Cek Fakta: Benarkah AS-Iran Akan Berdamai?

- Iran meluncurkan serangan rudal ke Israel setelah AS menunda operasi militernya, memicu kembali ketegangan di kawasan tanpa laporan korban jiwa.
- Trump mengklaim ada pembicaraan damai dengan Iran, namun Teheran membantah keras dan menuduh AS menyebarkan berita palsu demi kepentingan politik dan ekonomi.
- Washington mulai mempertimbangkan jalur diplomasi dengan mencari figur kunci Iran seperti Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, meski belum ada keputusan final atau konfirmasi pertemuan resmi.
Jakarta, IDN Times - Iran melancarkan gelombang serangan rudal ke wilayah Israel, tak lama setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penundaan sementara serangan terhadap infrastruktur energi Teheran selama lima hari.
Rudal-rudal Iran terlihat melintas di langit Israel dan memicu sirene peringatan di berbagai wilayah, termasuk Tel Aviv. Serangan ini menambah ketegangan di tengah situasi yang sebelumnya sempat mereda.
Sejumlah rumah di wilayah utara Israel dilaporkan mengalami kerusakan akibat puing rudal yang jatuh setelah berhasil diintersepsi sistem pertahanan udara. Hingga kini, belum ada laporan korban jiwa dari serangan tersebut.
Di tengah eskalasi itu, Trump sebelumnya mengumumkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah melakukan pembicaraan intensif terkait konflik di Timur Tengah.
“Dengan senang hati saya melaporkan Amerika Serikat dan Iran telah melakukan pembicaraan yang sangat baik dan produktif selama dua hari terakhir mengenai penyelesaian lengkap dan total permusuhan kami di Timur Tengah,” ujar Trump melalui media sosial Truth Social.
Ia menambahkan, hasil pembicaraan tersebut mendorong keputusan untuk menunda serangan militer terhadap fasilitas energi Iran. “Berdasarkan isi dan nada pembicaraan yang mendalam, rinci, dan konstruktif ini, saya telah menginstruksikan Departemen Perang untuk menunda semua serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari,” lanjutnya.
Pengumuman itu sempat berdampak positif pada pasar global, dengan harga saham menguat dan harga minyak turun ke bawah 100 dolar AS per barel.
Namun, bagaimana sebenarnya fakta konflik ini? Apakah benar Iran dan AS akan menempuh jalur damai?
1. Iran bantah ada negosiasi

Meski Trump mengklaim adanya komunikasi intensif, pihak Iran justru membantah keras pernyataan tersebut. Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan tidak ada pembicaraan yang berlangsung antara kedua negara.
“Tidak ada negosiasi yang dilakukan dengan AS. AS sedang menggunakan berita palsu untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak serta menghindari jebakan yang menjerat AS-Israel,” tulis Qalibaf melalui platform X, seperti dikutip dari Al Jazeera, Selasa (24/3/2026).
Pernyataan ini memperlihatkan perbedaan narasi yang tajam antara Washington dan Teheran di tengah konflik yang masih berlangsung.
2. Manuver politik terbaru AS

Iran juga menuding langkah Trump sebagai upaya mengulur waktu untuk menyusun kembali kekuatan militer. Di sisi lain, Teheran menegaskan tidak akan menghentikan serangan terhadap AS dan Israel.
Namun, Trump sendiri kembali menegaskan komunikasi dengan Iran memang terjadi. Ia menyebut utusan khususnya, Steve Witkoff, bersama Jared Kushner telah melakukan pembicaraan dengan pejabat tinggi Iran.
“Kami telah melakukan pembicaraan yang sangat-sangat intens. Kita akan lihat ke mana arahnya. Kami memiliki poin-poin kesepakatan utama,” kata Trump kepada wartawan.
3. Ketua Parlemen Iran masuk radar AS untuk jadi penengah

Washington kini diam-diam mempertimbangkan jalur diplomasi dengan mencari figur kunci di dalam sistem politik Iran yang dinilai bisa diajak bernegosiasi.
Salah satu nama yang mencuat adalah Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Politisi berusia 64 tahun itu disebut-sebut oleh sebagian pejabat Gedung Putih sebagai sosok yang ‘bisa diajak bekerja sama’ dalam fase berikutnya dari konflik yang telah mengguncang kawasan dan pasar global.
Meski demikian, sumber internal menyebut pemerintah AS belum mengambil keputusan final. Mereka masih menguji sejumlah kandidat potensial yang dianggap memiliki pengaruh di dalam negeri Iran sekaligus peluang untuk membuka ruang kesepakatan dengan Washington.
Langkah ini mencerminkan perubahan arah dari strategi konfrontatif menuju upaya mencari jalan keluar dari konflik yang kian kompleks, di tengah lonjakan harga minyak, tekanan ekonomi global, dan kekhawatiran eskalasi yang lebih luas.
Menurut dua pejabat pemerintahan AS, Ghalibaf dinilai sebagai salah satu opsi paling menonjol dalam daftar kandidat yang sedang dipertimbangkan. Namun, Gedung Putih masih berhati-hati dan tidak ingin terburu-buru menetapkan satu nama.
“Dia adalah opsi yang menarik,” ujar salah satu pejabat. Namun ia menegaskan, “kami harus mengujinya, dan kami tidak bisa terburu-buru.”
4. Ada sinyal pertemuan, namun masih tak pasti

Di tengah klaim yang saling bertolak belakang, muncul laporan mengenai kemungkinan pertemuan langsung antara pejabat AS dan Iran. Seorang pejabat Pakistan menyebut pembicaraan itu bisa berlangsung di Islamabad dalam waktu dekat.
Wakil Presiden AS JD Vance, bersama Witkoff dan Kushner, disebut-sebut akan terlibat dalam pertemuan tersebut. Rencana ini muncul setelah komunikasi antara Trump dan Panglima Militer Pakistan, Asim Munir.
Namun hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Pakistan terkait rencana tersebut. Kantor perdana menteri dan kementerian luar negeri Pakistan juga belum memberikan pernyataan.
Situasi ini menunjukkan bahwa di balik eskalasi militer yang terus berlangsung, jalur diplomasi masih dibayangi ketidakpastian dan perbedaan klaim dari masing-masing pihak.


















