ilustrasi bahan bakar fosil (pexels.com/cottonbro studio)
Sejumlah wilayah di Thailand mulai merasakan keterbatasan bahan bakar lokal, khususnya di Provinsi Chiang Mai. Banyak stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dilaporkan kehabisan solar dan bensin dengan oktan 91–95 sehingga harus menghentikan operasi sementara sambil menunggu pengiriman berikutnya tanpa kepastian waktu.
Dilansir Bangkok Post, di Kecamatan Mae Sariang, Provinsi Mae Hong Son, petugas memeriksa sebuah SPBU swasta yang menjual solar 40,50 baht per liter (sekitar Rp21,6 ribu), lebih tinggi dibanding harga pasar biasa. Pemilik SPBU menjelaskan bahwa harga beli dari grosir di Lampang mencapai 39,40 baht per liter (sekitar Rp21 ribu) ditambah biaya listrik, pajak daerah, dan gaji karyawan, sementara otoritas menyatakan harga tersebut masih wajar namun menegaskan seluruh SPBU wajib menampilkan harga secara jelas dan dilarang menimbun stok karena pelanggaran dapat dikenai hukuman penjara maksimal tujuh tahun dan/atau denda 140 ribu baht (sekitar Rp74,8 juta).
Walau lebih mahal, pengendara tetap membeli bahan bakar di SPBU tersebut karena SPBU lain di sekitarnya telah kehabisan solar akibat keterlambatan pasokan dan lonjakan permintaan. SPBU PTT di kawasan Ruam Chok, Chiang Mai, juga sempat kosong setelah warga mengisi jeriken untuk menimbun sehingga stok di SPBU dan depo regional cepat terkuras.
Situasi di SPBU Chiang Mai yang masih memiliki persediaan mulai kembali normal setelah sebelumnya terjadi pembelian dalam jumlah besar. Menteri Energi Atthapol menyampaikan penjualan di beberapa lokasi sempat meningkat dua kali lipat karena kekhawatiran masyarakat, sementara pasokan secara keseluruhan masih tersedia meski keterlambatan transportasi membuat sejumlah SPBU harus menerima pengiriman 4-5 kali sehari dibanding biasanya tiga kali.