Presiden Venezuela, Nicolás Maduro. (Kremlin.ru, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)
Operasi penangkapan Maduro dilakukan oleh pasukan khusus AS dalam serangan fajar di Caracas pada 3 Januari 2026. Presiden Trump kemudian menyatakan bahwa AS akan mengelola Venezuela untuk jangka waktu yang tidak ditentukan dan mengancam serangan lanjutan jika diperlukan.
Maduro dan istrinya, Cilia Flores, telah diterbangkan ke New York untuk menghadapi dakwaan federal terkait perdagangan narkoba dan terorisme. Dalam sidang perdananya, pemimpin sosialis tersebut mengaku tidak bersalah atas semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya.
Dilansir The Guardian, penangkapan Maduro telah memicu aksi protes dari berbagai kalangan diaspora Venezuela di luar gedung pengadilan federal Manhattan. Sebagian merayakan penahanan tersebut sebagai bentuk keadilan, sementara demonstran lain mengecam tindakan itu sebagai pelanggaran hukum internasional. Maduro sendiri menyatakan dirinya adalah korban penculikan militer dan masih menjabat sebagai presiden sah.
"Saya tidak bersalah, saya adalah orang yang baik dan saya masih presiden negara saya. Saya menolak tuduhan ini dan menyatakan diri sebagai korban penculikan," tegas Maduro melalui penerjemah di pengadilan federal New York, dilansir Al Jazeera.