Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Trump Akan Bicara dengan Presiden Taiwan di Tengah Ketegangan China
Donald Trump. (instagram.com/realdonaldtrump)
  • Donald Trump berencana berbicara langsung dengan Presiden Taiwan, Lai Ching-te, langkah yang menimbulkan perhatian global karena menyimpang dari kebijakan diplomatik AS sejak 1979.
  • Rencana pembicaraan dikaitkan dengan negosiasi paket bantuan militer senilai hingga 14 miliar dolar AS, termasuk sistem pertahanan udara dan anti-drone untuk Taiwan.
  • Pemerintah Taiwan menyambut positif rencana komunikasi tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap stabilitas kawasan dan komitmen mempertahankan demokrasi di tengah tekanan Beijing.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, berencana berbicara langsung dengan Presiden Taiwan, Lai Ching-te, pada Rabu (20/5/2026). Rencana itu langsung menarik perhatian internasional karena bertolak belakang dengan praktik diplomatik yang dijaga Washington sejak mengalihkan pengakuan resmi dari Taipei ke Beijing pada 1979.

Trump mengungkapkan rencana tersebut di Pangkalan Bersama Andrews, Maryland, sebelum menaiki Air Force One. Saat ditanya wartawan soal sikapnya terhadap Lai, Trump memberi jawaban singkat.

“Saya akan berbicara dengannya. Saya berbicara dengan semua orang … Kami akan mengurus itu, masalah Taiwan,” ujar Trump, dikutip The Guardian.

1. Negosiasi senjata Taiwan libatkan nilai fantastis

ilustrasi kesepakatan kerjasama (pexels.com/Ketut Subiyanto)

Komunikasi langsung antara presiden AS dan presiden Taiwan yang masih menjabat selama ini dianggap sensitif sejak Washington memutus hubungan diplomatik resmi dengan Taipei pada 1979. Dalam sejarah modern, pengecualian hanya pernah terjadi pada akhir 2016 ketika Trump sebagai presiden terpilih menerima sambungan telepon dari Presiden Taiwan saat itu, Tsai Ing-wen.

Menurut laporan BBC, rencana pembicaraan terbaru berkaitan dengan negosiasi paket persenjataan bernilai besar. Trump masih mempertimbangkan keputusan mengenai paket bantuan militer hingga 14 miliar dolar AS (setara Rp247 triliun) yang disebut mencakup perangkat anti-drone dan sistem rudal pertahanan udara untuk Taiwan.

2. Trump gunakan penjualan senjata sebagai alat negosiasi

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri) dan Presiden China Xi Jinping (kanan) sempat berbincang dalam pertemuan puncak G20 di Buenos Aires, menjelang makan malam kerja antara delegasi Amerika Serikat dan China. (Dan Scavino, Public domain, via Wikimedia Commons)

Trump selama ini tercatat menyetujui penjualan senjata ke Taiwan dalam jumlah lebih besar dibanding presiden AS sebelumnya. Meski begitu, ia juga secara terbuka menyebut kesepakatan militer mendatang sebagai alat negosiasi yang sangat bagus.

Langkah Trump ikut memengaruhi komunikasi pertahanan internasional. Beijing disebut masih menahan persetujuan kunjungan pejabat kebijakan Pentagon, Elbridge Colby, ke China sampai Trump menentukan keputusan akhir terkait paket senjata untuk Taiwan.

Dalam pertemuan tingkat tinggi dua hari di Beijing yang baru berakhir, Trump menggambarkan hubungannya dengan Presiden China, Xi Jinping, berjalan sangat luar biasa. Trump juga menyebut Xi memiliki sikap yang sangat kuat terkait status Taiwan, sementara Xi memperingatkan potensi ketegangan apabila isu tersebut tak ditangani secara hati-hati.

3. Taiwan sambut dukungan AS untuk pertahanan kawasan

ilustrasi bendera Taiwan

Kementerian Luar Negeri Taiwan menyatakan Lai akan sangat senang jika dapat berbicara langsung dengan pemimpin AS tersebut. Lai yang mulai menjabat sejak 2024 juga meningkatkan anggaran pertahanan Taiwan secara besar demi menjaga stabilitas kawasan.

“Tidak ada negara yang berhak mencaplok Taiwan. Rakyat Taiwan mengejar kehidupan yang demokratis dan bebas, dan demokrasi serta kebebasan seharusnya tak dianggap sebagai provokasi,” tegas Lai mengenai komitmennya mempertahankan status quo di Selat Taiwan.

Secara hukum, AS terikat Undang-Undang Hubungan Taiwan tahun 1979 yang mewajibkan penyediaan senjata defensif bagi pulau dengan populasi 23 juta penduduk itu. Taiwan juga menjadi mitra dagang terbesar keempat bagi AS, terutama karena perannya sebagai produsen utama semikonduktor canggih untuk industri digital dunia.

Mayoritas warga Taiwan sampai sekarang memilih mempertahankan kondisi yang ada tanpa mendeklarasikan kemerdekaan resmi maupun bergabung dengan China. Sikap itu diambil di tengah tekanan militer Beijing yang masih membuka kemungkinan penggunaan kekuatan untuk mengambil alih pulau tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team