Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Taiwan: Sanksi China ke Perusahaan Eropa Tak Berpengaruh!
Ilustrasi bendera Taiwan. (unsplash.com/Roméo A.)
  • Menteri Pertahanan Taiwan, Wellington Koo, menegaskan sanksi China terhadap tujuh perusahaan Eropa tidak memengaruhi kemampuan Taiwan memperoleh persenjataan melalui jalur diversifikasi.
  • China menjatuhkan larangan ekspor barang dwiguna kepada tujuh entitas Uni Eropa sebagai respons atas keterlibatan mereka dalam penjualan senjata ke Taiwan.
  • Sanksi ini menjadi langkah langka karena sebelumnya China hanya menargetkan perusahaan AS, sementara Taiwan tetap menolak klaim kedaulatan Beijing dan mempertahankan hak menentukan masa depannya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menteri Pertahanan Taiwan, Wellington Koo, menyatakan bahwa sanksi terbaru China terhadap tujuh perusahaan Eropa, tidak akan memengaruhi kemampuan pulau tersebut memperoleh persenjataan. Ia menyebut ini bukan pertama kalinya Beijing bereaksi keras.

"Tindakan tersebut tidak memengaruhi kemampuan kami untuk mendapatkan kebutuhan pertahanan melalui saluran diversifikasi," ujarnya di parlemen pada Senin (27/4/2026), dilansir The Straits Times.

1. Prospek kerja sama dalam ekspor senjata Jepang

Potret kapal perang Jepang. (twitter.com/jmsdf_pao_eng)

Sementara itu, terkait kemungkinan pembelian senjata dari Jepang, setelah Tokyo pekan lalu mencabut pembatasan penjualan senjata ke luar negeri, Koo menjelaskan bahwa ekspor senjata Jepang hanya ditujukan kepada negara yang memiliki perjanjian transfer teknologi dan peralatan pertahanan. Hambatan saat ini, Taipei belum memiliki perjanjian transfer teknologi pertahanan resmi dengan Tokyo. Namun, Koo mengungkapkan tidak menutup kemungkinan kerja sama di masa depan.

"Saya rasa, saya hanya bisa mengatakan bahwa saat ini belum ada kesepakatan transfer yang ada," kata Koo.

2. Imbas penjualan senjata ke Taiwan, China sanksi 7 entitas Uni Eropa

Ilustrasi Bendera Uni Eropa. (unsplash.com/Christian Lue)

Pada Jumat (24/4/2026), Kementerian Perdagangan (MOFCOM) China resmi melarang ekspor barang dwiguna kepada tujuh entitas asal Uni Eropa (UE). Langkah ini diambil sebagai respons atas keterlibatan perusahaan-perusahaan tersebut dalam penjualan senjata ke Taiwan.

Ketujuh entitas tersebut sebagian besar adalah kontraktor pertahanan utama Eropa, lembaga penelitian kedirgantaraan, dan perusahaan intelijen satelit. Mereka diantaranya, yakni dua dari Belgia, satu dari Jerman, dan empat dari Republik Ceko, Global Times melaporkan.

Barang-barang dwiguna adalah barang, perangkat lunak, atau teknologi yang memiliki aplikasi sipil dan militer. Ini termasuk unsur tanah jarang tertentu yang penting untuk pembuatan drone dan chip.

3. China sebelumnya hanya memberi sanksi ke AS terkait penjulan senjata ke Taiwan

Ilustrasi jet tempur. (pexels.com/Pixabay)

Dilansir Asahi Shimbun, pengumuman terbaru Beijing ini merupakan kasus langka sanksi terkait Taiwan yang menargetkan perusahaan Eropa. Sebab, selama ini, Taiwan mengandalkan Amerika Serikat (AS) sebagai pemasok utama senjata.

Negara-negara Eropa cenderung menghindari penjualan alutsista besar, seperti jet tempur, ke Taipei dalam tiga dekade terakhir untuk menjaga hubungan diplomatik dengan Beijing. Meski demikian, dukungan dari sebagian negara Eropa Tengah dan Eropa Timur meningkat. Ini terutama sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

China sebelumnya juga berulang kali menjatuhkan sanksi kepada perusahaan pertahanan AS atas penjualan senjata ke Taiwan, termasuk setelah pengumuman paket senilai 11 miliar dolar AS (sekitar Rp189,7 triliun) pada Desember lalu.

Pemerintah Taiwan menolak klaim kedaulatan China dan menegaskan bahwa hanya rakyat Taiwan yang berhak menentukan masa depan mereka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team