Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Trump Ancam Hukum Negara NATO karena Tak Bantu AS Perangi Iran
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang berada di kantornya. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)
  • Donald Trump berencana menghukum negara anggota NATO yang tidak membantu AS dalam perang melawan Iran, termasuk kemungkinan menarik pasukan dari negara-negara tersebut.
  • Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte memahami kemarahan Trump, menjelaskan bahwa sebagian besar negara Eropa memilih netral demi menjaga perdamaian di Timur Tengah.
  • AS dan Iran telah menyepakati gencatan senjata dua pekan yang juga melibatkan Israel, namun Lebanon tidak termasuk sehingga serangan Israel ke wilayah itu masih berlanjut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dikabarkan berencana menghukum sejumlah negara anggota NATO karena tidak membantu negaranya selama berperang melawan Iran. Kabar tersebut disampaikan oleh Wall Street Journal (WSJ) berdasarkan informasi dari sejumlah pejabat AS pada Rabu (8/4/2026).

"NATO tidak ada di sana (Timur Tengah) ketika kita membutuhkannya. Mereka tidak akan ada di sana jika kita membutuhkannya lagi," bunyi pernyataan Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social.

Menurut laporan WSJ, salah satu hukuman yang akan diberikan Trump adalah menarik pasukan dari negara NATO yang tidak membantu AS memerangi Iran. Namun, tidak diketahui negara NATO mana yang dimaksud oleh Trump.

1. Sekretaris Jenderal NATO merespons ancaman Trump

potret Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte (flickr.com/Sebastiaan ter Burg via commons.wikimedia.org/Sebastiaan ter Burg)

Ancaman Trump tadi lantas direspons oleh Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte. Alih-alih mengecam, Rutte justru memaklumi amarah Trump. Sebab, negara-negara NATO memang memilih netral dan enggan memberikan bantuan militer aktif ke AS selama berperang melawan Iran.  

Rutte menjelaskan, negara-negara NATO telah diuji kesetiaannya terhadap AS selama mereka berperang melawan Iran. Namun, Rutte mengakui sejumlah negara NATO telah gagal melewati ujian tersebut.

Negara NATO tetap menolak membantu AS secara aktif untuk memerangi Iran. Sebab, mereka tidak mau mengganggu perdamaian di Timur Tengah. Kendati begitu, Rutte menjelaskan bahwa sejumlah negara NATO sebetulnya telah membantu AS selama berperang melawan Iran meski tidak secara langsung. 

"Beberapa di antaranya memang demikian. Namun, sebagian besar negara Eropa, dan itulah yang kita bahas hari ini, telah melakukan apa yang mereka janjikan sebelumnya dalam kasus seperti ini," kata Rutte kepada CNN.

2. Trump sudah menyetujui gencatan senjata dengan Iran

potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (commons.wikimedia.org/Spc. Dustin Biven)

Sebagai informasi, perang antara AS dan Iran kini sudah mereda. Sebab, Trump sudah menyepakati gencatan senjata dengan Iran selama 2 pekan pada Selasa (7/4/2026). Langkah ini diambil karena Iran sudah bersedia membuka Selat Hormuz untuk kapal-kapal dari semua negara. Gencatan senjata ini juga melibatkan Israel.

“Selama dua minggu, jalur aman melalui Selat Hormuz akan dimungkinkan melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran dan dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis,” kata Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Aragchi, soal pembukaan Selat Hormuz dilansir Times of Israel.

Gencatan senjata ini disambut baik oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Netanyahu mengatakan, keputusan itu sangat berguna bagi AS, Israel, dan Iran untuk mengakhiri perang.

3. Lebanon tidak ikut serta dalam gencatan senjata

potret bendera Lebanon (pexels.com/Jo Kassis)

Namun, AS dan Israel menegaskan, Lebanon tidak disertakan dalam kesepakatan gencatan senjata yang sudah disetujui dengan Iran. Oleh karena itu, Israel hingga kini masih terus menyerang Lebanon. Padahal, menurut Iran, dokumen gencatan senjata yang diberikan AS sudah melibatkan Lebanon. 

Serangan terbaru Israel ke Lebanon terjadi pada Rabu. Saat itu, Israel melancarkan lebih dari 100 serangan udara ke sejumlah wilayah di Lebanon. Serangan tersebut menewaskan 256 orang dan melukai 1.165 lainnya.    

Serangan Israel ke Lebanon ini dikecam oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sebab, serangan tersebut bakal mengganggu kesepakatan gencatan senjata yang telah disetujui AS.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team