Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Trump-Xi Jinping Bertemu Pekan Ini, Apa yang Akan Dibahas?

Trump-Xi Jinping Bertemu Pekan Ini, Apa yang Akan Dibahas?
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kiri) dan Presiden China, Xi Jinping (kanan) (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)
Intinya Sih
  • Trump dan Xi Jinping dijadwalkan bertemu di Beijing untuk membahas isu utama seperti perang dagang, konflik Iran, dan Taiwan di tengah ketegangan diplomatik yang masih tinggi.
  • China menyiapkan tawaran investasi besar, termasuk pembelian pesawat Boeing dan komoditas AS, sambil berharap memperpanjang gencatan perang dagang serta menjaga akses terhadap teknologi Amerika.
  • Konflik Iran dan isu Taiwan menjadi bayang-bayang pertemuan, dengan kedua pihak berupaya menyeimbangkan kepentingan strategis tanpa memicu eskalasi baru di kawasan Indo-Pasifik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dijadwalkan tiba di Beijing pada Rabu (13/5/2026), untuk menghadiri pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden China Xi Jinping. Jika terlaksana sesuai rencana, kunjungan itu akan menjadi lawatan pertama presiden AS ke China dalam hampir satu dekade.

Kunjungan terakhir juga dilakukan Trump pada 2017 saat masa jabatan pertamanya. Kala itu, China menyambut Trump dengan kemegahan diplomatik, mulai dari tur pribadi ke Kota Terlarang hingga pertunjukan Opera Peking yang disebut Beijing sebagai kunjungan kenegaraan-plus.

Namun suasana kini jauh berbeda. Dalam sembilan tahun terakhir, hubungan kedua negara dihantam perang dagang, pandemi global, ketegangan militer di Indo-Pasifik, hingga persaingan teknologi yang semakin tajam.

Kondisi terbaru di Timur Tengah juga ikut memengaruhi dinamika pertemuan tersebut. Serangan Amerika Serikat terhadap Iran membuat jadwal kunjungan Trump sempat tertunda dan dipangkas menjadi hanya dua hari.

Pengamat dari Brookings Institution, Suzanne Maloney, mengatakan posisi Trump menuju pertemuan itu tidak lagi sekuat sebelumnya.

“Gagasan seorang presiden Amerika pergi ke pertemuan dengan pesaing utamanya ketika baru saja mengalami kegagalan strategis paling besar dalam beberapa waktu terakhir akan menjadi momen yang mencolok,” katanya.

Menurut Maloney, situasi itu mengubah persepsi mengenai dominasi Amerika Serikat dalam hubungan dengan China.

1. Xi dan Trump bertemu di tengah ketidakpercayaan

IMG_1851.jpeg
Presiden AS Donald Trump bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di sela KTT APEC di Busan, Korea Selatan. (Dok. Nikkei Asia)

Meski Trump dikenal menikmati simbolisme diplomasi dan kerap menyebut Xi Jinping sebagai teman pribadi, hubungan Washington dan Beijing disebut tetap dipenuhi ketegangan. Profesor studi internasional Universitas Fudan, Zhao Minghao, mengatakan kedua negara masih menyimpan ketidakpercayaan yang sangat besar.

“Ada ketidakpercayaan timbal balik yang sangat menonjol antara kedua negara,” ujarnya, dilansir dari The Guardian, Senin (11/5/2026).

Menurut Zhao, perbedaan mendalam masih terjadi dalam isu perdagangan, hubungan militer, dan Taiwan. Pertemuan Trump dan Xi diperkirakan akan berfokus pada tiga isu utama, yaitu perang dagang, konflik Iran, dan Taiwan.

Jalan menuju pertemuan ini sebenarnya mulai terbuka sejak kesepakatan gencatan sementara perang dagang di Busan pada Oktober lalu. Saat itu, tarif AS terhadap produk China sempat mencapai 145 persen.

China membalas dengan membatasi ekspor mineral tanah jarang yang penting bagi rantai industri global dan teknologi militer Amerika. Dampaknya, sejumlah pabrik di AS dilaporkan sempat berhenti beroperasi.

Direktur Asia Timur Quincy Institute, Jake Werner, mengatakan Trump akhirnya menyadari China mampu melawan tekanan ekonomi Washington. “Trump datang dengan keyakinan dia bisa memaksa China mengakui kekuasaannya atas mereka,” kata Werner.

