Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Thailand Terapkan Aturan Penghematan Energi Imbas Perang Timur Tengah
Bendera Thailand (pexels.com/Markus Winkler)
  • Pemerintah Thailand menerapkan kebijakan penghematan energi nasional akibat dampak konflik Timur Tengah, termasuk pembatasan perjalanan dinas, pengaturan suhu kantor, dan penerapan kerja dari rumah.
  • Eskalasi konflik meningkat setelah serangan AS dan Israel ke Iran menewaskan ribuan orang serta memicu penutupan Selat Hormuz yang mengancam distribusi minyak global.
  • Beberapa wilayah Thailand seperti Chiang Mai mengalami kelangkaan bahan bakar sementara akibat keterlambatan pasokan dan lonjakan permintaan, meski pemerintah memastikan cadangan nasional masih aman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Pemerintah Thailand segera memberlakukan langkah penghematan energi di seluruh kantor pemerintahan setelah konflik di Timur Tengah memicu gangguan pada suplai minyak global. Perdana Menteri Pelaksana Tugas Thailand, Anutin Charnvirakul, mengumumkan kebijakan tersebut pada Selasa (10/3/2026), yang mewajibkan aparatur sipil bekerja dari rumah jika memungkinkan serta menggunakan tangga sebagai pengganti lift.

Menteri Energi Thailand Atthapol Rerkpiboon menjelaskan bahwa kondisi bahan bakar nasional belum berada dalam tahap krisis. Distribusi bahan bakar masih berjalan sesuai jadwal dan cadangan di fasilitas penyimpanan dinilai masih cukup sehingga masyarakat diminta tak melakukan penimbunan.

1. Thailand terapkan aturan hemat energi di berbagai instansi

ilustrasi kerja di kantor (pexels.com/Misbaa eri)

Kebijakan penghematan energi tersebut mencakup sejumlah aturan yang langsung diberlakukan. Perjalanan dinas ke luar negeri dihentikan sementara, suhu pendingin ruangan di kantor ditetapkan pada 26–27°C, pegawai diizinkan mengenakan kemeja lengan pendek tanpa dasi, peralatan listrik wajib dimatikan saat tak digunakan, penggunaan mesin fotokopi dibatasi, dan rapat daring diprioritaskan dibanding pertemuan langsung.

Penerapan langkah penghematan dilakukan secara bertahap agar mudah diterapkan oleh masyarakat maupun lembaga. Saat ini, masyarakat diminta menjaga suhu pendingin ruangan pada kisaran 26–27°C, mengurangi penggunaan lampu yang tak diperlukan, serta bekerja dari rumah bila memungkinkan, sementara kebijakan lebih ketat akan disiapkan jika kondisi memburuk.

Langkah penghematan energi juga diterapkan di negara lain di kawasan Asia Selatan. Bangladesh dan Pakistan menutup sementara sejumlah sekolah di beberapa wilayah serta memperluas sistem kerja jarak jauh guna meredam dampak lonjakan harga energi.

2. Serangan militer AS dan Israel picu eskalasi konflik

ilustrasi bendera Israel dan Amerika Serikat (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat (AS) bersama Israel melancarkan serangan ke Iran. Pejabat Iran melaporkan jumlah korban tewas hampir mencapai 1.300 orang, termasuk eks Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan sejumlah siswi sekolah.

Iran kemudian merespons dengan mengirimkan drone dan rudal ke Israel, Yordania, Irak, serta beberapa negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS. Negara itu juga menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur pengiriman sekitar 20 juta barel minyak setiap hari serta sekitar 20 persen perdagangan gas alam cair dunia.

Dilansir Anadolu Agency, Presiden AS Donald Trump menyampaikan peringatan terkait potensi gangguan pengiriman energi global. Ia menyatakan bahwa bila Iran berupaya menghambat distribusi minyak, AS akan memberikan respons 20 kali lebih kuat dibanding serangan sebelumnya.

3. Beberapa wilayah Thailand mulai alami kekurangan bahan bakar

ilustrasi bahan bakar fosil (pexels.com/cottonbro studio)

Sejumlah wilayah di Thailand mulai merasakan keterbatasan bahan bakar lokal, khususnya di Provinsi Chiang Mai. Banyak stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) dilaporkan kehabisan solar dan bensin dengan oktan 91–95 sehingga harus menghentikan operasi sementara sambil menunggu pengiriman berikutnya tanpa kepastian waktu.

Dilansir Bangkok Post, di Kecamatan Mae Sariang, Provinsi Mae Hong Son, petugas memeriksa sebuah SPBU swasta yang menjual solar 40,50 baht per liter (sekitar Rp21,6 ribu), lebih tinggi dibanding harga pasar biasa. Pemilik SPBU menjelaskan bahwa harga beli dari grosir di Lampang mencapai 39,40 baht per liter (sekitar Rp21 ribu) ditambah biaya listrik, pajak daerah, dan gaji karyawan, sementara otoritas menyatakan harga tersebut masih wajar namun menegaskan seluruh SPBU wajib menampilkan harga secara jelas dan dilarang menimbun stok karena pelanggaran dapat dikenai hukuman penjara maksimal tujuh tahun dan/atau denda 140 ribu baht (sekitar Rp74,8 juta).

Walau lebih mahal, pengendara tetap membeli bahan bakar di SPBU tersebut karena SPBU lain di sekitarnya telah kehabisan solar akibat keterlambatan pasokan dan lonjakan permintaan. SPBU PTT di kawasan Ruam Chok, Chiang Mai, juga sempat kosong setelah warga mengisi jeriken untuk menimbun sehingga stok di SPBU dan depo regional cepat terkuras.

Situasi di SPBU Chiang Mai yang masih memiliki persediaan mulai kembali normal setelah sebelumnya terjadi pembelian dalam jumlah besar. Menteri Energi Atthapol menyampaikan penjualan di beberapa lokasi sempat meningkat dua kali lipat karena kekhawatiran masyarakat, sementara pasokan secara keseluruhan masih tersedia meski keterlambatan transportasi membuat sejumlah SPBU harus menerima pengiriman 4-5 kali sehari dibanding biasanya tiga kali.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team