Aksi mogok massal ini membuat pusat ekonomi di Hebron, Ramallah, dan Nablus tidak bergerak. Toko-toko tutup rapat dan jalanan utama yang biasanya ramai kini menjadi lengang. Warga marah karena adanya undang-undang baru yang membolehkan hukuman gantung bagi warga Palestina yang dituduh menyerang warga Israel. Selain pasar, sekolah dan bank pun ikut berhenti beroperasi demi mendukung seruan Fatah untuk menekan otoritas pendudukan agar membatalkan aturan tersebut.
"Melalui aksi mogok hari ini, kami ingin mengirimkan pesan kepada dunia. Kami berharap ada tindakan nyata dari masyarakat internasional untuk menghentikan kejahatan ini," ujar Sabri Saidam, perwakilan dari Fatah, dilansir TRT World.
Aksi perlawanan warga ini juga menunjukkan solidaritas yang kuat dari berbagai kelompok masyarakat dan keluarga tahanan. Saat ini, ada lebih dari 9.500 warga Palestina yang mendekam di penjara Israel, termasuk perempuan dan ratusan anak-anak.
"Hampir setiap orang yang berkumpul di sini punya saudara, suami, anak, atau tetangga di dalam penjara. Tidak ada satu pun keluarga Palestina yang tidak memiliki anggota keluarga yang ditahan," ujar Riman, seorang psikolog di Ramallah yang berpartisipasi dalam aksi.