Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Trump Akan Tekan Xi Jinping Soal Iran saat Kunjungan ke China
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Donald Trump akan mengunjungi Beijing pada 13–15 Mei 2026 untuk menekan Xi Jinping terkait dukungan ekonomi China terhadap Iran di tengah konflik Timur Tengah.
  • Kunjungan tiga hari ini mencakup pertemuan bilateral, jamuan kenegaraan, serta agenda simbolis seperti tur Kuil Surga dan acara minum teh bersama Xi Jinping.
  • Selain isu Iran, kedua pemimpin akan membahas perdagangan, pengembangan AI, serta ketegangan seputar Taiwan guna menjaga stabilitas hubungan AS–China.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan mengunjungi Beijing pada 13 hingga 15 Mei 2026. Trump dilaporkan akan menyinggung isu Iran saat bertemu dengan Presiden China Xi Jinping.

Washington berupaya menekan Beijing terkait sokongan ekonomi mereka terhadap Teheran di tengah memanasnya perang di Timur Tengah. Pertemuan ini diharapkan mampu menstabilkan kembali hubungan kedua negara.

1. AS desak China hentikan sokongan dana untuk Iran

ilustrasi bendera Iran. (unsplash.com/sina drakhshani)

Pemerintah AS akan menekan China yang terus membeli minyak dari Iran. Transaksi tersebut dituding menjadi sumber dana utama bagi Teheran dalam menghadapi tekanan dari AS-Israel.

Selain minyak, Trump juga akan menyoroti pasokan komponen penggunaan ganda (dual use) dari China. Komponen semacam ini dikhawatirkan dapat digunakan Iran untuk memperkuat kemampuan militernya.

"Presiden telah berbicara beberapa kali dengan Xi Jinping tentang Iran dan Rusia, termasuk dukungan ekonomi yang diberikan China kepada rezim-rezim ini. Pembicaraan itu juga mencakup barang, komponen, dan suku cadang yang ditransfer ke mereka, belum lagi kemungkinan ekspor senjata," ujar seorang pejabat senior AS secara anonim, dilansir The Jerusalem Post.

Di sisi lain, Beijing telah berulang kali mengecam sanksi sepihak AS ke sektor perminyakan Iran. Pemerintah China juga baru menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Arraghchi pada pekan lalu untuk membahas upaya pengakhiran perang.

2. Kunjungan Trump akan berlangsung selama tiga hari

Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping (PAS China, Public domain, via Wikimedia Commons)

Trump rencananya akan mendarat di ibu kota China pada Rabu malam (13/5/2026). Keesokan harinya, ia bakal mengikuti upacara penyambutan dan melangsungkan sesi pertemuan bilateral resmi dengan Xi.

Menurut France24, kunjungan ini akan diwarnai berbagai prosesi seremonial untuk menonjolkan makna simbolisnya. Trump dijadwalkan melakukan tur ke area Kuil Surga di Beijing serta menghadiri jamuan makan malam kenegaraan pada Kamis.

Rangkaian agenda akan ditutup pada hari Jumat melalui sejumlah kegiatan yang bersifat lebih santai. Kedua pemimpin dunia itu diagendakan menggelar acara minum teh bersama yang dilanjutkan dengan sesi makan siang kerja.

Lawatan ini menjadi perjalanan perdana Trump ke wilayah China sejak 2017. Sebelumnya, pertemuan mereka sempat tertunda dari jadwal awal pada bulan Maret akibat memanasnya situasi perang Iran.

3. Bahas isu perdagangan, AI hingga Taiwan

Ilustrasi bendera China. (unsplash.com/Yan Ke)

Selain membahas konflik Timur Tengah, negosiasi perdagangan menjadi agenda penting lainnya pada pertemuan tersebut. AS dan China diperkirakan akan menyepakati forum khusus untuk memfasilitasi kelancaran aktivitas dagang.

Kedua negara juga berencana membahas perpanjangan jeda perang dagang mereka. Kesepakatan tersebut selama ini memungkinkan mineral tanah jarang tetap mengalir dari China ke AS.

Isu Taiwan juga diprediksi akan menjadi salah satu topik yang dibahas oleh keduanya. Xi merasa frustrasi dengan AS karena terus menjadi pendukung militer utama bagi pulau tersebut.

Masalah pengembangan kecerdasan buatan (AI) juga memicu kekhawatiran Washington. Kedua negara kemungkinan akan menjalin jalur komunikasi khusus untuk menghindari konflik dari penggunaan teknologi itu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team