Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Gundukan sampah yang tidak diambil.
ilustrasi gundukan sampah (pexels.com/Mike Bird)

Intinya sih...

  • Hanya 44 truk kebersihan yang bisa beroperasi di Kota Havana

  • Warga mulai mengampanyekan bahaya sampah untuk kesehatan melalui media sosial

  • Embargo Amerika Serikat terhadap Kuba sudah terjadi sejak 1960-an, mempengaruhi suplai minyak dan energi negara tersebut

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Ibu Kota Kuba, Havana, saat ini mulai dibanjiri sampah. Hal ini terjadi karena truk kebersihan pengangkut sampah milik otoritas setempat tidak bisa beroperasi. Sebab, truk-truk tersebut kekurangan bahan bakar imbas embargo dari Amerika Serikat. 

Berdasarkan gambar yang dirilis Reuters, gundukan sampah mulai bermunculan di Havana pada Minggu (15/2/2026). Warga setempat mulai membuang sampah di jalanan sekitar karena tempat sampah di rumah mereka penuh. Namun, truk kebersihan tidak bisa beroperasi untuk mengambil sampah warga.

Gundukan sampah di Havana didominasi sisa-sisa makanan dengan bau menyengat yang menyebar ke seluruh kota. Selain itu, ada juga sampah kardus, kantong dan botol plastik bekas, serta sampah kain bekas. Bau busuk yang ditimbulkan dari sampah-sampah itu memikat sekelompok lalat berdatangan. 

1. Hanya ada 44 truk kebersihan yang bisa beroperasi

ilustrasi truk sampah (pexels.com/Anthony Nguyen)

Menurut laporan media lokal Kuba, Cubadebate, Kota Havana pada Februari 2026 ini hanya bisa mengoperasikan 44 dari 106 truk kebersihan yang dimiliki untuk mengangkut sampah. Jumlah tersebut masih sangat kurang untuk mengangkut produksi sampah di Havana. 

Menurut keterangan seorang warga bernama Jose Ramon Cruz, truk kebersihan sudah tidak mengangkut sampah selama lebih dari 10 hari. Oleh karena itu, gundukan sampah mulai bermunculan di setiap sudut kota karena tidak segera ditangani. 

“Masalahnya (sampah-sampah ini) ada di seluruh kota. (Ini) sudah (terjadi selama) lebih dari 10 hari sejak truk sampah datang,” ujar Cruz, seperti dilansir The Strait Times

2. Warga mulai mengampanyekan bahaya sampah untuk kesehatan

ilustrasi gundukan sampah (pexels.com/Rodium Soren Dipu)

Masalah sampah yang terjadi di Kota Havana membuat warga Kuba tidak mau tinggal diam. Oleh karena itu, warga Kuba di berbagai kota mulai memanfaatkan media sosial untuk saling mengingatkan akan bahaya kesehatan dari gundukan sampah seperti yang terjadi di Havana.

Warga Kuba, terutama yang tinggal di Havana, sebetulnya sudah menyadari bahwa sampah-sampah tersebut bisa menimbulkan berbagai penyakit. Hanya saja, mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena truk kebersihan yang seharusnya digunakan untuk mengangkut sampah tidak bisa beroperasi.  

3. Embargo Amerika Serikat terhadap Kuba sudah terjadi sejak 1960-an

potret bendera Amerika Serikat (unsplash.com/Gene Gallin)

Kuba memang bergantung kepada impor minyak luar negeri untuk memenuhi dua per tiga kebutuhan energi nasional. Biasanya, mereka mengimpor minyak dari Venezuela dan Meksiko. Hal ini terjadi karena produksi minyak mereka tidak bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri. Namun, suplai minyak Kuba saat ini mengalami hambatan karena embargo dari Amerika Serikat. 

Embargo ekonomi AS terhadap Kuba sudah terjadi sejak 1960-an. Saat ini, Negeri Paman Sam di bawah tampuk kepemimpinan Presiden Donald Trump makin gencar melakukan embargo terhadap Kuba, terutama untuk produk energi seperti minyak, agar bisa menjatuhkan Pemerintahan Kuba. 

Embargo tersebut membuat cadangan minyak di Kuba menurun drastis selama 2 bulan terakhir. Venezuela juga sudah berhenti mengekspor minyak ke Kuba sejak pertengahan Desember 2025 lalu. 

Di sisi lain, Meksiko sebetulnya masih menjadi pemasok minyak ke Kuba. Namun, beberapa waktu lalu, negara itu memutuskan untuk menahan ekspor minyak ke Havana karena khawatir akan ancaman tarif AS. Sebab, Trump mengancam akan memberikan tarif dagang tinggi kepada negara mana pun yang mengekspor minyak ke Kuba.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team