Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Trump Kecam Sekutu AS yang Tolak Kirim Pasukan ke Selat Hormuz
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/Gage Skidmore via commons.wikimedia.org/Gage Skidmore)
  • Donald Trump mengecam sekutu AS yang menolak ajakannya mengirim pasukan ke Selat Hormuz, menilai mereka tidak tahu berterima kasih atas perlindungan yang telah diberikan Amerika Serikat.
  • Beberapa negara seperti Jepang, Prancis, dan Jerman menolak atau ragu mengikuti ajakan Trump karena situasi Timur Tengah memanas serta alasan politik dan keamanan masing-masing.
  • Iran kini mengizinkan kapal dari negara non-perang berlayar terbatas di Selat Hormuz dengan syarat izin militer, meski sebelumnya penutupan wilayah itu sempat ganggu pasokan minyak global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengecam negara sekutu yang menolak ajakannya untuk mengirim pasukan ke Selat Hormuz. Trump menyebut negara-negara tersebut tidak tahu terima kasih. 

Sebagai sekutu, Trump mengklaim AS sudah melindungi negara-negara tersebut dari ancaman luar. Namun, mereka tidak membalas kebaikan tersebut dan malah menolak ajakan AS untuk mengirim pasukan ke Selat Hormuz. 

"Sebagian (negara) sangat antusias (untuk mengirim pasukan ke Selat Hormuz) dan sebagian lainnya tidak. Beberapa adalah negara yang telah kami bantu selama bertahun-tahun. Kami telah melindungi mereka dari ancaman luar yang mengerikan. Namun, mereka justru tidak begitu antusias. Tingkat antusiasme itu penting bagi saya," kaya Trump dilansir The Strait Times, Selasa (17/3/2026). 

1. Donald Trump mengajak sejumlah negara di dunia mengirim pasukan ke Selat Hormuz

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang menghadiri World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, pada 2020. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

Sebelumnya, Trump sudah mengajak sejumlah negara di dunia untuk mengirim pasukan ke Selat Hormuz. Beberapa di antaranya, seperti China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris. Selain itu, Trump juga mengajak Prancis dan Jerman. 

Langkah ini dilakukan untuk mengawal kapal-kapal minyak dan kapal dagang lainnya yang ingin berlayar di Selat Hormuz. Sebab, kapal-kapal tersebut tidak bisa berlayar di Selat Hormuz karena Iran menutup wilayah tersebut. 

“Semoga China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara-negara lain yang terdampak oleh kendala buatan ini akan mengirimkan kapal ke Selat Hormuz sehingga wilayah tersebut tidak lagi menjadi ancaman dari negara yang telah sepenuhnya dipenggal kepalanya," ujar Trump di laman Truth Social pribadinya dilansir Al Jazeera

2. Sejumlah negara belum memberikan kepastian bahkan ada yang menolak

potret Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi (commons.wikimedia.org/Cabinet Public Affairs Office)

Namun, hingga kini, sejumlah negara yang diajak Trump belum memberikan kepastian. Bahkan, beberapa negara justru menolak. Mereka tidak mau mengirim pasukan ke Selat Hormuz karena berbagai alasan. 

Jepang, misalnya. Saat ini, Jepang masih ragu mengikuti ajakan Trump untuk mengirim pasukan ke Selat Hormuz. Menurut Penasihat Senior Perdana Menteri Jepang, Takayuki Kobayashi, langkah tersebut akan mengalami banyak rintangan karena situasi di Timur Tengah sedang memanas akibat perang antara Iran dengan AS dan Israel.

Lain halnya dengan Prancis dan Jerman. Mereka sudah terang-terangan menolak mengirim pasukan ke Selat Hormuz. Menteri Pertahanan Prancis, Catherine Vautrin, dalam wawancara dengan France 24 yang dirilis pada 12 Maret 2026 dengan tegas mengatakan negaranya tidak akan mengirim pasukan ke selat tersebut. Di sisi lain, Jerman juga menolak. Sebab, mereka menilai tidak punya kewajiban untuk menuruti ajakan dari AS.

3. Iran sudah mengizinkan kapal-kapal berlayar di Selat Hormuz secara terbatas

potret Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/Goran_tek-en)

Sebagai informasi, tujuan Trump mengajak sekutunya mengirim pasukan ke Selat Hormuz adalah untuk mengamankan pasokan minyak global. Sebab, sejak Iran menutup Selat Hormuz, pasokan minyak dari Timur Tengah ke pasar global jadi terhambat. Ini membuat harga minyak melambung tinggi.

Namun, saat ini, Iran dikabarkan sudah mengizinkan kapal-kapal untuk berlayar di Selat Hormuz secara terbatas. Menurut Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, pihaknya mengizinkan kapal dari negara-negara yang tidak terlibat perang untuk berlayar di Selat Hormuz. Namun, mereka harus meminta izin kepada militer Iran terlebih dahulu. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team