dimulai.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More