Ganggu Pasokan Minyak, Prancis Desak Iran Buka Selat Hormuz

- Presiden Prancis Emmanuel Macron mendesak Iran segera membuka kembali Selat Hormuz agar pasokan minyak global tidak terganggu dan harga minyak dunia tetap stabil.
- Macron meminta Iran menghentikan agresi militernya di Timur Tengah serta mengedepankan dialog demi menjaga perdamaian dan keamanan kawasan.
- PBB mengecam keras serangan militer Iran ke negara-negara Teluk, sementara Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara terdampak.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Prancis mendesak Iran untuk kembali membuka Selat Hormuz. Desakan tersebut disampaikan secara langsung oleh Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dan ditujukan kepada Presiden Iran, Masoud Pezeshkian.
Menurut Macron, Iran harus segera menghentikan penutupan Selat Hormuz agar kapal-kapal dagang, terutama yang memasok minyak, bisa kembali berlayar di sana. Jika tidak, harga minyak global akan semakin naik.
"Kebebasan navigasi di Selat Hormuz harus dipulihkan sesegera mungkin. Hanya kerangka kerja politik dan keamanan baru yang dapat menjamin perdamaian dan keamanan bagi semua," kata Macron dalam sebuah unggahan di X yang dirilis pada Minggu (15/3/3036), seperti dilansir The Strait Times.
1. Macron juga mendesak Iran stop agresi militer di Timur Tengah

Dalam pernyataannya, Macron juga mendesak Iran dan para sekutunya, yakni Irak dan Lebanon, untuk menghentikan agresi militer di negara-negara Timur Tengah. Sebab, tindakan tersebut akan membuat situasi di Timur Tengah makin membara.
Macron ingin Iran lebih mengedepankan dialog daripada agresi militer. Sebab, menurutnya, cara tersebut lebih ampuh untuk menyelesaikan konflik daripada harus berperang dengan negara lain.
"Saya mengingatkan dia (Masoud Pezeshkian) bahwa Prancis bertindak dalam kerangka kerja defensif yang ketat yang bertujuan untuk melindungi kepentingannya, mitra regionalnya, dan kebebasan navigasi, dan bahwa tidak dapat diterima jika negara kita menjadi sasaran,” ucap Macron.
2. Iran menyerang negara-negara Timur Tengah untuk membasmi pangkalan militer AS

Saat ini, Iran memang sedang memperluas agresi militernya ke negara-negara Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Bahrain. Agresi tersebut dilakukan untuk membasmi pangkalan militer AS yang ada di negara-negara tadi.
Namun, dalam praktiknya, serangan Iran justru tidak hanya mengenai markas militer AS saja, tetapi juga mengenai fasilitas publik dan warga sipil yang ada di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Bahrain.
Pada 9 Maret lalu, misalnya, serangan Iran di Ibu Kota Bahrain, Manama, menewaskan 1 orang perempuan dan melukai 8 orang lainnya. Di sisi lain, serangan Iran di Arab Saudi pada 8 Maret menewaskan 2 orang dan melukai 12 lainnya.
3. PBB sudah mengecam agresi militer Iran di negara-negara Timur Tengah

Serangan Iran di negara-negara Timur Tengah, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Bahrain sebetulnya sudah dikecam banyak pihak. Salah satunya oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.
“Kami mengutuk keras serangan keji yang dilakukan oleh Republik Islam Iran terhadap negara-negara Teluk dan Yordania. Serangan tersebut merupakan pelanggaran hukum internasional dan ancaman serius terhadap perdamaian dan keamanan dunia," bunyi resolusi DK PBB yang disahkan pada 11 Maret, seperti dilansir Anadolu Agency.
Oleh karena itu, beberapa waktu lalu, Pezeshkian selaku Presiden Iran menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara yang sudah terkena serangan Iran. Ia juga mengajak semua negara di dunia, terutama yang berada di Timur Tengah, agar tidak bergabung dengan AS-Israel untuk menyerang Iran
"Saya secara pribadi meminta maaf kepada negara-negara tetangga yang terkena dampak serangan Iran," kata Pezeshkian dilansir France 24.
















