Pesan Tahun Baru Presiden China, Sebut soal Penyatuan Taiwan

- Tentara Pembebasan Rakyat China menggelar latihan militer di sekitar Taiwan, melibatkan angkatan laut, udara, pasukan roket, dan penjaga pantai.
- Xi menyinggung peringatan sejarah Taiwan dengan penetapan Hari Pengembalian Taiwan pada 2025.
- Presiden Taiwan Lai Ching-te menyerukan penguatan pertahanan nasional dan meminta partai oposisi untuk mendukung penambahan anggaran pertahanan.
Jakarta, IDN Times – Presiden China Xi Jinping menegaskan kembali tekad Beijing untuk menyatukan China daratan dengan Taiwan dalam pidato Tahun Baru dari Beijing pada Rabu (31/12/2025) malam. Pernyataan itu muncul tak lama setelah rangkaian latihan militer besar China di sekitar Taiwan dinyatakan selesai.
Dalam pidato tersebut, Xi menekankan pandangan Beijing soal masa depan hubungan lintas selat.
“Penyatuan kembali tanah air kita, sebuah tren zaman, tidak dapat dihentikan. Rekan-rekan senegaranya di kedua sisi Selat Taiwan terikat oleh ikatan darah yang lebih tebal dari air,” kata Xi, dikutip dari New York Post.
Selama ini, China memandang Taiwan yang memiliki pemerintahan sendiri sebagai bagian tak terpisahkan dari wilayahnya. Beijing juga berulang kali menegaskan kesiapan menggunakan kekuatan militer jika diperlukan. Di sisi lain, intelijen Amerika Serikat (AS) menyuarakan kekhawatiran atas pesatnya kemajuan kemampuan militer China yang dinilai memungkinkan operasi serangan dilakukan kapan saja sesuai keputusan Xi.
1. Tentara Pembebasan Rakyat China menggelar latihan militer

Dilansir dari The Guardian, Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) mengadakan latihan tembak tajam di perairan sekitar Taiwan. Latihan bertajuk Justice Mission 2025 itu mensimulasikan skenario blokade pelabuhan-pelabuhan strategis dengan melibatkan angkatan laut, angkatan udara, pasukan roket, serta penjaga pantai. Selama dua hari pelaksanaan, sedikitnya 200 pesawat tempur dikerahkan dengan jarak operasi yang lebih dekat dibanding latihan sebelumnya.
Taiwan melaporkan ada 27 rudal yang ditembakkan ke arah wilayahnya, dengan sebagian jatuh hanya berjarak sekitar 27 mil laut dari garis pantai. Meski latihan resmi telah berakhir, otoritas Taiwan tetap mempertahankan tingkat kewaspadaan tinggi karena 25 kapal Angkatan Laut China dan Penjaga Pantai masih berada di perairan sekitar.
Sejumlah analis menilai latihan semacam ini memang lazim digelar menjelang akhir tahun. Namun, beberapa pengamat China mengaitkannya langsung dengan persetujuan penjualan senjata Amerika Serikat senilai 11 miliar dolar AS (setara Rp183,6 triliun) kepada Taiwan. Latihan tersebut menuai kecaman dari berbagai pihak, termasuk Inggris, Jepang, Australia, Filipina, Uni Eropa (UE), dan Amerika Serikat.
2. Xi menyinggung peringatan sejarah Taiwan

Dalam pidato yang sama, Xi juga menyinggung penetapan Hari Pengembalian Taiwan yang mulai diberlakukan pada 2025.
Pada tahun tersebut, Taiwan mengesahkan undang-undang yang menetapkan 25 Oktober sebagai hari libur nasional, sehingga isu sejarah Perang Dunia Kedua kembali mencuat dalam dinamika politik kedua pihak.
3. Lai Ching-te menyerukan penguatan pertahanan Taiwan

Presiden Taiwan Lai Ching-te menyampaikan pidato Tahun Baru dengan nada tegas. Ia kembali mengingatkan publik tentang meningkatnya ambisi ekspansi China sekaligus menegaskan komitmen untuk mempertahankan kedaulatan nasional.
Selain itu, Lai meminta partai-partai oposisi yang menguasai parlemen agar menghentikan blokade terhadap rancangan undang-undang khusus yang bertujuan menambah anggaran pertahanan Taiwan.

















