Ilustrasi jet tempur. (pexels.com/Pixabay)
Dilansir Asahi Shimbun, pengumuman terbaru Beijing ini merupakan kasus langka sanksi terkait Taiwan yang menargetkan perusahaan Eropa. Sebab, selama ini, Taiwan mengandalkan Amerika Serikat (AS) sebagai pemasok utama senjata.
Negara-negara Eropa cenderung menghindari penjualan alutsista besar, seperti jet tempur, ke Taipei dalam tiga dekade terakhir untuk menjaga hubungan diplomatik dengan Beijing. Meski demikian, dukungan dari sebagian negara Eropa Tengah dan Eropa Timur meningkat. Ini terutama sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
China sebelumnya juga berulang kali menjatuhkan sanksi kepada perusahaan pertahanan AS atas penjualan senjata ke Taiwan, termasuk setelah pengumuman paket senilai 11 miliar dolar AS (sekitar Rp189,7 triliun) pada Desember lalu.
Pemerintah Taiwan menolak klaim kedaulatan China dan menegaskan bahwa hanya rakyat Taiwan yang berhak menentukan masa depan mereka.