Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Potret kota Taipei di Taiwan. (unsplash.com/James Hunt)
Potret kota Taipei di Taiwan. (unsplash.com/James Hunt)

Intinya sih...

  • Angka kelahiran di Taiwan menurun drastis karena perempuan menikah di usia lebih tua, memilih keluarga kecil, dan biaya hidup yang tinggi.

  • Taiwan menghadapi tantangan demografis dengan dua gelombang pensiun besar-besaran yang akan mengurangi angkatan kerja hingga 6,7 juta orang.

  • Anak muda Taiwan lebih tertarik pada sektor teknologi dan pekerja lepas, sementara bisnis harus beradaptasi dengan jam kerja fleksibel dan beban kerja yang ringan.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Taiwan menghadapi krisis demografi serius akibat angka kelahiran sangat rendah. Hal ini mengakibatkan populasi menua cepat dan menyusut, yang berdampak langsung pada penurunan angkatan kerja.

Baru-baru ini, Kementerian Dalam Negeri Taiwan meluncurkan laporan mengenai jumlah populasi yang menurun secara keseluruhan dan penuaan penduduk. Disebutkan, pulau berpenduduk lebih dari 23 juta jiwa tersebut telah menjadi 'masyarakat super tua' untuk pertama kalinya.

"Pada 2025 terdapat 4.673.155 orang berusia 65 tahun ke atas di Taiwan atau 20,06 persen dari total populasi," kata data kementerian tersebut yang dirilis pada 9 Januari 2026, dikutip dari The Straits Times.

Ini berarti Taiwan memenuhi kriteria Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk masyarakat super tua, dengan satu dari setiap lima warga berusia 65 tahun atau lebih. Data kementerian juga menunjukkan bahwa orang yang berusia hingga 14 tahun mencapai 11,51 persen dari total populasi.

1. Angka kelahiran yang menyusut dan alasan perempuan Taiwan menunda menjadi seorang ibu

Ilustrasi kelahiran bayi. (unsplash/Christian Bowen)

Pada Desember 2025, tercatat hanya 9.027 bayi yang baru lahir. Jumlah tersebut turun sebesar 27 persen dari tahun sebelumnya. Sementara, jumlah total bayi baru lahir pada tahun lalu mencapai rekor terendah, yakni 107.812 kelahiran. Angka kelahiran kasar berdasarkan jumlah kelahiran per 1.000 orang setiap tahun, tercatat sebesar 4,56 pada Desember.

Pada 2020, populasi Taiwan menyusut untuk pertama kalinya, sementara angka kelahirannya terus menurun selama dua dekade.

Para ahli demografi mengatakan bahwa perempuan Taiwan semakin banyak yang menikah di usia yang lebih tua. Mereka juga memilih keluarga yang lebih kecil atau bahkan memilih untuk tetap melajang.

Isu tersebut tidak lepas dari permasalahan meningkatnya biaya hidup dan kurangnya dukungan untuk perawatan anak. Alhasil, perempuan pekerja memilih untuk menunda rencana mereka menjadi ibu.

Pada Desember 2025, pemerintah Taiwan mengusulkan perluasan akses terhadap reproduksi berbantuan bagi perempuan lajang dan pasangan perempuan sesama jenis yang sudah menikah. Tindakan ini sebagai upaya meningkatkan angka kelahiran.

2. Tantangan demografis yang mengkhawatirkan berdampak pada angkatan kerja Taiwan

Channel News Asia melaporkan, Taiwan bersiap menghadapi dua gelombang pensiun besar-besaran dalam beberapa tahun mendatang. Akibatnya, akan mengurangi jumlah populasi usia kerja yang diperkirakan hingga hampir 6,7 juta orang.

Gelombang pertama, yang masih berlangsung, dimulai pada 2023. Saat itu, generasi baby boomer mulai meninggalkan dunia kerja. Gelombang pekerja generasi X berikutnya akan menyusul sekitar 16 tahun lagi.

Taiwan memiliki usia pensiun wajib 65 tahun, tetapi amandemen terhadap Undang-Undang Standar Ketenagakerjaan disahkan pada 2024. Ini untuk memungkinkan pengusaha menunda pensiun karyawan hingga melewati usia 65 tahun, jika kedua belah pihak setuju.

Selama dekade terakhir, tingkat pekerjaan di kalangan usia pensiun di Taiwan telah meningkat sekitar sepertiga. Hanya 10 persen dari mereka yang berusia 65 tahun ke atas masih bekerja. Angka tersebut lebih rendah, dibandingkan dengan masyarakat yang menua lainnya di Asia, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Singapura.

3. Anak muda Taiwan yang lebih tertarik di sektor teknologi dan pekerja lepas

Panorama kota Taipei, Taiwan. (Unsplash.com/Lisanto 李奕良)

Sebanyak 110 ribu orang pensiun setiap tahun di Taiwan. Jumlah tersebut mencapai rekor tertinggi dan terus-menerus memberikan tekanan pada pasar tenaga kerja. Para analis mengatakan bahwa lebih banyak bisnis perlu beradaptasi dengan menawarkan jam kerja yang fleksibel, beban kerja yang lebih ringan, dan lingkungan yang ramah bagi para lansia.

Di sisi lain, banyak anak muda Taiwan yang menghabiskan lebih banyak tahun di sekolah dan menunda masuk ke dunia kerja. Mereka juga lebih tertarik dengan pekerjaan dengan gaji lebih tinggi di sektor teknologi dan pekerjaan lepas yang fleksibel, dibandingkan dengan sektor-sektor tertentu, seperti industri restoran. Hal ini membuat perekrutan menjadi lebih sulit.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team