Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
tenda pengungsian
tenda pengungsian (Marius Arnesen, CC BY-SA 3.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/3.0>, via Wikimedia Commons)

Intinya sih...

  • Musim dingin ekstrem memperparah krisis kemanusiaan di Gaza

  • Jumlah bantuan yang masuk ke Gaza masih sangat terbatas

  • Sejumlah negara mendesak Israel untuk mencabut pembatasan bantuan ke Gaza

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Seorang nenek dan cucunya yang berusia 5 tahun di Gaza tewas terbakar setelah tenda nilon mereka tersambar api saat memasak. Insiden itu terjadi di kamp pengungsi Yarmouk, Kota Gaza, pada Kamis (1/1/2026) malam.

Ashraf al-Suwair mengatakan, ia terbangun karena mendengar para tetangganya berteriak, "Api! Api!". Ia menyebut bahan nilon tersebut seperti bahan bakar karena sangat mudah terbakar.

“Kami membutuhkan tempat yang layak dan sesuai bagi masyarakat serta anak-anak Gaza, bukannya terbakar sampai mati,” ungkapnya, dikutip dari TRT.

1. Musim dingin yang ekstrem perparah kondisi kemanusiaan di Gaza

Gencatan senjata yang diberlakukan pada Oktober lalu sebagian besar telah menghentikan pengeboman besar-besaran Israel di Gaza. Meski begitu, warga Palestina masih terbunuh hampir setiap hari, dan krisis kemanusiaan belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Penderitaan mereka semakin diperparah oleh cuaca musim dingin yang ekstrem. Selama beberapa pekan terakhir, hujan lebat dan angin kencang telah berulang kali menerjang kawasan pengungsian, menyebabkan tenda-tenda terendam banjir dan bangunan-bangunan yang rusak akibat pengeboman Israel runtuh.

UNICEF melaporkan sedikitnya enam anak telah meninggal akibat faktor cuaca, termasuk seorang anak berusia 4 tahun yang tewas tertimpa reruntuhan bangunan. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sedikitnya tiga anak juga meninggal akibat hipotermia.

2. Jumlah bantuan yang masuk ke Gaza masih sangat terbatas

Israel juga terus menghambat aliran bantuan yang masuk ke Gaza. Padahal, berdasarkan ketentuan gencatan senjata, otoritas Israel seharusnya mengizinkan 600 truk bantuan masuk ke wilayah Palestina tersebut setiap hari.

Para pengungsi Palestina sendiri telah lama menyerukan agar rumah hunian sementara dan karavan diizinkan masuk untuk menggantikan tenda-tenda mereka yang sudah tidak layak pakai.

Kekhawatiran semakin bertambah setelah Israel memutuskan untuk menangguhkan operasional 37 organisasi bantuan internasional yang bekerja di Gaza, termasuk Médecins Sans Frontières (MSF). Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, pada Jumat (2/1/2026), memperingatkan bahwa penangguhan tersebut berisiko merusak kemajuan yang telah dicapai selama masa gencatan senjata, dan mendesak Israel untuk membatalkan rencananya itu.

3. Sejumlah negara desak Israel cabut pembatasan bantuan ke Gaza

Dalam pernyataan bersama pada Jumat (2/1/2025), menteri luar negeri Turki, Mesir, Yordania, Uni Emirat Arab (UEA), Indonesia, Pakistan, Arab Saudi, dan Qatar memperingatkan bahwa kondisi yang terus memburuk di Gaza telah menempatkan hampir 1,9 juta warga Palestina dalam kondisi yang sangat rentan.

“Kamp-kamp yang kebanjiran, tenda-tenda yang rusak, runtuhnya bangunan-bangunan yang telah mengalami kerusakan, dan paparan suhu dingin ditambah dengan kekurangan gizi, telah secara signifikan meningkatkan risiko terhadap keselamatan warga sipil,” kata mereka dalam pernyataan tersebut, dikutip dari Al Jazeera.

Mereka juga menyerukan kepada komunitas internasional untuk menekan Israel agar segera mencabut pembatasan terhadap masuknya pasokan penting ke Gaza, termasuk tenda, bahan tempat tinggal, bantuan medis, air bersih, bahan bakar, dan dukungan sanitasi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team