Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Trump Cari Koalisi Jaga Selat Hormuz, Tapi Ditolak Sekutu
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/Gage Skidmore via commons.wikimedia.org/Gage Skidmore)
  • Donald Trump meminta tujuh negara bergabung menjaga Selat Hormuz demi keamanan jalur minyak dunia, namun belum ada yang menyatakan komitmen resmi.
  • Jepang dan Australia menolak permintaan AS mengirim kapal perang karena alasan hukum dan kebijakan nasional, meski keduanya bergantung pada pasokan energi dari kawasan tersebut.
  • Iran menegaskan Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran internasional kecuali kapal milik AS dan sekutunya, sambil menolak dialog baru dengan Washington terkait konflik yang berlangsung.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meminta sejumlah negara untuk mengirim kapal perang guna menjaga keamanan Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Permintaan tersebut disampaikan Trump pada Minggu (15/3/2026) saat berbicara kepada wartawan di atas pesawat Air Force One.

Menurut Trump, langkah tersebut bertujuan memastikan jalur pelayaran strategis itu tetap terbuka di tengah konflik dengan Iran yang turut memicu lonjakan harga minyak dunia.

Trump mengatakan, ia telah meminta sekitar tujuh negara untuk ikut menjaga keamanan perairan tersebut. Namun, hingga kini belum ada negara yang secara resmi menyatakan komitmen untuk bergabung dalam koalisi pengamanan Selat Hormuz.

“Saya meminta negara-negara itu untuk turut melindungi wilayah mereka sendiri karena itu merupakan kepentingan mereka,” ujar Trump, dikutip dari Al Jazeera, Senin (16/3/2026).

Ia juga menyebut negara-negara yang diajak bergabung adalah pihak yang sangat bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah, meski tidak merinci negara mana saja yang dimaksud.

1. Trump ungkap AS tak bergantung pada Selat Hormuz

USS Porter (DDG 78), yaitu kapal perusak rudal berpemandu kelas Arleigh Burke di Angkatan Laut Amerika Serikat, yang melintasi Selat Hormuz. (commons.wikimedia.org/Official Navy Page)

Trump menegaskan, Amerika Serikat tidak terlalu bergantung pada jalur pelayaran tersebut karena memiliki sumber pasokan energi sendiri. Ia mencontohkan sejumlah negara justru jauh lebih bergantung pada Selat Hormuz untuk kebutuhan energi mereka.

Trump mengatakan, China memperoleh sekitar 90 persen kebutuhan minyaknya melalui jalur tersebut, sementara Amerika Serikat hanya menerima pasokan dalam jumlah yang relatif kecil.

Ia juga tidak memberikan tanggapan terkait kemungkinan China ikut serta dalam koalisi pengamanan yang diusulkan Washington.

“Akan lebih baik jika negara-negara lain ikut menjaga wilayah itu bersama kami, dan kami siap membantu serta bekerja sama,” ujar Trump.

Sebelumnya, Trump disebut telah meminta dukungan dari beberapa negara seperti China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris.

2. Jepang dan Australia menolak permintaan AS

ilustrasi bendera Jepang (kiri) dan Amerika Serikat (kanan). (Dpd3ut, CC-BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Meski demikian, tidak semua negara merespons positif ajakan tersebut. Jepang dan Australia menjadi dua negara yang secara terbuka menyatakan tidak berencana mengirim kapal perang ke Selat Hormuz.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan pemerintahnya belum mengambil keputusan terkait pengiriman kapal pengawal ke kawasan tersebut.

“Kami belum membuat keputusan apa pun tentang pengiriman kapal pengawal. Kami terus mempelajari apa yang dapat dilakukan Jepang secara mandiri dan apa yang dapat dilakukan sesuai kerangka hukum,” kata Takaichi.

Pengiriman kapal perang ke kawasan konflik dinilai berpotensi bertentangan dengan konstitusi Jepang yang membatasi keterlibatan militer dalam operasi perang. Padahal Jepang sangat bergantung pada jalur energi tersebut, dengan sekitar 95 persen pasokan minyak mentahnya berasal dari Timur Tengah melalui Selat Hormuz.

Sementara itu, Australia juga menegaskan tidak akan mengirimkan kapal perang untuk misi tersebut. “Kami tahu betapa pentingnya hal itu, tapi itu bukan sesuatu yang diminta dari kami atau kontribusi dari kami,” ujar Menteri Infrastruktur Australia Catherine King, anggota kabinet Perdana Menteri Anthony Albanese.

3. Iran klaim tetap izinkan kapal melintas

kapal di Selat Hormuz (MC2 Indra Beaufort, Public domain, via Wikimedia Commons)

Di sisi lain, Iran menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran internasional, meskipun ketegangan dengan Amerika Serikat dan sekutunya terus meningkat.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan, Teheran telah didekati sejumlah negara yang meminta jaminan keamanan bagi kapal mereka yang melintas di jalur tersebut.

Ia menyebut beberapa kapal dari berbagai negara telah diizinkan melintas, meskipun tidak merinci negara mana saja yang dimaksud.

Namun Iran menegaskan Selat Hormuz tidak terbuka bagi kapal-kapal milik Amerika Serikat maupun sekutunya.

Araghchi juga mengatakan Iran tidak melihat alasan untuk kembali berdialog dengan Amerika Serikat guna mengakhiri konflik yang sedang berlangsung.

Menurutnya, perang dipicu oleh serangan terkoordinasi Israel dan Amerika Serikat pada 28 Februari, ketika pembicaraan tidak langsung mengenai program nuklir Iran masih berlangsung.

Ia juga menambahkan Teheran tidak memiliki rencana untuk mengambil kembali uranium yang telah diperkaya yang kini terkubur di bawah reruntuhan akibat serangan AS dan Israel pada tahun lalu.

Editorial Team