“Dia kemudian menemukan bahwa itu tidak bisa dilakukan karena China mampu melawan secara efektif,” lanjutnya.

2. China siapkan tawaran dagang dan investasi

Presiden AS, Donald Trump (kiri), dan Presiden China, Xi Jinping (kanan)
Presiden AS, Donald Trump (kiri), dan Presiden China, Xi Jinping (kanan). (The White House from Washington, DC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Menjelang pertemuan, pemerintahan Trump disebut mengajak sejumlah petinggi perusahaan besar AS ikut dalam rombongan, termasuk dari Nvidia, Apple, Exxon, Boeing, dan Citigroup. China sendiri dikabarkan ingin memperpanjang gencatan perang dagang, menjaga akses terhadap teknologi Amerika, serta melonggarkan pembatasan ekspor AS.

Sebagai imbalan, Beijing disebut dapat menawarkan investasi besar ke ekonomi Amerika Serikat. Salah satu pembahasan penting adalah potensi pembelian 500 pesawat Boeing 737 Max dan puluhan pesawat berbadan lebar oleh China. Jika terjadi, itu akan menjadi pembelian Boeing terbesar China sejak 2017.

Selain itu, Washington juga mendorong China membeli 25 juta ton kedelai AS per tahun selama tiga tahun ke depan, serta meningkatkan impor unggas, daging sapi, batu bara, minyak, dan gas alam.

China juga memegang kartu penting dalam rantai pasok mineral tanah jarang dunia. Beijing disebut dapat menawarkan akses stabil terhadap mineral tersebut untuk kepentingan komersial Amerika, selama tidak digunakan untuk kebutuhan militer.

3. Iran dan Taiwan jadi bayang-bayang pertemuan

Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping (PAS China, Public domain, via Wikimedia Commons)

Perang Iran disebut mengubah dinamika pertemuan Trump dan Xi. Penutupan Selat Hormuz akibat konflik tersebut mengancam ekonomi global, termasuk China yang menjadi pembeli utama minyak Iran.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan meminta China meningkatkan diplomasi terkait Iran, sementara Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer mengatakan Trump akan membahas pembelian energi Iran oleh China. Meski begitu, para pengamat menilai hubungan Beijing dan Teheran tidak sepenuhnya dekat.

“Akan terlalu berlebihan jika mengatakan China bisa membujuk atau menekan Iran,” kata profesor ilmu politik Universitas Chicago, Dali Yang.

Profesor Universitas Renmin, Wang Wen, juga mengatakan, “China tidak dapat mengendalikan Iran, dan juga tidak memiliki kekuatan absolut untuk menentukan arah krisis Hormuz secara sepihak.”

Selain Iran, isu Taiwan diperkirakan menjadi fokus utama Xi Jinping. Menteri Luar Negeri China Wang Yi bahkan menyebut Taiwan sebagai risiko terbesar dalam hubungan AS-China. China mengklaim Taiwan sebagai bagian wilayahnya dan tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan militer untuk mengambil alih pulau tersebut.

Di sisi lain, Trump dinilai mengambil sikap lebih lunak terhadap Taiwan dibanding presiden-presiden AS sebelumnya. Paket bantuan senjata Amerika senilai 11 miliar dolar AS untuk Taiwan juga dilaporkan tertahan menjelang pertemuan Trump-Xi.

Mantan penasihat Gedung Putih era Joe Biden, Mira Rapp-Hooper, mengatakan negara-negara sekutu AS akan mencermati apakah Trump memberi sinyal kompromi terhadap Taiwan.“Yang paling akan diperhatikan sekutu Amerika adalah jika ada laporan bahwa Presiden Trump mengakui kepentingan atau hak istimewa Presiden Xi atas Taiwan,” ujarnya.

Pertemuan Trump dan Xi juga diperkirakan akan membahas kerja sama pengendalian fentanyl hingga perlombaan kecerdasan buatan (AI) antara kedua negara. Namun bagi sebagian pengamat, keberhasilan pertemuan justru bisa menimbulkan pertanyaan baru tentang konsesi apa yang mungkin diberikan Washington kepada Beijing.

“Jika Beijing sangat senang dengan hasil pertemuan ini, itu mungkin menjadi tanda yang mengkhawatirkan bagi Amerika Serikat,” kata mantan analis CIA Jonathan Czin.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More