Jalan Panjang Big Oil Kembali ke Venezuela Usai Maduro Ditangkap

- Penangkapan Maduro memicu optimisme pasar, tetapi pasokan minyak Venezuela tak akan pulih cepat.
- Infrastruktur rusak dan ketidakstabilan politik menjadi hambatan utama Big Oil kembali ke Venezuela.
- Perusahaan jasa migas dan kilang AS berpotensi menjadi penerima manfaat awal.
Jakarta, IDN Times — Saham perusahaan energi global menguat pada awal pekan setelah Amerika Serikat (AS) menangkap pemimpin Venezuela Nicolás Maduro. Pasar mulai memperhitungkan kemungkinan terbukanya kembali akses ke salah satu negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, meski para analis menilai pemulihan industri minyak Venezuela tidak akan terjadi secara cepat.
Kenaikan saham ini mencerminkan optimisme jangka pendek, namun kondisi lapangan menunjukkan Venezuela masih menghadapi tantangan struktural besar. Infrastruktur yang rusak, sanksi internasional, serta ketidakpastian politik menjadi faktor utama yang membuat kembalinya perusahaan minyak besar ke negara tersebut diperkirakan berlangsung lambat.
Table of Content
1. Saham energi menguat, tapi pasokan tak akan cepat mengalir

Pada perdagangan Senin (5/1/2026), saham raksasa minyak AS seperti ExxonMobil dan ConocoPhillips masing-masing naik sekitar 2 persen dan 3 persen. Chevron, satu-satunya perusahaan minyak AS yang masih beroperasi di Venezuela, melonjak sekitar 6 persen. Perusahaan jasa ladang minyak seperti Baker Hughes, Schlumberger, dan Halliburton juga mencatatkan kenaikan lebih dari 5 persen.
Meski begitu, analis menilai Venezuela bukan cerita tentang tambahan pasokan minyak dalam waktu dekat. Mark Wilson, analis ekuitas Jefferies yang fokus pada sektor energi, menekankan bahwa peningkatan produksi akan memakan waktu.
“Setiap peningkatan pasokan minyak Venezuela yang berarti akan berlangsung bertahap, membutuhkan stabilitas politik, pencabutan sanksi AS, dan investasi eksternal, namun akan masuk ke pasar yang harga minyaknya telah melemah selama tiga tahun terakhir,” ujar Wilson, dilansir Yahoo Finance.
2. Dari raksasa minyak dunia ke industri yang terpuruk

Menjelang pergantian abad dan naiknya Hugo Chávez, Venezuela merupakan kekuatan utama di pasar minyak global. Negara ini memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, lebih dari 300 miliar barel. Pada 1990-an hingga awal 2000-an, Venezuela mengekspor lebih dari 3 juta barel per hari.
Dua dekade kemudian, ekspor minyaknya turun di bawah 1 juta barel per hari. Sanksi Departemen Keuangan AS terhadap kapal tanker membuat minyak Venezuela semakin tidak menarik bagi pembeli global, sementara AS kini mengekspor lebih dari 4 juta barel per hari.
Penurunan ini dipicu oleh investasi yang minim, korupsi, serta model kontrol negara yang membiarkan infrastruktur membusuk. Di ladang minyak, rig rusak dan dijarah, tumpahan minyak tidak tertangani, dan di pelabuhan proses pemuatan supertanker kini bisa memakan waktu hingga lima hari, dibanding satu hari sebelumnya.
Venezuela juga mengalami brain drain besar-besaran. Tenaga ahli migas yang dulu menjadi tulang punggung industri kini banyak bekerja di Houston atau Timur Tengah.
3. Big Oil masih enggan ambil risiko

Wakil Presiden Eksekutif Welligence, Carlos Bellorin mengatakan, perusahaan minyak besar (big oil) cenderung berhati-hati untuk kembali masuk ke Venezuela.
“Mereka akan enggan masuk ke Venezuela, terutama pada bulan-bulan awal dan tahun-tahun awal pemerintahan transisi ini,” ujar Bellorin.
Bellorin menambahkan, kondisi keuangan perusahaan minyak besar saat ini tidak ideal, sehingga mereka lebih memilih mengurangi risiko dan fokus pada aset inti. Sementara itu, Jorge León dari Rystad Energy menilai pemulihan industri minyak Venezuela akan memakan waktu panjang.
“Jika situasi stabil, pemerintahan baru terbentuk, kondisinya benar-benar membaik, dan tidak ada risiko kudeta atau semacamnya, maka secara bertahap dengan investasi besar negara ini bisa terbuka, tapi saya rasa ini bukan soal beberapa bulan,” kata León.
“Saya pikir kita berbicara soal bertahun-tahun,” tambahnya.
4. Perusahaan jasa migas dan kilang AS berpeluang diuntungkan

Berbeda dengan perusahaan minyak hulu, perusahaan jasa ladang minyak dinilai lebih siap masuk lebih awal. Bellorin menyebut, perusahaan seperti Schlumberger, Halliburton, dan Baker Hughes akan sangat dibutuhkan untuk memperbaiki dan meningkatkan produksi.
“Anda lebih dari sebelumnya membutuhkan Schlumberger, Halliburton, dan Baker Hughes untuk meningkatkan dan mempertahankan produksi,” kata Bellorin.
Industri kilang minyak AS juga berpotensi diuntungkan karena minyak Venezuela merupakan heavy sour crude yang cocok dengan kapasitas kilang di Pantai Teluk AS. Analis Mizuho, Nitin Kumar, menyebut Venezuela sebagai “the fallen angel” dari pasar minyak global.
Chevron disebut sebagai kandidat penerima manfaat terbesar. Perusahaan ini memiliki hubungan lama dengan pemerintah setempat dan operasi terintegrasi dari hulu hingga hilir.
“Mereka memainkan permainan jangka panjang, dan mereka menang,” ujar Bellorin.
Meski pasar bereaksi positif dalam jangka pendek, pemulihan industri minyak Venezuela diperkirakan berlangsung lambat dan penuh tantangan.
FAQ seputar jalan panjang Big Oil di Venezuela
| Mengapa saham perusahaan minyak naik setelah Maduro ditangkap? | Investor melihat potensi terbukanya kembali pasar minyak Venezuela. |
| Apakah Venezuela bisa cepat meningkatkan produksi minyak? | Analis menilai peningkatan produksi akan berlangsung bertahap dan memakan waktu bertahun-tahun. |
| Siapa yang paling diuntungkan dari pemulihan Venezuela? | Perusahaan jasa migas dan Chevron dinilai memiliki peluang terbesar. |


















