China-Jepang Makin Tegang usai Transit Kapal di Taiwan dan Okinawa

- Kapal perang China melintasi perairan antara Yonaguni dan Iriomote setelah kapal Jepang melewati Selat Taiwan, memicu ketegangan diplomatik antara dua kekuatan ekonomi Asia.
- Beijing mengecam langkah Tokyo yang dianggap mencampuri urusan Taiwan, sementara Jepang menilai tindakannya sah di perairan internasional dan bagian dari latihan militer regional.
- Langkah Jepang menunjukkan perubahan kebijakan yang lebih tegas terhadap sikap agresif China, menandai titik terendah hubungan bilateral sejak akhir 2025.
Jakarta, IDN Times - Hubungan antara dua kekuatan ekonomi terbesar Asia kembali memanas. Komando Teater Timur dari Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China mengonfirmasi bahwa gugus tugas angkatan lautnya, termasuk kapal perusak, melintasi perairan antara pulau Yonaguni dan Iriomote di Prefektur Okinawa, Jepang pada Rabu (22/4/2026).
Langkah ini dilakukan hanya beberapa hari setelah kapal perusak Pasukan Bela Diri Maritim (MSDF) Jepang berlayar melalui Selat Taiwan pada 17 April 2026, tindakan yang dikecam keras oleh Beijing sebagai 'provokasi yang disengaja', dilansir Asahi Shimbun.
China menegaskan bahwa Taiwan adalah bagian dari wilayahnya dan menyebut Selat Taiwan bukanlah perairan internasional, pandangan yang ditolak oleh banyak negara, termasuk Amerika Serikat (AS).
1. Tindakan Jepang yang dianggap China mencampuri urusan dalam negerinya

Formasi kapal 133 PLA melewati jalur air selebar 65 km tersebut saat kembali dari latihan di Pasifik Barat. Meski jalur tersebut merupakan perairan internasional, lokasinya sangat dekat dengan wilayah kedaulatan Jepang.
Sebelumnya, kapal perusak MSDF melintasi Selat Taiwan dalam perjalanannya menuju latihan militer Balikatan di Filipina. Ini merupakan transit pertama di bawah pemerintahan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi. Balikatan merupakan latihan militer gabungan skala besar tahunan Manila-Washington, yang tahun ini dimulai pada 20 April-8 Mei 2026.
Merespons tindakan Tokyo tersebut, Beijing menegaskan bahwa Taiwan adalah masalah inti dan garis merah yang tidak boleh dilanggar. Juru bicara Kantor Urusan Taiwan Dewan Negara, Zhang Han, mengecam langkah Jepang. Ia menyatakan bahwa pengerahan kapal militer tersebut merusak hubungan bilateral dan mengancam kedaulatan China.
"Langkah ini sekali lagi mengungkap upaya jahat dari kekuatan-kekautan tertentu di Jepang untuk mencampuri urusan Taiwan secara militer dan menyabotase perdamaian dan stabilitas lintas selat, yang kami tentang dengan tegas," kata Zhang, dikutip dari Global Times.
2. Gesekan militer di tengah meningkatnya rivalitas strategis di Asia Timur

Ketegangan ini berpusat di sekitar pulau Yonaguni yang dianggap strategis karena berjarak hanya sekitar 110 km dari pantai timur Taiwan. Sejak November lalu, Tokyo telah mempercepat rencana pengerahan unit rudal permukaan-ke-udara di pangkalan militer pulau tersebut. Aktivitas ini disebut Beijing sebagai tindakan sangat berbahaya.
Beijing menyerukan agar Tokyo merenungkan sejarah secara mendalam, serta menjunjung tinggi prinsip satu China dan semangat dari empat dokumen politik China-Jepang. Pihaknya juga mendesak Tokyo untuk segera mengakhiri semua pernyataan dan tindakan yang salah mengenai Taiwan.
3. Tindakan Jepang lebih tegas terhadap sikap agresif China di kawasan

Mainichi melaporkan, hubungan kedua negara berada pada titik terendah sejak November 2025. Takaichi sebelumnya memicu kemarahan Negeri Tirai Bambu dengan menyatakan bahwa serangan terhadap Taiwan berpotensi memicu respons militer dari pasukan bela diri Jepang.
Tokyo secara historis menghindari pengiriman kapal melalui Selat Taiwan untuk menjaga stabilitas. Namun, langkah terbaru ini menunjukkan pergeseran kebijakan Jepang yang lebih tegas dalam menghadapi meningkatnya agresivitas militer China di kawasan tersebut.


















