Babak Baru Ketegangan China-Taiwan di 2026, Jadi Eskalasi?

- Taiwan tegaskan sikap pertahanan dan kedaulatannya
- Soroti anggaran pertahanan negara
- Latihan militer China picu kekhawatiran internasional
Jakarta, IDN Times - Presiden Taiwan, Lai Ching-te, menegaskan tekadny untuk mempertahankan kedaulatan nasional di tengah meningkatnya tekanan militer dari China. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pidato Tahun Baru yang disiarkan langsung dari kantor kepresidenan di Taipei, Kamis (1/1/2026).
Pernyataan Lai muncul setelah China meluncurkan puluhan roket ke arah Taiwan sebagai bagian dari latihan militer berskala besar. Aksi tersebut kembali memicu kekhawatiran kawasan dan sorotan dari komunitas internasional terhadap stabilitas Selat Taiwan.
Dalam pidatonya, Lai menekankan, dunia kini sedang memperhatikan apakah rakyat Taiwan memiliki tekad untuk mempertahankan diri menghadapi ancaman eksternal. Dia menyebut situasi sepanjang 2026 akan menjadi fase krusial bagi masa depan Taiwan.
Latihan militer China itu digelar hanya beberapa hari sebelum pergantian tahun, dan dinilai sebagai salah satu demonstrasi kekuatan terbesar Beijing terhadap pulau yang diperintah secara demokratis tersebut.
1. Taiwan tegaskan sikapnya atas kedaulatan

Dalam pidato Tahun Baru, Lai menegaskan sikapnya yang tidak berubah sejak awal menjabat. Dia menyatakan, mempertahankan kedaulatan negara dan memperkuat pertahanan nasional merupakan prioritas utama pemerintahannya.
"Sebagai presiden, sikap saya selalu jelas, mempertahankan kedaulatan nasional secara tegas dan memperkuat pertahanan negara," ujar Lai, dilansir dari Channel News Asia, Jumat (2/1/2026).
Dia menyoroti dalam latihan militer terbaru, China secara terbuka menjadikan kemampuan tempur baru Taiwan sebagai musuh hipotetis. Hal ini, menurut Lai, menjadi bukti nyata jika Taiwan perlu mempercepat penguatan militernya. Selain itu, menurutnya Taiwan harus menyiapkan skenario terburuk, sembari tetap berharap pada hasil terbaik.
2. Soroti anggaran pertahanan negara

Lai secara khusus menyoroti rencana peningkatan anggaran pertahanan Taiwan sebesar 40 miliar dolar AS, atau sekitar Rp640 triliun. Namun, proposal tersebut hingga kini masih terhambat di parlemen yang dikuasai oleh partai oposisi.
Dia menyerukan agar seluruh kekuatan politik di Taiwan dapat mengesampingkan perbedaan demi kepentingan keamanan nasional. Menurut Lai, pengadaan alat pertahanan yang memadai menjadi kebutuhan mendesak di tengah eskalasi militer China.
Menanggapi laporan Amerika Serikat yang menyebut China sedang bersiap memiliki kemampuan untuk memenangkan perang melawan Taiwan pada 2027, Lai menilai waktu dan hasil akhirnya masih belum pasti.
"Apakah China bisa mencapai tujuannya sesuai jadwal adalah satu hal, tetapi Taiwan harus bersiap," kata Lai dalam pidatonya.
Meski bersikap tegas soal kedaulatan, Lai menyatakan Taiwan tetap membuka ruang dialog dengan China. Dia bersedia untuk menjalin pertukaran dan kerja sama secara setara dan bermartabat.
"Kami bersedia melakukan pertukaran dan kerja sama dengan China atas dasar kesetaraan dan martabat, untuk menciptakan lingkungan yang damai di Selat Taiwan," ujar Lai.
Namun, dia menegaskan dialog hanya dapat terjadi jika China mengakui keberadaan Taiwan dan menghormati pilihan rakyat untuk hidup dalam sistem demokratis dan bebas.
China hingga kini mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk menguasai pulau tersebut. Taiwan secara konsisten menolak klaim tersebut.
3. Latihan militer China picu kekhawatiran internasional

Pidato Lai disampaikan dua hari setelah China menggelar latihan militer besar bertajuk "Justice Mission 2025". Dalam latihan itu, Beijing meluncurkan puluhan roket ke arah Taiwan serta mengerahkan kapal perang dan pesawat tempur dalam jumlah besar.
Latihan tersebut disebut sebagai yang terluas secara wilayah dan paling dekat dengan Taiwan sejauh ini. Dampaknya, Taiwan terpaksa membatalkan puluhan penerbangan domestik dan mengerahkan jet tempur serta kapal perang untuk memantau situasi.
Pemerintah Taiwan mengecam latihan tersebut sebagai ancaman terhadap keamanan kawasan dan provokasi terbuka. Kekhawatiran juga disuarakan oleh sejumlah pihak Barat, termasuk Komisi Eropa dan Inggris.
China kemudian mengumumkan, latihan telah selesai, namun menegaskan militernya akan terus meningkatkan kesiapan tempur. Presiden China Xi Jinping, dalam pidato Tahun Barunya, kembali menyatakan penyatuan China dengan Taiwan tidak dapat dihentikan.
Latihan militer ini digelar hanya 11 hari setelah Amerika Serikat mengumumkan paket penjualan senjata terbesar sepanjang sejarah untuk Taiwan senilai 11,1 miliar dolar AS, atau sekitar Rp177,6 triliun. Untuk pertama kalinya, militer China secara terbuka menyebut latihan tersebut ditujukan untuk mencegah campur tangan pihak luar.

















