Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Trump Ancam Bom Siapa pun yang Dekati Stok Uranium Iran
Presiden AS, Donald Trump ( The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Donald Trump memperingatkan siapa pun yang mendekati stok uranium Iran akan dibom, sambil menegaskan pasukan AS terus memantau lokasi tersebut melalui Space Force.
  • Pemerintah Iran menolak keras rencana AS untuk mengambil uranium, menyebut material itu bagian penting dari kedaulatan nasional, sementara Israel justru mendukung langkah ekstraksi paksa.
  • Negosiasi damai antara AS dan Iran masih buntu karena sengketa uranium, dengan Trump menolak proposal balasan Teheran dan mengancam melanjutkan perang jika Iran tak menyerahkan stoknya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, pada Minggu (10/5/2026), melontarkan peringatan kepada pihak yang mencoba mendekati stok uranium Iran. Ia menegaskan militer AS saat ini terus mengawasi material nuklir tersebut dari jarak jauh.

Pernyataan ini muncul di tengah alotnya negosiasi gencatan senjata antara AS dan Iran. Trump berencana mengambil alih secara paksa bahan nuklir yang memicu ketegangan tersebut.

1. Trump mengklaim AS mengawasi lokasi stok uranium Iran

Presiden AS, Donald Trump (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Trump mengklaim pasukan antariksa AS atau Space Force sedang mengawasi lokasi penyimpanan uranium Iran. Ia mengancam akan mengebom siapa saja yang berani mendekati area itu.

"Jika ada yang masuk, mereka (Space Force) bisa menyebutkan nama, alamat, dan nomor lencananya. Jika ada yang mendekati tempat itu, kami akan meledakkannya," tegas Trump, dilansir Al Jazeera.

Sejumlah laporan menyebutkan uranium tingkat tinggi itu terkubur di bawah reruntuhan fasilitas nuklir Iran. Fasilitas tersebut sebelumnya telah hancur akibat pengeboman militer AS pada Juni 2025.

AS berniat mengambil uranium tersebut dan membawanya keluar dari wilayah Iran pada waktu yang tepat. Trump bahkan menyatakan akan mengerahkan alat berat untuk melakukan penggalian di situs tersebut.

2. Iran tolak serahkan stok uraniumnya

fasilitas nuklir Iran di Bushehr (Tasnim News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Rencana ekstraksi uranium yang dilontarkan AS mendapat penolakan dari pihak Iran. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan pentingnya stok uranium tersebut bagi Iran.

"Uranium yang diperkaya sama sucinya bagi kami dengan tanah Iran. Material ini tidak akan dipindahkan ke mana pun dalam kondisi apa pun," jelas Baghaei, dilansir Al Jazeera.

Di sisi lain, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu justru mendukung langkah pengambilan paksa tersebut. Ia menilai ekstraksi adalah jalan terbaik karena sisa uranium di lokasi masih berbahaya.

"Semua material itu masih ada di sana dan masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Anda harus masuk dan mengeluarkannya," tutur Netanyahu, dilansir The Jerusalem Post.

3. Negosiasi perdamaian AS-Iran masih buntu

Ilustrasi bendera Iran. (unsplash.com/sina drakhshani)

Sengketa soal uranium menjadi batu sandungan utama dalam negosiasi gencatan senjata AS dan Iran. Teheran diketahui baru saja mengirimkan balasan atas proposal damai AS melalui perantara Pakistan.

Iran bersedia membahas penghentian perang, keamanan maritim, hingga pencabutan sanksi ekonomi. Mereka menganggap tawaran balasan yang diajukan sudah cukup realistis dan positif.

Namun, Trump menolak draf balasan dari perwakilan Iran melalui platform Truth Social. Ia menuduh pemerintah Iran hanya bermain-main dan menganggap usulan mereka sama sekali tidak dapat diterima.

AS bersikeras agar Iran menghentikan pengayaan dan menyerahkan sekitar 440 kilogram stok uranium mereka. Jika kebuntuan ini terus berlanjut, Trump mengancam akan melanjutkan perang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team